Melihat Gaya Jamuan Kenegaraan ala Keraton Yogyakarta dalam Pameran Bojakrama

Botol sampanye, sendok salad, cangkir teh, dan koleksi lainnya menandai perjalanan waktu Keraton Yogyakarta berakulturasi dengan banyak kebudayaan.

Editor: Amalia Nurul F
Tribun Jogja/Ardhike Indah
Pameran Bojakrama di Komplek Kedhaton memperlihatkan gaya perjamuan kenegaraan di Keraton Yogyakarta. 

TRIBUNTRAVEL.COM - Eksistensi Keraton Yogyakarta sejak abad 18 menciptakan proses akulturasi budaya yang menarik untuk disimak.

Sebagai istana resmi Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, proses akulturasi di ranah internal ternyata banyak dipengaruhi oleh tamu-tamu kenegaraan yang hadir ke DI Yogyakarta pada masa itu.

Dalam pameran temporer bertema ‘Bojakrama: Jamuan Kenegaraan Keraton Yogyakarta’, terlihat bahwa budaya perjamuan di Keraton Yogyakarta mampu beradaptasi dengan gaya tamu yang berkunjung.

Raja yang bertahta bisa menyesuaikan budaya menjamu tamu asing tanpa meninggalkan budaya dari Keraton Yogyakarta yang kental dengan nuansa Islam.

Botol sampanye, sendok salad, cangkir teh, dan koleksi antik lainnya menandai perjalanan waktu Keraton Yogyakarta berakulturasi dengan banyak kebudayaan.

“Tradisi jamuan di Yogyakarta pasca pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono I itu memang terus berkembang,” ungkap Kurator Pameran, Fajar Wijanarko di Komplek Kedhaton Keraton Yogyakarta, Jumat (2/4/2021).

Sri Sultan Hamengku Buwono I memerintah sejak 1755-1792. Di masa itu, Keraton Yogyakarta sudah mulai menerima banyak tamu asing, khususnya dari Eropa.

Namun, mereka tetap mempertahankan tradisi perjamuan, seperti dhahar kembul.

Dhahar kembul merupakan budaya makan bersama dengan lauk yang terdiri dari sayuran, nasi, dan daging unggas.

Saat itu, Sultan tetap menjalankan agenda dhahar kembul, dhahar ageng hingga dhahar warna-warni.

Sumber: Tribun Jogja

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved