Pameran 'Tahta untuk Rakyat, Sri Sultan Hamengku Buwono IX'

Pameran bertajuk 'Tahta untuk Rakyat, Sri Sultan Hamengku Buwono IX' di Jogja Gallery, Prawirodirjan, Gondomanan, Yogyakarta, dari tanggal 20 Maret hi

Editor: Amalia Nurul F
Tribun Jogja/Hanif Suryo
Pameran bertajuk 'Tahta untuk Rakyat, Sri Sultan Hamengku Buwono IX' di Jogja Gallery, Prawirodirjan, Gondomanan, Yogyakarta, dari tanggal 20 Maret hingga 25 April 2021 mendatang. 

Ini lantaran seluruhnya merupakan cerminan otobiografi seorang Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

Dalam menghadirkan karya, Suwarno tidak terlalu membatasi ide kreatif seniman.

Seluruhnya dibebaskan memiliki interpretasi yang berbeda. Bahkan sosok Sri Sultan Hamengku Buwono IX tidak perlu dihadirkan dalam wujud lukisan portrait.

"Seniman yang dipilih dianggap bisa menerjemahkan narasi yang diberikan. Jadi para seniman ini memang bekerja dengan dipandu oleh narasi," ujarnya.

Momen Bersejarah

Satu di antara momen bersejarah yang jadi inspirasi salah seorang seniman ialah peristiwa saat Sri Sultan Hamengku Buwono IX menandatangani Kontrak Politik dengan Pemerintah Penjajah Belanda.

Konon, peristiwa itu bertepatan dengan Penobatan beliau menjadi Raja Jogja, di tahun 1940-an, HB 9 mendapatkan wangsit atau “Bisikan” bahwa Belanda 'Akan Angkat Kaki Dari Bumi Nusantara', sehingga tanpa ragu beliau langsung tanda tangan tanpa menelaah isinya.

Hal itu yang menginspirasi seniman Bambang Heras yang lantas menuangkan momentum bersejarah tersebut kedalam lukisan diatas sehelai kanvas besar berukuran 140x200 sentimeter memakai Akrilik, Cat Minyak dan Tinta China, diberi judul “Langit Biru Diatas Keraton Yogyakarta”, karyanya tahun 2021.

Bambang Heras mengakui bahwa judul lukisannya itu bermakna “Belanda Akan Pergi”.

Ternyata benar, pada tahun 1945, Belanda yang telah mencengkeram Ibu Pertiwi sangat lama yakni sekitar 350 tahun, atau empat generasi bangsa menjadi bangsa jajahannya, tanpa dinyana harus hengkang dari Bumi Nusantara, karena bangsa yang menjadi jajahannya yakni bangsa Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaannya dan mempunyai negara sendiri terbebas dari penjajahan, yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia, hingga kini.

"Sultan HB 9 itu sosok yang hebat pada zamannya. Pada lukisan saya, beliau membawa naskah Kontrak Politik yang telah ditandatanganinya dalam gulungan, tidak dibeberkan sebagaimana seharusnya, karena dianggap tidak penting lagi setelah beliau yakin Belanda Akan Pergi," ungkap Bambang Heras.

Beda cerita dengan pelukis Ignasius Dicky Takndare yang telah 16 tahun tinggal di Yogyakarta.

Meski seniman asal Papua itu tak mengalami masa HB IX, ia menggali kesaksian masyarakat yang sempat mengalami kepemimpinannya.

Tercetuslah lukisan Dicky bertajuk Mbah Mugi. Sosok perempuan paruh baya berkerudung merah dalam lukisan Dicky itu tampak sedang memegang potret HB IX dengan balutan jas hitam formal kala menjadi wakil presiden Indonesia di tahun 1973-1978.

Di dinding yang berada di belakang sosok perempuan lukisan Dicky itu tertulis, 'Terima Kos Segala Bangsa'. Seakan menggambarkan kondisi Yogya yang telah menjadi rumah kedua jutaan pendatang berbagai suku Indonesia sejak masa HB IX.

“Saya coba menuangkan seluruh pengalaman saya selama 16 tahun tinggal di Yogya, dari perjumpaan orang-orangnya, melalui lukisan ini," ujar Dicky. (Tribun Jogja/Hanif Suryo)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved