Meski Minim Pesanan, Perajin Rekal di Bantul Tetap Bertahan

Ia mengatakan awalnya warga Krebet memang sudah banyak yang menggarap rekal kayu, tetapi masih polos.

Editor: Amalia Nurul F
Tribun Jogja/Christi Mahatma Wardhani
Salah satu perajin batik kayu sedang menghias rekal dengan batik di Sanggar Peni, Padukuhan Krebet, Kalurahan Sendangsari, Kapanewon Pajangan, Kamis (15/04/2021). 

TRIBUNTRAVEL.COM - Perajin rekal di Padukuhan Krebet, Kalurahan Sendangsari, kapanewon Pajangan, Kabupaten Bantul terus bertahan di tengah pandemi COVID-19.

Rekal ialah alas untuk membaca Alquran.

Salah satu perajin rekal yang masih bertahan ialah Kemiskidi.

Rekal buatan pria 59 tahun tersebut cukup unik. Umumnya rekal terbuat dari kayu dan terdapat hiasan ukir-ukiran.

Namun berbeda dengan rekal Kemiskidi yang dihiasi dengan batik tulis.

Padukuhan Krebet memang terkenal dengan batik kayunya. Tak heran Kemiskidi juga menekuni seni batik kayu.

Ia mengatakan awalnya warga Krebet memang sudah banyak yang menggarap rekal kayu, tetapi masih polos.

Sedangkan dirinya mulai membatik dengan media kayu sejak 1989.

"Sudah sejak lama warga menggarap rekal, tetapi polos. Kalau membuat rekal dengan motif batik sekitar tahun 90an,"katanya, Kamis (15/04/2021).

Di Sanggar Peni milik Kemikidi, para karyawan membatik rekal secara perlahan.

Sebelum dibatik, para kasyrawan menggambar motif terlebih dahulu.

Setelah itu karyawan mulai membatik mengikuti motif yang sudah ada.

Ada dua jenis kayu yang digunakan untuk membuat rekal, yaitu kayu sengon dan kayu jati.

Perbedaan jenis kayu tersebut berpengaruh pada harga rekal.

Untuk harga rekal dari kayu sengon, ia mematok harga dari Rp50.000 hingga Rp75.000.

Sedangkan untuk kayu jati, ia mematok harga sekitar Rp100.000.

Ia mengungkapkan dampak pandemi sangat dirasakan olehnya, terututama dari sisi pesanan. Pesanan selama pandemi COVID-19 sangat sedikit, berbeda dengan sebelum pandemi.

"Saat ini ada pesanan 24 rekal, pesanan lokal untuk hajatan. Pesanan awal bulan lalu, saat ini masih dikerjakan," ujarnya.

Berbeda dengan sebelumnya bisa 50 sampai 100 pesanan.

Jadi memang menurun drastis. Tetapi alhamdulilah masih jalan sedikit-sedikit," ungkapnya.

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved