Satu Tahun Pandemi Covid-19, Usaha Kuliner di DIY Mulai Menggeliat

Kondisi banyak restoran, kafe dan warung makan di DIY mulai mengalami kenaikan jika dibanding tahun 2020, atau bahkan satu bulan lalu.

Editor: Amalia Nurul F
Tribun Jogja/Alexander Aprita
Kuliner Bakso Tumpeng di Patuk, Gunungkidul yang menggugah selera. 

TRIBUNTRAVEL.COM - Satu tahun lebih pandemi Covid-19 menghantam Indonesia.

Banyak usaha yang gulung tikar imbas dari pandemi Covid-19 yang tidak memperbolehkan kerumunan dan wajib menjaga jarak.

Di DIY,  hotel yang biasanya penuh dengan wisatawan, mau tidak mau harus mencari cara lain untuk tetap bisa bertahan karena turis tidak ada yang boleh melancong.

Banyak dari mereka yang menjual paket isolasi mandiri selama 14 hari dengan harga terjangkau.

Konser yang membutuhkan antusias dari kerumunan, harus dilaksanakan secara daring agar tidak menjadi klaster Covid-19 baru.

Praktis, tidak ada yel-yel terdengar di depan panggung untuk menyemangati idola bernyanyi.

Begitu pula dengan sejumlah mal yang wajib membatasi kedatangan pengunjung supaya ada jarak satu sama lain ketika berbelanja di dalam gedung.

Namun, tahun 2021 ini menjadi harapan bagi semua pelaku usaha.

Pemerintah sudah menggelar vaksinasi masal untuk mencapai kekebalan komunitas.

Dengan begitu, masyarakat bisa beraktivitas seperti sedia kala dan usaha mampu bergeliat kembali.

“Kami merasakan kenaikan konsumen hingga 60 persen dibandingkan tahun lalu dan sekitar 20 persen dari bulan Maret 2021,” ungkap Konsultan Pemasaran Restoran dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di DIY, Khairul Anwar, Sabtu (10/9/2021).

Ia tidak memungkiri, kondisi banyak restoran, kafe, dan warung makan di DIY mulai mengalami kenaikan jika dibanding tahun 2020, atau bahkan satu bulan lalu.

Kenaikan itu terlihat dari kurva pendapatan restoran yang didapatkan dari penjualan ke masyarakat baik yang makan di tempat atau menggunakan jasa pesan antar.

“Kepercayaan masyarakat akan penerapan protokol kesehatan, higienitas yang ditunjukkan dengan baik menjadi pokok penting yang restoran perlu kedepankan agar memiliki hasil yang progresif,” jelasnya lagi.

Selain kedua hal itu, adapula poin yang membuat publik berkenan membeli makanan dari restoran, yakni konsistensi kualitas makanan, kesesuaian harga, variasi menu, dan lokasi.

Bahkan, di masa Ramadan tahun ini, banyak restoran independen atau di dalam hotel yang telah mempromosikan paket buka puasa bersama.

“Mereka pasti sudah menerapkan protokol kesehatan ketat. Misal, tamu wajib menggunakan masker dan cuci tangan. Meja satu dan lainnya berjauhan. Pasti sudah dipikirkan,” tutur Khairul.

Penyesuaian itu wajib dilakukan oleh restoran dan pelaku industri kuliner lainnya agar tetap bisa bertahan di masa krisis.

“Pada dasarnya, manusia adalah makhluk sosial yang memang menyukai kebersamaan dalam banyak hal. Ini butuh penyesuaian untuk saling menjaga,” jelasnya.

Geliat kebangkitan di industri kuliner di DIY juga tidak terlepas dari keterbiasaan masyarakat dengan protokol kesehatan (prokes).

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved