Mengenal Bedhaya Mintaraga, Tarian Ciptaan Sri Sultan Hamengku Buwono X

Tarian ini merupakan Yasan Dalem atau karya Sri Sultan, karena Ngarsa Dalem lah yang menuangkan ide dasar penciptaan ke dalam jalan cerita tarian.

Editor: Amalia Nurul F
Istimewa
Gladhi Resik Bedhaya Mintaraga pada Rabu (7/4/2021). 

TRIBUNTRAVEL.COM - Sri Sultan Hamengku Buwono X menciptakan tarian baru yang diilhami dari Serat Lenggahing Harjuna yakni Bedhaya Mintaraga

Bedhaya Mintaraga dipentaskan untuk kali pertama pada Sabtu, 10 April 2021 sebagai resepsi peringatan kenaikan takhta ke-32 dan ulang tahun ke-75 Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Tarian ini merupakan Yasan Dalem atau karya Sri Sultan, karena Ngarsa Dalem lah yang menuangkan ide dasar penciptaan ke dalam jalan cerita tarian tersebut.

Pamucal Beksa KHP Kridhomardowo, Nyi KRT. Dwijosasmintomurti menuturkan, tari yang diilhami dari Serat Lenggahing Harjuna tersebut ditulis Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai bentuk piwulang atau pengajaran. 

"Mintaraga adalah nama lain tokoh pewayangan Raden Harjuna, saat sedang bertapa di Gua Indrakila," terang Nyi KRT. Dwijosasmintomurti .

Penyematan gelar Mintaraga kepada Raden Harjuna tidak lepas dari mesu budi, yang bermakna usaha mengendalikan hawa nafsu jasmani maupun rohani.

Pangarso Golongan Wiyaga atau Panata Gendhing KHP Kridhomardowo MW Susilomadyo menambahkan, Bedhaya ini menggunakan iringan utama Gendhing Danasmara Laras Slendro Pathet Sanga.

Komposisi gendhing diawali dengan Lagon Wetah, lalu disambung Gati Retnadi, Kawin Sekar Nrangbaya, pembacaan Kandha, Bawa Swara Sekar Ageng Dhadhap Mantep, Gendhing Danasmara, Ladrang Dana Wikara, Bawa Swara Sekar Tengahan Hagnirastra, Ketawang Palguna (Kemanakan), Ayak-ayak Srepegan, Monggang, Ketawang Mandrawa, Lagon Pagagan, dan diakhiri dengan Gati Surendra serta Lagon Jugag.

Untuk mengiring lampah kapang-kapang (masuk dan keluarnya penari), pagelaran Bedhaya Mintaraga menggunakan Gendhing Gati baru berlaras Slendro Sanga, yakni Ladrang Gati Retnadi (kapang-kapang maju) dan Ladrang Gati Surendra (kapang-kapang mundur).

"Gendhing-gendhing tersebut ditabuh dari gamelan Kanjeng Kiai Surak. Kanjeng Kiai Surak merupakan salah satu gamelan berlaras slendro tertua yang dimiliki oleh Keraton Yogyakarta," jelasnya.

Sumber: Tribun Jogja

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved