Indonesia Menjadi Inisiator Tahun Internasional Ekonomi Kreatif Dunia

Cerahnya nama Indonesia pada sektor ekonomi kreatif dunia tidak lahir dari proses yang singkat.

Editor: Amalia Nurul F
Tribun Jogja/Alexander Aprita
Motif Topeng Panji khas Putat, Patuk, Gunungkidul yang dikerjakan oleh kelompok pengrajin batik. 

Menurut data laporan OPUS Ekonomi Kreatif 2020, kontribusi subsektor ekonomi kreatif pada produk domestik bruto (PDB) nasional mencapai Rp1.211 triliun.

Mengutip Kompas.id, angka tersebut meningkat dari 2017 yang hanya meraih Rp1.000 triliun dan 2018 sebesar Rp1.105 triliun.

Torehan angka tersebut membawa Indonesia menduduki posisi ketiga terbesar di dunia dalam konteks kontribusi sektor ekonomi kreatif terhadap PDB.

Sementara itu, dua posisi teratas ditempati oleh Amerika Serikat dan Korea Selatan.

Meski menempati posisi ketiga, Indonesia justru lebih unggul dari Amerika Serikat dari segi serapan tenaga kerja pada sektor ekonomi kreatif.

Menurut laman Good News From Indonesia, sektor ekonomi kreatif Indonesia mampu menyerap hingga 17 juta tenaga kerja pada 2019.

Angka itu jauh lebih tinggi dibandingkan Amerika Serikat yang hanya memiliki 4,7 juta pekerja pada sektor ekonomi kreatif.

Maka, sudah sepantasnya jika Indonesia menjadi inisiator Tahun Internasional Ekonomi Kreatif Dunia.

Subsektor unggulan

Dalam upaya mendapatkan hasil terbaik, terutama dalam hal pendapatan, pemerintah fokus pada pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia.

Berdasarkan Laporan Kinerja Badan Ekonomi Kreatif 2019, pengembangan tersebut berfokus pada subsektor unggulan dan subsektor prioritas dari 17 subsektor ekonomi kreatif.

Subsektor unggulan ekonomi kreatif merujuk pada sektor-sektor yang memberikan kontribusi besar pada PDB nasional, seperti kriya, kuliner, dan fesyen.

Sedangkan sektor prioritas adalah subsektor yang berperan sebagai penyokong sektor ekonomi kreatif lainnya.

Sektor prioritas mencakup subsektor film, animasi, dan video; subsektor musik; serta subsektor aplikasi dan pengembang permainan.

Namun, untuk menjadi pionir ekonomi kreatif dunia, tidak cukup hanya dengan memberlakukan sistem subsektor prioritas dan unggulan saja, Kemenparekraf/Baparekraf pun tidak dapat berjalan sendiri.

Perlu kolaborasi dengan seluruh elemen pentahelix, salah satunya masyarakat.

Oleh karena itu, dukung selalu ekonomi kreatif dalam negeri dengan melalui gerakan #BanggaBuatanIndonesia dan #BeliKreatifLokal. (*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Bangga, Indonesia Jadi Inisiator Tahun Internasional Ekonomi Kreatif Dunia".

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved