Mudik Diperbolehkan, Organda DIY Ingin Layanan GeNose Disediakan di Terminal

Hantoro pun mengusulkan agar pemerintah menyediakan layanan pemeriksaan GeNose C19 di terminal-terminal.

Editor: Amalia Nurul F
Tribun Jogja / Hasan Sakri Ghozali
Petugas melakukan pemeriksaan terhadap bus, di Terminal Giwangan Yogyakarta. 

TRIBUNTRAVEL.COM - Biaya pemeriksaan rapid test antigen sebagai syarat melakukan perjalanan masih tergolong mahal.

Terutama bagi sebagian pelaku perjalanan yang biasa menggunakan angkutan umum darat.

Pelaku bisnis jasa transportasi darat pun meminta agar pemerintah setempat menyediakan layanan pemeriksaan skrining Covid-19 dengan harga terjangkau.

Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Organisasi Angkutan Darat (Organda) DIY, Hantoro menuturkan, tak terjangkaunya harga layanan tes kesehatan membuat sebagian konsumen berpikir dua kali.

Terlebih harga pemeriksaan rapid test antigen dan PCR bisa lebih mahal dibandingkan harga tiket bus yang ditawarkan.

"Yang menggunakan jasa transportasi kita kan biasanya karyawan menengah ke bawah. Kalau sekarang menggunakan PCR biaya (tiket) busnya saja 300 ribu masak PCR-nya 1,3 juta," jelas Hantoro, Minggu (21/3/2021).

Hantoro pun mengusulkan agar pemerintah menyediakan layanan pemeriksaan GeNose C19 di terminal-terminal.

Sebab, layanan tarif tes GenNose C19 jauh lebih murah dibandingkan layanan lainnya.

Layanan itu dianggap penting, terlebih saat musim mudik pada Lebaran mendatang, surat bebas covid-19 menjadi salah satu persyaratan bagi masyarakat untuk melakukan perjalanan.

"Kalau untuk GeNose kami mampu kalau PCR jelas tidak mampu," tambahnya.

Menurutnya, Pemda DIY telah berencana untuk mengadakan layanan GeNose di terminal tipe B atau terminal yang dikelola oleh pemerintah daerah.

Dia pun berharap agar hal itu dapat segera terealisasi.

"Mudah-mudahan dari Kemenhub (Kementerian Perhubungan) juga akan diberikan fasilitas seperti itu di terminal tipe A," paparnya.   

Selin itu, GeNose C19 diharapkan juga dapat ditempatkan di agen-agen travel. Agar layanan ini benar-benar dapat dijangkau masyarakat menengah ke bawah.

"Masyarakat menengah ke bawah ini takut melakukan pergerakan karena takut membeli (layanan tes). Sebetulnya mereka ingin melakukan pergerakan dengan bus karena lihat banyak orang pakai kendaraan pribadi. 

"Karena kalau menggunakan kendaraan pribadi tidak banyak aturannya," tambahnya.

Hantoro pun meminta agar pemerintah tak tebang pilih saat melakukan pemeriksaan kendaraan. Baik kenderaan umum dan pribadi pun harus mendapat perlakuan yang sama.

"Harusnya kalau bikin aturan harus fair juga ke semua lapisan. Kalau tidak boleh masuk ke suatu kota harus dicek bener meskipun pribadi ataupun kendaraan umum," imbuhnya. 

Salah seorang yang rutin menggunakan moda transportasi bus saat mudik, Miftahkul (28) mengakui bahwa harga rapid test antigen tergolong mahal.

Mahasiswa asal Jambi tersebut pun berharap agar layanan dengan tarif terjangkau seperti GeNose C19 dapat disediakan di terminal-terminal.

Menurutnya, hingga saat ini penumpang bus tidak diwajibkan membawa surat negatif antigen. Hal itu membuatnya merasa khawatir tertular covid-19 jika akan melakukan perjalanan jauh.

"Takut sekali, apalagi kalau perjalanan ke Sumatra bisa dua sampai tiga hari. Kalau jarak dekat tidak apa-apa (tidak ada tes)," jelasnya. (Tribun Jogja/Yuwantoro Winduajie)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved