Kisah Petrus yang Hibur Wisatawan di Parangtritis dengan Membaca Puisi

Pria asal Solo, Jawa Tengah ini berani tampil beda dalam menghibur orang meski tujuannya hampir sama seperti halnya pengamen lain.

Editor: Amalia Nurul F
Tribun Jogja/Miftahul Huda
Pengamen puisi di pantai Parangtritis seusai membacakan puisi untuk pengunjung, Sabtu (20/3/2021) 

Ternyata, Petrus juga aktif menulis dibeberapa platform digital.

Namun sebelum aktif di media sosial, lika liku hidupnya cukup keras, hingga dirinya memutuskan untuk berpuisi di sisa usianya kini.

Keputusannya untuk menulis puisi dan melukis bermula ketika dirinya memutuskan untuk resign dari statusnya sebagai karyawan di salah satu kantor swasta di Jakarta.

"Bermula dari kondisi Deadlock (jalan buntu) dompet saya dicuri padahal baru dapat gaji," ungkapnya.

"Lalu saya memutuskan lebih baik keluar saja dari perusahaan, karena betul-betul buntu. Target pekerjaan yang berat membuat saya keluar, dan mencari uang lewat puisi," jelas pria yang gemar mengenakan rosario di lehernya itu.

Sebagai penutup, Petrus pun meninggalkan syairnya kepada pembaca dengan judul Senja. 

Berikut kutipan salah satu puisi yang dibacakan Petrus.

Senja, Ku duduk di pantai di senja hari.

Kulihat warna warni lukisan ilahi yang selalu baru dan tak pernah usang.

Aku selalu takjub warna biru, hitam kemerahan dan kegelapan yang nyata di atas gunung.

Senja, ketika mentari menyemburkan warna merahnya, memberikan semangatnya yang tak henti-henti.

Senja, di situ jutaan lelaki dan wanita memberikan jiwa dan berpadu dalam asanya.

Senja, kau memberikan ingatan bahwa segala peristiwa akan ada kisah di senja itu. (Tribun Jogja/Miftahul Huda)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved