Kisah Petrus yang Hibur Wisatawan di Parangtritis dengan Membaca Puisi

Pria asal Solo, Jawa Tengah ini berani tampil beda dalam menghibur orang meski tujuannya hampir sama seperti halnya pengamen lain.

Editor: Amalia Nurul F
Tribun Jogja/Miftahul Huda
Pengamen puisi di pantai Parangtritis seusai membacakan puisi untuk pengunjung, Sabtu (20/3/2021) 

Menurutnya, gereja menjadi basic hidupnya selama ini.

Dari beberapa kegiatannya di gereja itulah Petrus tidak khwatir meski pekerjaannya kini hanya sebagai pelukis sketsa dan pengamen puisi.

"Saya senang di gereja karena itulah basic hidup saya. Apa pun tanpa adanya sentuhan rohani hati kita akan kering. Kita tidak bisa mendorong orang lain jadi baik tanpa rohani kita yang baik," lanjut Petrus.

Selain di pantai Parangtritis, ia juga sering ngamen puisi di Gunung Lawu. Petrus mencoba menghibur para pendaki saat beristirahat di Cemoro Sewu.

"Asal ada orang duduk itu menjadi tempat saya mencari makan. Ya ini pekerjaan yang gak ada saingan, karena orang gak ada yang mau kayak gini," kata dia.

Per harinya sudah tak terhitung berapa bait puisi yang ia bacakan kepada pengunjung pantai Parangtritis.

"Wah sudah tak terhitung. Entah orang asing atau enggak, itu bukan urusan saya. Yang penting saya bisa menyampaikan ide. Ya kadang orang minta dibacakan puisi tentang cinta, macam-macam lah," tambahnya.

Pernah Dibayar Rp3 Juta

Menurut Petrus sebuah puisi dapat melampaui batas perasaan seseorang.

Hal itu ia buktikan saat dirinya membacakan satu puisi berjudul Kasih Melampaui Batas kepada perempuan asal Bali.

Saat itu perempuan yang menikmati bait-bait syair puisinya sampai meneteskan air mata.

Inti puisi yang ia bacakan kala itu berkisah tentang aborsi yang marak dilakukan oleh perempuan Indonesia.

"Jadi saya bacakan puisi itu yang intinya perempuan Indonesia kadang-kadang hamil begitu lahir diaborsi. Sedangkan di Kalimantan anak babi saja disusui. Saya ceritakan dalam puisi seperti itu," terang Petrus.

Rupanya perempuan yang sedang menikmati puisinya itu, lanjut Petrus adalah satu dari sekian pelaku aborsi.

"Saat itu juga perempuan itu menangis, karena ia sudah menikah umur 40 tahun dan sudah tidak hamil, tidak punya anak," jelas dia.

Karena karyanya itu mampu mejamah perasaan perempuan asal Bali itu, Petrus diberikan uang sebesar Rp3 juta atas karya terbaiknya itu.

"Selesai baca puisi, saya langsung dikasih uang Rp3 juta. Saya bacakan itu di Taman Suropati, Jakarta," ujarnya.

Bisa dibilang puisi sangat berpengaruh besar dalam kehidupan Petrus. Ia mengaku bahwa puisi tak ubahnya sebagai pisau bermata dua.

Karena menurutnya, ketika seseorang menyiratkan nasihat lewat puisi, namun orang tersebut tidak melaksanakan apa yang diucapkan, maka keburukan akan kembali pada diri sendiri.

"Menurut saya puisi adalah pisau bermata dua. Ketika saya menasehati orang, tapi saya tidak melaksanakan nasihat itu, puisi itu akan balik kepada kita," ungkap Petrus.

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved