Pameran

Ekspresi Penyesuaian Proses Kehidupan Perupa dalam Pameran Seni Rupa 'Hidup 1'

Pameran tersebut menyuguhkan karya lukis dari Ahmad Sobirin dan Robert Nasrullah, juga patung karya seniman patung Basrizal, Nugroho, dan Purwanto.

Editor: Amalia Nurul F
Tribun Jogja/Hanif Suryo
Pameran seni rupa bertajuk 'Hidup 1' di Parak Seni, Bodeh, Ambarketawang, Sleman, 16 Maret-16 Mei 2021. 

Di dalamnya juga terdapat jiwa dan nurani yang terus hidup dalam berbagai dimensi ruang waktu. Sobirin mendambakan pada kita agar lebih sering melakukan bersih jiwa, introspeksi diri atas beragam masalah yang telah terjadi sebelumnya.

Pameran seni rupa 'Hidup 1'
Pameran seni rupa 'Hidup 1' (Tribun Jogja/Hanif Suryo)

Adapun 2 karya patung Basrizal Albara yang disajikan kali ini berarus pada 2 kasus yang berbeda.

Satu karya bertajuk Garuda (2020) dan yang lain bertajuk Jalan Hidup (2021).

"Garuda berdimensi pada isu politik dan sejarah, sedangkan Jalan Hidup berdimensi spiritual. Kedua isu ini sering diungkap dalam karir kesenimanan Albara," terang Mikke.

Sejak lama isu politik dan spiritual dipakainya sebagai sumber inspirasinya.

Hal unik lainnya adalah pada media yang dipakai.

Albara adalah eksperimentalis bahan. Meskipun mungkin banyak pematung yang mahir berkarya dengan beragam bahan, Albara lebih luwes mengantisipasi antara bahan atau material, dengan isu kontekstual.

Jadi bukan sekadar merespons materi menjadi "sesuatu", tetapi juga mengikrarkan tentang "sesuatu yang sedang hangat".

"Garuda adalah implementasi Albara pada saat Indonesia diterpa oleh isu rencana perubahan kebijakan dari Pancasila menjadi Trisila. Tepatnya di saat munculnya isu wacana tentang Rancangan Undang-undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) Juni 2020 lalu," jelasnya.

Wacana ini menumbuhkan sikap dinamisnya sebagai pematung.

Dalam karya ini ia merasa bahwa Garuda menjadi kontekstual saat sering dibicarakan.

Sampai-sampai ia merasa bahwa lambang negara kita sudah lapuk dan membatu.

Melalui karya ini Albara beropini dalam 2 pola pikir yang saling berlawanan: Garuda menjadi batu (mulia) karena sering dipoles oleh masalah, atau ia memang sudah makin membatu karena masalah serta zaman yang mengikutinya.

Sementara itu, Nugroho menghadirkan karya dengan medium batu andesit.

Dua karyanya, Mijil dan All Mercy Full, menurut Mikke ini merupakan ungkapan spirit Nugroho.

Seperti dalam tembang Macapat pada umumnya, Mijil diselaraskan dengan warak asih (kasih sayang) dan tresna (cinta). (Tribun Jogja/Hanif Suryo)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved