Pelaku Kuliner dan Seni Melawan Pandemi dengan 'Saben Selasa Nyoto'

Menikmati hidangan soto unik di pagi atau siang hari, di sebuah kafe nan nyaman, sekaligus ditemani sajian pertunjukkan musik akustik.

Editor: Amalia Nurul F
Tribun Jogja/Azka Ramadhan
Suasana program 'Saben Selasa Nyoto' di Kabar Baik Eatery, yang merupakan hasil kolaborasi dengan Soto Empal Kerbau Kenanga dan Sanggar Seni Notoyudan. 

TRIBUNTRAVEL.COM - Industri pariwisata di Yogyakarta terkena pukulan telak selama pandemi Covid-19 menerjang.

Tingkat kunjungan wisata yang menurun, membuat pebisnis kuliner kehilangan pangsa pasar, sementara para musisi kesulitan bernafas karena minim panggung hiburan.

Namun, kendala tersebut coba didobrak oleh tiga sekawan, meliputi Ison Satriyo pemilik Kabar Baik Eatery, Tedi Wintoko pencetus Soto Empal Kerbau Kenanga, serta Silvester Alvon pendiri Sanggar Seni Notoyudan.

Ketiganya berkolaborasi untuk bersama-sama menghadapi pandemi.

Kebetulan, ketiganya merupakan alumni satu sekolah yang sama, SMA Kolese de Britto Yogyakarta. Konsep yang digagas pun cukup menarik.

Yakni, menikmati hidangan soto unik di pagi atau siang hari, di sebuah kafe nan nyaman, sekaligus ditemani sajian pertunjukkan musik akustik.

"Soto masuk kafe ini menjadi pemikiran kami, ya, bahwa soto bisa naik kelas istilahnya, dinikmati di ruang apapun, sambil berbagi dengan pelaku wisata lain, untuk bangkit bersama-sama," cetus Ison Satriyo, Minggu (28/3/2021).

Oleh sebab itu, bersama Tedi Wintoko, pihaknya berinisiatif mengajak Silvester Alvon, yang merupakan seniman, serta pendiri Sanggar Seni Notoyudan, untuk memberi hiburan bagi para penyantap soto kerbau di Kabar Baik, melalui program bertajuk 'Saben Selasa Nyoto' itu.

"Jadi, namanya 'Saben Selasa Nyoto' bersama Sanggar Seni Notoyudan, SSN bareng SSN," tambahnya, diikuti gelak tawa.

Sementara Tedi Wintoko mengatakan, pihaknya tidak ingin sekadar memberi bantuan kepada para pelaku seni.

Sebab, ia menilai, yang dibutuhkan seniman di masa pandemi seperti ini bukan sebatas materi guna menyambung hidup, tetapi juga panggung, untuk wadah berekspresi.

Bukan tanpa alasan, setelah satu tahun lamanya dihantam pandemi Covid-19, ratusan murid dan seniman Sanggar Seni Notoyudan harus kehilangan panggungnya.

Oleh sebab itu, setiap hari Selasa, mereka diberi panggung di Kabar Baik, yang berlokasi di Ngaglik, Sleman itu.

"Kualitas seniman Sanggar Seni Notoyudan jelas tak perlu diragukan. Mereka bakal manggung setiap Selasa dari pukul 06.00-13.00," paparnya.

"Kemudian, 25 persen dari total omzet penjualan soto di hari itu dialokasikan untuk pengembangan sanggar seni, supaya terus bertahan," terang Tedi.

Silvester Alvon pun menambahkan, sejak awal sanggarnya memang bukan untuk mengeruk keuntungan, namun murni bergerak di ranah sosial.

Karenanya, siapa saja, entah para pengamen jalanan, atau kalangan tak mampu yang ingin belajar musik, difasilitasinya secara gratis.

"Tapi, satu tahun belakangan memang kita benar-benar down, ya, karena hidupnya sanggar kan dari aktitas gurunya, dari order-order event itu. Ya, baru kali ini, dari kolaborasi ini, akhirnya kita dapat panggung," jelasnya.

Lebih dari itu, di samping mendapat secercah harapan bagi kelangsungan Sanggar Seni Notoyudan, pihaknya pun bisa menjadikannya sebagai sarana ekspresi untuk sekitar 100 muridnya secara bergiliran.

Bagaimanapun, menurutnya, panggung sangat penting bagi seniman.

"Pandemi ini kondisi paling menyakitkan bagi seniman, di manapun itu. Sehingga, dengan adanya kolaborasi ini, kami tentunya senang sekali, karena kemampuan yang kami miliki itu bisa tersalurkan," pungkasnya. (Tribun Jogja/Azka Ramadhan)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved