Menciptakan Keselarasan Industri Wisata dengan Keberadaan Sumbu Filosofi DIY Melalui Quality Tourism

Pariwisata di DIY mampu bertahan dengan konsep quality tourism atau pariwisata yang bertanggung jawab dengan membedah makna di balik sumbu filosofi.

Editor: Amalia Nurul F
Tangkapan Layar
Diskusi 'Pengembangan Sumbu Filosofi Yogyakarta untuk Mendorong Quality Tourism di DIY' yang disiarkan melalui Zoom 

TRIBUNTRAVEL.COM - Sumbu filosofi di DIY bisa menjadi simbol untuk meningkatkan industri wisata menuju ke arah wisata yang bertanggung jawab.

Artinya, pariwisata di DIY mampu bertahan dengan konsep quality tourism atau pariwisata yang bertanggung jawab dengan membedah makna dan nilai di balik sumbu filosofi tersebut.

“Sumbu filosofi itu bisa memberikan pengalaman kultural yang luar biasa untuk wisatawan jika bisa diterjemahkan ke dalam paket tur,” ungkap Ketua DPD GIPI DIY Bobby Ardyanto Setyo Ajie dalam diskusi publik pariwisata, Jumat (26/3/2021).

Diskusi tersebut berjudul ‘Pengembangan Sumbu Filosofi Yogyakarta untuk Mendorong Quality Tourism di DIY’ dan disiarkan secara daring melalui Zoom.

Selain Bobby, sejumlah narasumber turut hadir di dalam diskusi tersebut.

Di antaranya ada GKR Bendara selaku Ketua Badan Promosi Pariwisata DIY, Miyono selaku Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia DIY dan Dian Laksmi Pratiwi dari Dinas Kebudayaan DIY.

Ada pula Pakar Budaya Yuwono Sri Suwito dan penanggap materi yakni Kepala Dinas Pariwisata DIY Singgih Raharjo dan Ike Janita Dewi dari Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) DIY.

Dilanjutkan Bobby, jika sumbu filosofi yang terdiri dari tiga komponen utama, yaitu Tugu Pal Putih, Kraton Yogyakarta, dan Panggung Krapyak itu bisa dibedah satu per satu, maka akan ada peningkatan masa tinggal wisatawan di DIY.

“Membahas sumbu filosofi itu kan gak sehari dua hari, tapi paling tidak tiga hari. Ini bisa meningkatkan length of stay wisatawan. Sisi tangible (fisik) dan intangible (abstrak) ini luar biasa,” jelasnya.

Menurutnya, ada banyak hal yang bisa dipersiapkan untuk menjadikan sumbu filosofi ini sebagai pariwisata bertanggung jawab di DIY.

Salah satu cara adalah mempersiapkan masyarakat di sekitar sumbu filosofi untuk memahami bahwa mereka turut menjadi bagian dari identitas wisata Yogyakarta.

Quality tourism ini mampu memulihkan wisata, mendukung dan mempercepat industri pariwisata pasca dihantam pandemi. Kita harus mulai ke situ,” paparnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Dian. Ia menjelaskan, quality tourism yang mengedepankan sumbu filosofi ini menjadi program yang sejalan dengan Kundha Kabudayan DIY.

“Sumbu ini kan mau maju ke UNESCO untuk dijadikan sebagai Warisan Budaya Dunia Tak Benda, maka ini adalah peluang dan sinergi yang bagus,” terangnya.

Dian mengungkapkan, dalam pariwisata yang bertanggung jawab, ada rencana bagaimana ekosistem pariwisata bisa saling mendukung.

Misalnya, objek wisata, interpretasi dari objek itu, akomodasi, keamanan, aksesibilitas hingga bagaimana masyarakat sekitar bisa menerima kunjungan.

“Jika seperti ini, nanti perilaku wisatawan bisa mengikuti perilaku masyarakat setempat. Ini juga yang dimaksud dengan quality tourism,” katanya.

Dengan adanya pariwisata bertanggung jawab, maka nilai-nilai yang ada di DI Yogyakarta juga tidak perlu mengalah pada tren kunjungan yang akan datang.

Sebagai contoh, jika ada wisatawan datang, maka objek wisata perlu dipagari agar cagar budaya tidak rusak.

Padahal, sebenarnya bisa tidak dipagari, namun ada kesadaran turis untuk tidak menyentuh atau merusaknya.

“Masyarakat bisa mempengaruhi orang yang datang ke tempat mereka. Ada dampak yang mengena jika turis datang ke Yogyakarta, mereka akan merasa nyaman dengan masyarakat dan cara mereka hidup,” tuturnya.

Singgih menambahkan, ada strategi yang sudah dibuat oleh Dinas Pariwisata DIY untuk para pelaku wisata.

Ia mengatakan, pihaknya sudah melakukan tuntunan terkait sumbu filosofi dan dilakukan bersama dengan Bank Indonesia.

“Berikutnya, paket wisata sumbu filosofi ini adalah prioritas. Sayang, kami membuat di akhir 2019 kemudian pandemi 2020, maka belum bisa melakukan eksplorasi. Maka sebelum puasa nanti kami akan lakukan tes tur,” jelasnya.

Menurutnya, semakin budaya dipikirkan, maka itu akan memberikan kesejahteraan semua orang. (Tribun Jogja/Ardhike Indah)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved