Indonesia Menjadi Inisiator Tahun Internasional Ekonomi Kreatif Dunia

Cerahnya nama Indonesia pada sektor ekonomi kreatif dunia tidak lahir dari proses yang singkat.

Editor: Amalia Nurul F
Tribun Jogja/Alexander Aprita
Motif Topeng Panji khas Putat, Patuk, Gunungkidul yang dikerjakan oleh kelompok pengrajin batik. 

TRIBUNTRAVEL.COM - Indonesia menjadi inisiator untuk mendorong kebangkitan sektor ekonomi kreatif dunia.

Tahun ini pun menjadi momen yang penting sekaligus menantang bagi sektor ekonomi kreatif Indonesia.

Pasalnya, 2021 telah ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) sebagai Tahun Internasional Ekonomi Kreatif melalui Resolusi Umum PBB N0 74/198.

Paling membanggakan, Indonesia memprakarsai resolusi PBB mengenai kemajuan ekonomi kreatif dunia tersebut.

Mengutip Kompas.com, penetapan itu disampaikan dalam pertemuan Friends of Creative Economy (FCE) pada Rabu (11/11/2020).

Indonesia pun diharapkan mampu mendorong implementasi Tahun Internasional Ekonomi Kreatif Dunia 2021 secara efektif, baik bagi pemulihan sektor ekonomi kreatif maupun ekonomi dunia.

Dalam pertemuan FCE yang berlangsung pada 11-12 November 2020, Indonesia diwakili oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) yang berkolaborasi dengan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu).

Acara tersebut dilangsungkan secara hybrid, yakni kombinasi antara pertemuan virtual dan fisik.

Sebagai informasi, pertemuan FCE pertama kali diadakan pada 6 November 2018, sebelum digelarnya World Conference on Creative Economy (WCCE).

Dalam pertemuan FCE 2020, topik bahasan forum merujuk pada persiapan pelaksanaan Tahun Internasional Ekonomi Kreatif 2021.

Acara ini dihadiri perwakilan dari 55 negara dan 8 organisasi internasional.

Pesertanya pun terdiri dari beragam latar belakang, mulai dari pelaku ekonomi kreatif, pemerintahan, organisasi internasional, hingga akademisi.

Dalam pertemuan tersebut, Indonesia mengusulkan tema “Inclusively Creative: A Global Recovery”.

Tema ini dipilih mengingat ekonomi kreatif memiliki potensi besar terhadap pemulihan ekonomi global.

Dalam pembukaan pertemuan FCE 2020, Wakil Menteri Parekraf (Wamenparekraf) Angela Tanoesoedibjo menjelaskan arti kata inklusivitas dalam tema yang diusulkan.

“Kata inklusivitas berasal dari keyakinan bahwa melalui pemberian kesempatan yang sama tanpa memandang latar belakang, ekonomi kreatif akan menjembatani kekompakkan antarmasyarakat,” ujar Angela dalam rilis resminya, Selasa (6/4/2021).

Perkembangan ekonomi kreatif

Cerahnya nama Indonesia pada sektor ekonomi kreatif dunia tidak lahir dari proses yang singkat.

Nama besar Indonesia tercipta berkat upaya menyeluruh pelaku ekonomi kreatif pada tahun-tahun sebelumnya. Tidak heran, saat ini Indonesia dianggap sebagai pelopor revolusi industri kreatif dunia.

Hal itu dapat dibuktikan dari perkembangan ekonomi kreatif di Indonesia yang terus meningkat secara signifikan setiap tahunnya.

Menurut data laporan OPUS Ekonomi Kreatif 2020, kontribusi subsektor ekonomi kreatif pada produk domestik bruto (PDB) nasional mencapai Rp1.211 triliun.

Mengutip Kompas.id, angka tersebut meningkat dari 2017 yang hanya meraih Rp1.000 triliun dan 2018 sebesar Rp1.105 triliun.

Torehan angka tersebut membawa Indonesia menduduki posisi ketiga terbesar di dunia dalam konteks kontribusi sektor ekonomi kreatif terhadap PDB.

Sementara itu, dua posisi teratas ditempati oleh Amerika Serikat dan Korea Selatan.

Meski menempati posisi ketiga, Indonesia justru lebih unggul dari Amerika Serikat dari segi serapan tenaga kerja pada sektor ekonomi kreatif.

Menurut laman Good News From Indonesia, sektor ekonomi kreatif Indonesia mampu menyerap hingga 17 juta tenaga kerja pada 2019.

Angka itu jauh lebih tinggi dibandingkan Amerika Serikat yang hanya memiliki 4,7 juta pekerja pada sektor ekonomi kreatif.

Maka, sudah sepantasnya jika Indonesia menjadi inisiator Tahun Internasional Ekonomi Kreatif Dunia.

Subsektor unggulan

Dalam upaya mendapatkan hasil terbaik, terutama dalam hal pendapatan, pemerintah fokus pada pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia.

Berdasarkan Laporan Kinerja Badan Ekonomi Kreatif 2019, pengembangan tersebut berfokus pada subsektor unggulan dan subsektor prioritas dari 17 subsektor ekonomi kreatif.

Subsektor unggulan ekonomi kreatif merujuk pada sektor-sektor yang memberikan kontribusi besar pada PDB nasional, seperti kriya, kuliner, dan fesyen.

Sedangkan sektor prioritas adalah subsektor yang berperan sebagai penyokong sektor ekonomi kreatif lainnya.

Sektor prioritas mencakup subsektor film, animasi, dan video; subsektor musik; serta subsektor aplikasi dan pengembang permainan.

Namun, untuk menjadi pionir ekonomi kreatif dunia, tidak cukup hanya dengan memberlakukan sistem subsektor prioritas dan unggulan saja, Kemenparekraf/Baparekraf pun tidak dapat berjalan sendiri.

Perlu kolaborasi dengan seluruh elemen pentahelix, salah satunya masyarakat.

Oleh karena itu, dukung selalu ekonomi kreatif dalam negeri dengan melalui gerakan #BanggaBuatanIndonesia dan #BeliKreatifLokal. (*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Bangga, Indonesia Jadi Inisiator Tahun Internasional Ekonomi Kreatif Dunia".

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved