Manisnya Industri Gula Masa Lalu, Warga Klaten Buat Gula Cair

Seorang warga Klaten tertantang untuk kembali membangkitkan industri gula di Klaten yang telah tertidur puluhan tahun lamanya.

Editor: Amalia Nurul F
Tribun Jogja/Almurfi Syofyan
Joko Budi Wiryono menunjukan produk gula cair buatannya saat ditemui Tribun Jogja di rumahnya, di Desa Malangjiwan, Kecamatan Kebonarum, Kabupaten Klaten, Sabtu (3/4/2021). 

Setelah itu, ditambahkan unsur-unsur alami untuk mengikat padatan nira tebu sehingga menghasilkan nira jernih kualitas terbaik.  

"Pada tahun 2012 ini lah kami mulai memproduksi gula cair tersebut," ujar pria yang tinggal di Desa Malangjiwan, Kecamatan Kebonarum, Sabtu (3/4/2021).

Menurut sarjana Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret (UNS) itu, pada tahun 2012 dirinya mendirikan usaha kecil menengah (UKM) di Semarang, Jawa Tengah.

Produksi gula cair itu pun berjalan cukup lancar dan telah di pasarkan ke sejumlah wilayah di Indonesia.

Menjelang Desember 2020, Joko Budi diminta oleh Kepala Desa Malangjiwan, Suprianto untuk pulang kampung untuk membangun usaha itu di sana.

Butuh enam kali pertemuan antara Suprianto dengan Joko Budi, hingga akhirnya ia mau pulang ke kampungnya dan membangun usaha gula cair di desa itu.

Gula cair yang dibuat Joko Budi bernaung di bawah PT Gula Energi Nusantara yang ia dirikan.

Saat ini di rumahnya di Desa Malangjiwan, dijadikan tempat produksi gula cair tersebut.

Ada 10 pegawai yang merupakan warga sekitar yang ia pekerjakan.

"Saya akhirnya mau pulang bangun usaha di Klaten karena PG Gondang juga sudah tutup. Kita merasa tertantang untuk mengembalikan kejayaan gula seperti masa lalu," imbuhnya.

Menurutnya, keunggulan gula cair dibandingkan dengan gula kristal lantaran gula cair lebih ekonomis dan higienis dari gula kristal pada umumnya.

Selain itu, gula cair juga rendah glikemik indeks, bebas kotoran hingga bebas fruktosa tinggi.

Menurut dia, saat ini produksi gula cair yang ia buat bisa mencapai 1 ton perhari.

Untuk harga, gula cair sama dengan gula kristal yakni Rp12.500 per kilogram.

Ia pun berharap dengan kehadiran gula cair itu, Klaten bisa kembali meraih kejayaan gula seperti di masa lalu.

Sementara itu, Kepala Desa Malangjiwan, Suprianto, berharap dengan hadirnya UKM gula cair di desa tersebut dapat mengbangkitkan kembali industri gula di Klaten secara umum dan Desa Malangjiwan secara khusus.

"Ini tentu demi membangkitkan kejayaan masa lalu. Semoga kita bisa mewujudkannya secara bersama-sama," jelasnya.

Ia mengatakan, dari sejarahnya, Desa Malangjiwan merupakan satu dari beberapa pusat kebun tebu di Klaten.

"Tapi sejak PG Gondang tutup dan sejak 1983 kebun tebu mulai hilang di desa kita. Jadi dengan adanya UKM gula cair ini kita harapkan kita bisa swasembada gula lagi," katanya. (Tribun Jogja/Almurfi Syofyan)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved