Pameran 'Tahta untuk Rakyat, Sri Sultan Hamengku Buwono IX'

Pameran bertajuk 'Tahta untuk Rakyat, Sri Sultan Hamengku Buwono IX' di Jogja Gallery, Prawirodirjan, Gondomanan, Yogyakarta, dari tanggal 20 Maret hi

Editor: Amalia Nurul F
Tribun Jogja/Hanif Suryo
Pameran bertajuk 'Tahta untuk Rakyat, Sri Sultan Hamengku Buwono IX' di Jogja Gallery, Prawirodirjan, Gondomanan, Yogyakarta, dari tanggal 20 Maret hingga 25 April 2021 mendatang. 

TRIBUNTRAVEL.COM - Figur Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebagai pemimpin yang dekat dengan rakyat tersirat jelas dari karya-karya seni yang dipamerkan dalam pameran bertajuk 'Tahta untuk Rakyat, Sri Sultan Hamengku Buwono IX' di Jogja Gallery, Prawirodirjan, Gondomanan, Yogyakarta, dari tanggal 20 Maret hingga 25 April 2021 mendatang.

Ketua Pameran Kanjeng Raden Mas Tumenggung (KRMT) Indro Kimpling Suseno mengatakan, 'Tahta untuk Rakyat, Sri Sultan Hamengku Buwono IX' ini menggambar bagaimana sosok Ngarso Dalem IX menjadi milik rakyat dan juga bangsa Indonesia.

Sosok yang dilahirkan sebagai putra raja lalu kemudian akhirnya menjadi raja.

"Walau ditakdirkan sebagai raja, sosok HB IX, tak terkekang kekakuan monarki. Terbukti dengan sikap yang sederhana dan merakyat selama sebelum hingga menjadi Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Kedekatan dengan rakyat membuat sosok ini dekat di hati masyarakatnya," ujar KRMT Indro Kimpling Suseno beberapa waktu lalu.

Dalam pameran ini, sebanyak 37 seniman ambil bagian merepresentasikan figur Sri Sultan Hamengku Buwono IX  dalam berbagai bentuk karya seni, yang didominasi karya lukis.

Narasi dimulai dari masa kanak-kanak, sekolah, merantau, studi ke Eropa sampai kembali ke Yogyakarta dan ditahbiskan sebagai raja hingga wafatnya.  

Mereka di antaranya, Agus Triyanto BR, Antino Restu Aji, Bambang Sudarto, Chandra Rosselinni, Dadi Setiyadi, Digie Sigit, Djoko Pekik, Dyan Anggraini, Eddy Sulistyo, Fika Khoirun Nisa, Galam Zulkifli, Galuh Taji Malela, Gregorius Djoko Susilo, Gusmen Heriadi, Haris Purnomo, Ignasius Dicky Takndare, Iwan Yusuf, Mahdi Abdullah, Muhammad Andik “Gus Black”, Probo, Pupuk Daru Purnomo, Reza Pratisca Hasibuan, Robi Fathoni, Ronald Manulang, Rosit Mulyadi, Setyo Priyo Nugroho, Sigit Raharjo, Suharmanto, Suroso Isur, Surya Darma, Suryadi Suyamtina, Totok Buchori, Tumariyanto, Ugy Sugiarto, dan Valdo Manullang. Bertindak selaku kurator yakni, Dr Suwarno Wisetrotomo (dari sisi seni) dan Dr Sri Margana M Phil (dari sisi sejarah).

Dari karya-karya yang dipamerkan, tercermin pula figur Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang begitu lekat dengan beberapa bidang dari sepak bola, Pramuka, fotografi, kemiliteran hingga politik.

"Paling pribadi adalah nilai kerakyatan, sangat membela dan berpihak pada rakyat kecil. Memiliki nasionalisme tinggi, bagaimana membantu kemerdekaan Indonesia. Menerima Presiden kala itu Ir Soekarno dan pemindahan ibu kota negara dengan penuh risiko," katanya.

Nilai-nilai inilah yang coba diimplementasikan oleh para seniman.

Sumber: Tribun Jogja

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved