Destinasi

Wisata Mina Padi di Gunungkidul Ini Bisa Jadi Pilihan Wisata Selain Pantai

Bagi yang menginginkan suasana baru, kawasan Mina Padi di Pedukuhan Temu, Kalurahan Pulutan, Wonosari bisa jadi pilihan.

Editor: Amalia Nurul F
Tribun Jogja/Alexander Aprita
Kawasan Mina Padi di Pedukuhan Temu, Kalurahan Pulutan, Kapanewon Wonosari, Gunungkidul. 

TRIBUNTRAVEL.COM - Kabupaten Gunungkidul kerap didatangi karena keindahan pantai di selatannya.

Namun, bagi yang menginginkan suasana baru, kawasan Mina Padi di Pedukuhan Temu, Kalurahan Pulutan, Wonosari bisa jadi pilihan.

Jalur menuju lokasi terbilang susah-susah gampang. Pasalnya perlu melewati kawasan pemukiman warga, dengan sebagian jalan yang masih terbuat dari cor beton.

Pemandangan berubah seketika tiba di lokasi.

Hamparan sawah menghijau akan langsung menyambut mata, ditambah segarnya semilir angin dan burung berkicau.

Adapun Mina Padi Lembah Desa Pulutan ini masih berusia belia, baru sekitar 2 tahun dikembangkan.

Kawasan Mina Padi di Pedukuhan Temu, Kalurahan Pulutan, Kapanewon Wonosari, Gunungkidul.
Kawasan Mina Padi di Pedukuhan Temu, Kalurahan Pulutan, Kapanewon Wonosari, Gunungkidul. (Tribun Jogja/Alexander Aprita)

Hal itu diungkapkan Ketua Kelompok Tani (Poktan) setempat, Wartono.

"Mulai tanamnya sekitar 2019 lalu, dan berlanjut hingga kini," tuturnya ditemui belum lama ini.

Luas lahan yang dimanfaatkan untuk mina padi mencapai 4 hektar.

Ikan-ikan pun tampak bebas berseliweran di antara batang padi dalam pematang sawah.

Jenis ikan yang dibudidayakan antara lain Gurameh, Koi, Mas, dan Nila.

Sejak menerapkan sistem mina padi, hasil panen petani setempat meningkat hingga dua kali lipatnya.

"Dulu rata-rata hanya panen 5-6 kilogram per ubinan (5 meter persegi). Namun sekarang hasilnya bisa 11 sampai 13 kilo sekali panen," ungkap Wartono.

Hasil itu masih ditambah dengan panen ikan yang dipelihara.

Saat awal budidaya, sebanyak 47 kilogram bibit ikan ditaburkan. 5 bulan kemudian, didapat hasil mencapai 1 kuintal, 15 kilogram ikan.

Meski begitu, ikan hasil panen tersebut masih dimanfaatkan untuk konsumsi sendiri.

Menurut Wartono, pengembangannya saat ini masih dilakukan secara swadaya, di mana warga menyumbangkan bibit-bibit ikan tersebut.

"Jadi belum akan dijual untuk umum. Ke depan pun lebih banyak untuk pembibitan," jelasnya.

Wartono menyebut sejak awal konsep mina padi untuk pengembangan wisata sudah tertanam di benak.

Itu sebabnya pihaknya membutuhkan dukungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunungkidul untuk pengembangan.

Air sendiri sama sekali tak ada kendala.

Pasalnya, di sekitar situ terdapat sumber air dengan debit mencapai 48 liter per detik. Sangat mencukupi untuk mengairi lahan seluas 70 hektar.

"Kami harap konsep wisatanya semakin dikembangkan, jadi petani di sini ada penghasilan tambahan," ujar Wartono.

Keindahan Mina Padi Pulutan pun turut menarik perhatian Bupati Gunungkidul Sunaryanta.

Pekan lalu ia sengaja berkunjung untuk meninjau langsung pengelolaannya.

Ia menyebut kawasan ini memiliki potensi besar menjadi destinasi wisata alternatif di Gunungkidul.

Mina Padi Pulutan pun disebut layak menjadi pilot project bagi daerah lain yang ingin mengembangkan konsep serupa.

"Saya harap konsep seperti ini tetap berjalan, dan diintegrasikan dengan konsep wisata nantinya," kata Sunaryanta. (Tribun Jogja/Alexander Aprita)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved