Warga Kauman Bantul Lestarikan Tradisi Takjil Bubur Sayur Lodeh dan Jam Matahari

Meski di tengah kemajuan zaman warga Padukuhan Kauman masih melestarikan tradisi peninggalan Panembahan Bodho.

Editor: Amalia Nurul F
Tribun Jogja/Christi Mahatma Wardhani
Warga Padukuhan Kauman, Kalurahan Wirirejo, Kapanewon Pandak, Bantul memasak takjil bubur di Masjid Sabiilurrosyaad peninggalan Panembahan Bodho, Rabu (14/04/2021). 

TRIBUNTRAVEL.COM - Setiap masjid memiliki cara unik untuk menyemarakan ramadan.

Salah satunya adalah Masjid Sabiilurrosyaad yang terletak di Padukuhan Kauman, Kalurahan Wijirejo, Pandak, Kabupaten Bantul.

Meski di tengah kemajuan zaman warga Padukuhan Kauman masih melestarikan tradisi peninggalan Panembahan Bodho.

Salah satu peninggalan yang hingga kini masih dilestarikan adalah takjil bubur sayur lodeh.

Tradisi takjil bubur sayur lodeh sempat dihentikan pada tahun 2020 lalu karena pandemi COVID-19. Namun saat ini tradisi bubur takjil kembali dilaksanakan.

Ketua Takmir Masjid Sabiilurrosyaad, Haryadi mengatakan takjil bubur sayur lodeh memiliki makna yang adiluhung bagi warga Kauman.

Untuk itu warga berusaha untuk terus melestarikan tradisi tersebut, apalagi sudah turun-temurun.

"Takjil bubur memang sempat tidak ada tahun 2020. Tidak hanya takjil bubur, seluruh kegiatan masjid ditiadakan karena pandemi COVID-19," tuturnya, Rabu (14/04/2021).

"Tetapi karena saat ini ibadah sudah diperbolehkan, maka takjil bubur kembali dilaksanakan," katanya.

Ia menerangkan bubur diambil dari bahasa Arab, yaitu bibirin yang berarti bagus.

Artinya ketika warga datang ke masjid akan mendapatkan hal baik.

Bubur juga diambil dari kata beber, yang artinya setiap orang yang datang ke masjid akan mendapat penjelasan agama Islam.

Selain itu, bubur juga diambil dari kata babar, yang berarti ekonomis.

Untuk membuat bubur tidak memerlukan banyak bahan. Meski hanya dengan sedikit bahan, namun dapat merata.

Tekstur bubur yang lembut juga memiliki makna tersendiri.

Artinya agama Islam harus disampaikan dengan cara lemah lembut, tanpa kekerasan, sehingga mudah dicerna.

"Warga Kauman sudah terbiasa berbuka puasa dengan takjil bubur, sudah nyaman. Nanti lauknya sayur lodeh, tetapi terkadang ada warga yang nyumbang telur, atau yang lain. Jadi lauknya menyesuikan, Tetapi yang pasti ada buburnya," terangnya.

Dengan adanya pandemi COVID-19, tidak seluruh warga Kauman bisa menikmati, sebab takjil hanya dibatasi untuk 100 orang saja.

Bubur takjil terbatas untuk anak-anak, remaja, dan orangtua yang biasa menjadi jemaah di masjid.

"Biasanya bisa mencapai 500 porsi lebih. Kalau saat ini kan harus menerapkan protokol kesehatan, jadi harus ada jaga jarak," ungkapnya.

"Sebelum membagikan takjil ada pengajian dulu untuk anak-anak dan remaja, palingan ditambah orangtua yang jadi jemaah sini. Rata-rata sehari hanya 100 porsi," ujarnya.

Selain bubur takjil, peninggalan Panembahan Bodho lainnya adalah jam matahari untuk menentukan waktu salat.

Jam matahari tersebut berbentuk setengah lingkaran. Di tengah jam tersebut ada sebuah paku yang menancap.

Bayangan paku tersebut yang menjadi acuan, sebab bayangan paku akan akan menunjukkan waktu shalat.

"Saat ini masih digunakan, karena kalau mengacu pada televisi atau radio bisa berubah-ubah. Jam ini hanya menunjukkan waktu salat saja, berbeda sedikit dengan jam biasanya," paparnya.

"Misalnya jam 12 pas titik matahari, tetapi kalau jam biasanya bisa jam 11.40an. Jadi istiwak itu adalah waktu ibadah," bebernya.

"Kalau  bayangannya sudah tidak ada berarti sudah waktunya magrib," kata dia.

"Tetapi kalau nanti bayangan nanti muncul lagi, artinya setelah subuh. Karena waktu salat subuh adalah sebelum matahari terbit," sambungnya.

Ia berharap warga Kauman bisa terus melestarikan tradisi takjil bubur dan terus merawat jam matahari seperi saat ini. (Tribun Jogja/Christi Mahatma Wardhani)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved