Event Pariwisata Kecil Harapannya Jika Pemerintah Abaikan Prokes

Menurut pengamat pariwisata UGM Hendrie Adjie Kusworo motor penggerak ekonomi di DIY adalah sektor pariwisata.

Editor: Amalia Nurul F
Tribun Jogja/Hasan Sakri
Pengunjung menikmati suasana kawasan wisata Taman Sari di Kota Yogyakarta, Rabu (8/7/2020). Kawasan wisata Taman Sari kembali dibuka dengan menerapkan protokol kesehatan, pembatasan jumlah pengunjung dan batasan waktu kunjungan. Kunjungan dibuat per kelompok sebanyak 10 orang dengan pemandu wisata dengan batasan waktu 20 menit. 

TRIBUNTRAVEL.COM - Keinginan untuk mempercepat vaksinasi bagi pelaku pariwisata datang dari berbagai pihak, tak terkecuali dari pengamat pariwisata Universitas Gajah Mada (UGM) Hendrie Adjie Kusworo.

Menurut Hendrie, motor penggerak ekonomi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) adalah sektor pariwisata.

Oleh sebab itu, pemerintah perlu mempercepat vaksinasi terhadap 31.000 pelaku wisata yang belum disuntik vaksin.

"Karena yang pertama kan langsung kepada faktor kesehatan. Saya kira itu jelaslah. Dan yang tidak kalah penting soal image," katanya, Kamis (11/3/2021).

Di sisi lain, pemerintah DIY juga perlu memberikan kenyamanan dan kepercayaan terhadap pelaku pariwisata dan wisatawan.

"Dengan begitu mereka tidak merasa was-was. Kemudian kepercayaan itu perlu dibangun di mata pasar. Oleh karena itu dua-duanya sangat perlu," imbuh Hendrie.

Meski vaksinasi sudah dimulai, akan tetapi Hendrie menilai situasi makronya tidak banyak berubah yakni pandemi COVID-19 masih terus dirasakan.

Oleh karenanya, penting bagi pemerintah untuk membranding jika Yogyakarta cukup aman untuk dikunjungi.

"Berikan kepercayaan jika Jogja ini relatif aman dikunjungi, caranya ya memperbaiki dan meningkatkan prokes yang sudah ada," tuturnya.

"Karena beberapa tahun ke depan pola pariwisata ini berubah," ungkapnya.

Ditanya mengenai agenda event budaya secara konvensional yang telah disusun pemerintah DIY mampukah tetap bertahan di era pandemi saat ini, Hendrie mengatakan hal itu masih dimungkinkan dengan catatan kualitas prokes menjadi yang utama.

"Yang penting saya kira ya taat itu. Semua aktor yang terlibat harus taat kepada prokes. Karena faktanya jika kegiatan dibuka pasti kasus positifnya naik," kata dia.

Lalu seberapa besar optimisme dari kalangan pengamat terhadap kebangkitan dunia pariwisata, apabila 31.000 pelaku wisata di DIY sudah mendapatkan vaksin?

Menanggapi hal ini, Hendrie masih belum sepenuhnya yakin apabila seluruh pelaku pariwisata telah mendapat vaksin akan mendongkrak perekonomian.

"Optimisme itu tetap ada ya, tentunya vaksin ini sangat diperlukan. Kalau untuk berapa besar presentasenya saya belum memastikan, karena ada hal lain yang perlu diperhatikan juga selain vaksinasi," ujar Hendrie.

Terpisah, pengelola wisata Tamansari, Yogyakarta, Suharwanto mengharapkan proses vaksinasi untuk pelaku pariwisata dapat disegerakan.

Pasalnya, dalam satu tahun selama pandemi COVID-19 obyek wisata Tamansari beroperasi tidak stabil setiap bulannya.

Ia berharap adanya vaksinasi tersebut dapat menumbuhkan kepercayaan bagi masyarakat agar tidak ragu untuk bepergian, dan berwisata ke Tamansari.

"Harapannya ya bisa menumbuhkan kepercayaan bagi masyarakat untuk berwisata. Karena selama satu tahun jatuh bangun untuk ekonomi wisata ini," jelasnya.

Ia menambahkan, saat ini ada 13 orang yang mengelola wisata Tamansari, Yogyakarta.

"Semuanya belum divaksin, kalau yang pemandu wisata itu malah sudah dapat kemarin itu," tutupnya. (Tribun Jogja/Miftahul Huda)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved