Kuliner Unik

Onigiri Viral Rasa Lokal Buatan Dwika Jadi Pilihan Sarapan Sederhana

Dwika menjual onigiri itu di Jalan Kaliurang kilometer 4, di depan bekas outlet Si Tepat Ban Jakal, mulai pukul 06.00-09.00 WIB.

Editor: Amalia Nurul F
Tribun Jogja/Ardhike Indah
Dwika Pandu, menjual onigiri rasa lokal di Jalan Kaiurang, solusi sarapan anti telat. 

TRIBUNTRAVEL.COM - Sarapan menjadi salah satu hal yang penting dilakukan di pagi hari.

Dengan sarapan, maka ada semangat yang terpupuk dalam diri untuk bekerja sepenuh hati.

“Nah, maka dari itu kami menciptakan ini, onigiri rasa lokal,” ungkap Dwika Pandu, penjual onigiri rasa lokal, Jumat (26/3/2021).

Ia menjual onigiri itu di Jalan Kaliurang kilometer 4, di depan bekas outlet Si Tepat Ban Jakal, mulai pukul 06.00-09.00 WIB.

Onigiri buatan Dwika berukuran kurang lebih 10 cm. Isinya pun bermacam-macam.

Ada rasa tempe, ayam, sosis telur mayo, dan cakalang.

Ini berbeda dengan onigiri asli Jepang yang berisi ikan salmon panggang atau umeboshi.

Dengan kata lain, onigiri yang ia jual merupakan hasil akulturasi dan menyesuaikan dengan lidah orang Indonesia.

Onigiri berbentuk segitiga dengan rumput laut di bagian bawah itu terlihat cukup padat.

Varian isi juga berlimpah dan jika dimakan, cukup mengenyangkan. Beberapa rasa cukup pedas, cocok bagi Anda yang menyukai makanan dengan rasa tajam.

“Onigiri ini jadi solusi sarapan anti telat. Kalau yang beli ke sini, gak perlu copot helm, beli, bayar langsung pergi lagi,” katanya.

Betul saja, 4-5 pembeli dalam waktu 10 menit tidak menghabiskan waktu lama untuk bertransaksi.

Mereka dengan cepat memilih rasa yang diinginkan dan membayarnya. Hanya 15-20 detik waktu yang dihabiskan pembeli sebelum melanjutkan perjalanan.

Onigiri yang dia jual tergolong murah, Mulai dari Rp3.500 saja, pembeli sudah bisa membawa satu onigiri.

Rasa favorit, menurut Dwika adalah sosis telur mayo dan tempe. Pembuatan onigiri itu juga cukup mudah.

Biasanya, Dwika dan rekan akan menyiapkan bahan onigiri mulai pukul 01.00 malam.

Kemudian, dia akan menggelar lapak mulai pukul 06.00 hingga pukul 09.00.

“Kalau yang ayam, tempe itu kan harus motongin dan lain-lain. Jadi ya mulai jam 01.00. Kami cuma masak berdua, saya sama teman saja,” tuturnya tertawa.

Keduanya tidak pantang menyerah. Sejak tiga minggu lalu, tepatnya di akhir Februari 2021, mereka mulai memasarkan onigiri secara sederhana.

Lapak yang digunakan juga lapak sementara, bukan permanen dan hanya berupa satu stan dengan poster onigiri diikat di motor.

Sempat Viral

Onigiri lokal a la Dwika ini sempat menjadi bahan perbincangan di media sosial.

Ada beberapa akun Instagram kuliner di Yogyakarta yang mengulas makanan tersebut.

Dari situ, penjualan sempat meningkat lantaran banyak orang yang ingin mencicipinya.

“Biasanya, kami membuat 65 onigiri sehari. Namun setelah viral beberapa waktu lalu, pas kami bikin 105, habis juga. The power of viral bisa menghabiskan dagangan,” katanya tertawa.

Onigiri lokal itu sempat diperbincangkan di TikTok dan Instagram. Penontonnya pun tidak main-main, mencapai 500.000 lebih orang.

Bahkan, keduanya sempat kewalahan dengan pembeli yang lebih banyak daripada hari biasa.

Jika tidak habis, Dwika dan rekan yang akan menghabiskan onigiri itu. Sehingga, onigiri yang dijual selalu baru dan bukan barang lama.

“Kami makan sendiri kalau gak habis hahaha. Ini kuat sampai sore,” ucapnya.

Hingga kini, Dwika dan temannya memiliki dua titik penjualan onigiri.

Selain di Jakal, mereka berjualan di Candi Gebang juga agar mendapatkan keuntungan yang lebih efektif.

“Karena kami berdua jadi kami jualan di dua titik juga. Kecuali kalau salah satu dari kami ada yang punya kegiatan, pasti salah satu titik libur,” tandasnya. (Tribun Jogja/Ardhike Indah)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved