Pameran

Ekspresi Penyesuaian Proses Kehidupan Perupa dalam Pameran Seni Rupa 'Hidup 1'

Pameran tersebut menyuguhkan karya lukis dari Ahmad Sobirin dan Robert Nasrullah, juga patung karya seniman patung Basrizal, Nugroho, dan Purwanto.

Editor: Amalia Nurul F
Tribun Jogja/Hanif Suryo
Pameran seni rupa bertajuk 'Hidup 1' di Parak Seni, Bodeh, Ambarketawang, Sleman, 16 Maret-16 Mei 2021. 

TRIBUNTRAVEL.COM - Sejumlah 20 karya dari 5 seniman kelompok Hidup dipamerkan dalam pameran seni rupa bertajuk 'Hidup 1' di Parak Seni, Bodeh, Ambarketawang, Sleman.

Pameran ini digelar pada 16 Maret-16 Mei 2021.

Pameran tersebut menyuguhkan karya lukis dari Ahmad Sobirin dan Robert Nasrullah, juga patung karya seniman patung Basrizal, Nugroho, dan Purwanto.

Tema Hidup menjadi gagasan dalam pameran ini sebagai ekspresi penyesuaian-penyesuaian menjalani proses kehidupan sehari-hari sebagai perupa yang selalu terkait dengan permasalahan keluarga, sosial dan budaya.

"Ada senang bahagia ada sedih ada tangis ada tawa dan derita adalah bagian dari sentuh sentuhan warna kehidupan yang kemudian menuju pada muara kepasrahan dalam menjalani kehidupan," ujar Robert Nasrullah.

"Kepasrahan ini kemudian dimaknai sebagai cara menyeimbangkan dinamika berkarya sebagai perupa yang notabene haus akan banyak gagasan dalam melahirkan ide dan konsep berkarya sebagai spirit dalam merangkai temali cinta dan kasih sayang pada cermin kehidupan," tambahnya.

Keluarga besar selalu menjadi suntikan energi yang membangkitkan semangat dalam berbagai dinamika problema, baik yang berkaitan dengan permasalahan individu sebagai makhluk sosial yang memiliki banyak kebutuhan untuk bisa hidup secara layak, ataupun pada eksekusi media, ruang dan pengeksekusian etalase ide dalam mewujudkan proses berkesenian.

Pengunjung melihat karya seni yang ditampilkan dalam pameran bertajuk 'Hidup 1'.
Pengunjung melihat karya seni yang ditampilkan dalam pameran bertajuk 'Hidup 1'. (Tribun Jogja/Hanif Suryo)

Pilihan bergerak dengan sebuah kelompok seni adalah upaya untuk memacu kereta nirmana.

Sehingga bisa memercikkan api asmara berwarna dalam bentuk keluarga yang harapkan selalu memberi spirit, masukan bagi masing-masing anggotanya masing perupa dari kelompok hidup memiliki cara, media dan teknik berbeda dalam berkarya, tetapi memiliki latar belakang dan tujuan yang sama bahwa seni akan mampu memberi damai semuanya.

"Universality seni kami yakini akan memberi banyak nilai dalam rangka memberi arti kehidupan agar lebih bermakna dan memberi manfaat bagi banyak orang," ujar Robert.

"Sehingga kemudian senantiasa seni menjadi bagian penting dalam upaya mengasuh dan menjalani lika-liku kehidupan," sambungnya.

"Penghargaan terhadap kehidupan juga bermakna akan kepedulian kita terhadap bumi, air, udara, tanaman, hewan yang selama ini juga berperan dalam harapan lestari alam yang juga berpengaruh terhadap kenyamanan hidup," lanjutnya.

"Dengan demikian kita semua berupaya berusaha membangun hubungan vertikal dengan al-Khaliq sebagai pemberi kehidupan, hubungan dengan sesama manusia dan hubungan dengan alam sekitarnya," tambahnya.

Sementara itu, penulis pameran, Dr, Mikke Susanto, S.Sn.,M.A. mengatakan, konsepsi tentang isu kemanusiaan dan penghormatan mereka terhadap alam
diaplikasikan dalam karya seni.

Menurut Mikke, mereka meyakini melalui pameran semacam ini energi yang didapat, diolah, dan yang disalurkan mampu memberi inspirasi dan kesadaran kepada yang lainnya.

Inilah sebentuk "demonstrasi" gagasan dan "transformasi" kesadaran untuk menjadikan manusia lainnya agar berlaku sebagai insan yang lebih baik.

"Gagasan yang dituangkan oleh ke-5 peserta dalam pameran ini dapat dilihat dalam sejumlah 11 karya yang dikerjakan selama 1 dekade terakhir," tuturnya.

"Tiga lukisan Ahmad Sobirin mengusung tajuk: Masuh Jiwa (2017), Flow (2020), dan Soldier (2021). Karya Masuh Jiwa berisi telaah perihal kedirian manusia yang disucikan oleh kesadaran," kata Mikke.

"Dengan visualisasi gaya realistik, muncul sosok perempuan telanjang yang tengah tertidur menyamping dalam format setengah badan," terangnya.

"Perempuan yang dikemas dalam balutan daun pisang kering seolah menggambarkan manusia bukanlah sekadar konstruksi tulang dan daging yang mudah sekali rusak dan menua," tambahnya.

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved