Shopping

Eboni Watch, Jam Tangan Kayu Buatan Tangan Pemuda Klaten

Uniknya, pembeli pertama dari jam tangan kayu hasil rakitan Afidha tersebut justru berasal dari Cape Town, Afrika Selatan.

Editor: Amalia Nurul F
Tribun Jogja/Almurfi Syofyan
Penampakan jam tangan kayu yang baru selesai produksi di ruang kerja Eboni Watch di Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Minggu (21/3/2021). 

Pemuda berusia 31 tahun itu sudah 7 tahun merintis bisnisnya itu.

Ia memulai usahanya karena melihat peluang bisnis yang cukup menjanjikan di bidang tersebut.

Apalagi untuk Indonesia diyakini belum banyak perajin jam tangan kayu.

Mengusung nama Eboni Watch, brand lokal tersebut menjelma menjadi salah satu kompetitor yang patut diperhitungkan oleh merek-merek dagang ternama lainnya.

Jam tangan kayu Eboni Watch buatan Afidha, memakai mesin jam yang ia pesan langsung dari Jepang.

Sementara untuk strap atau tali ia menggunakan kulit yang dipasok dari Yogyakarta.

Sedangkan kayu yang digunakan untuk bahan baku jam yakni kayu rosewood (sonokeling) dan kayu maple yang dibeli dari Surakarta.

"Ide awalnya saya buat jam tangan kayu ini karena memang sudah jatuh cinta dengan jam tangan kayu," ujar Afidha.

Menurut ayah dua anak itu, penghujung tahun 2014 dirinya ingin membeli jam tangan kayu.

Namun saat itu harga jam tangan kayu yang ada dipasaran harganya lumayan mahal, yakni masih di atas Rp1 juta.

Afidha pun berfikir untuk membuat sendiri jam tangan kayu tersebut dan menjualnya untuk kalangan menengah ke bawah.

Ia lalu membuat desain jam tangan kayu melalui sebuah aplikasi desain.

Kemudian ia membawa desain itu kepada salah seorang perajin kayu di Yogyakarta.

"Saya tanya ke perajin, apakah bisa buat jam kayu seperti desain saya itu. Ternyata bisa dan saya pesan untuk beberapa unit saja waktu itu," jelasnya.

Pada awal Januari 2015, lanjut alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta itu, setelah jam tangan kayu jadi dirinya iseng untuk menjual di salah satu platform media sosial.

Ia pun tidak menduga, tidak berapa lama setelah foto jam tangan kayu di unggah di media sosial respon pasar terkait dagangannya itu cukup bagus.

Uniknya, pembeli pertama dari jam tangan kayu hasil rakitan Afidha tersebut justru berasal dari Cape Town, Afrika Selatan.

"Yang buat berkesan itu ya pembeli pertama jam tangan kayu ini berasal dari Afrika Selatan. Dia sepertinya kolektor jam kayu," kenangnya.

Saat itu, Kata Afidha, pembeli asal Afrika Selatan itu memesan dua unit jam tangan kayu Eboni Watch tersebut.

"Saat aku jual per unitnya di bawah Rp1 juta. Tapi ongkirnya mahal, kalau nggak salah Rp600 ribuan,"ucapnya.

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved