Pameran

Menengok Sisi Lain Klitih di Pameran The Museum Of Lost Space

Galeri yang terletak di Jalan Nitiprayan, Dukuh III, Jeblog, Kasihan, Bantul tersebut justru memamerkan senjata tajam.

Editor: Amalia Nurul F
Tribun Jogja/Christi Mahatma Wardhani
Pengunjung melihat pameran seputar klitih bertajuk The Museum of Lost Space di Galeri Lorong,Kasihan, Bantul, Kamis (11/03/2021). 

Selain pameran, proyek kolaborasi tersebut akan menampilkan pertunjukan bertajuk In search of Lost Space yang disutradarai oleh Habiburrahman dan Febrian Adinata Hasibuan.

Ada pula buku yang rencananya terbit pada akhir pameran. 

Kurator Seni, Arham Rahman mengungkapkan tiga output tersebut berawal dari penelitian yang dikoordinatori oleh Yohanes Marino.

Melalui tiga output tersebut, pengunjung diajak untuk melihat sisi yang berbeda mengenai fenomena klitih. 

"Kami melakukan penelitian, workshop, FGD dengan pelaku klitih. Ada tiga hal yang diduga menjadi penyebab, pertama adalah penyempitan ruang kota," paparnya.

"Dengan banyaknya pembangunan, anak muda tidak memiliki ruang publik untuk berekspresi. Kedua adalah faktor perkembangan psikologis," terangnya.

"Fenomena sadisme tidak mungkin terjadi begitu saja, mereka pasti punya pengalaman traumatis, baik di sekolah, lingkungan, atau keluarga," ungkapnya.

"Dan hasil penelitian menyebutkan rata-rata pelaku klitih, punya pengalaman kekerasan. Jadi sebenarnya mereka ini juga korban," kata dia.

"Ketiga perlu ada edukasi, dari siapa? Dari keluarga, lingkungan, dan sekolah. Orangtua tidak bisa mengalahkan sepenuhnya ke sekolah, bagaimana peran keluarga di rumah. Kalau ketiganya berjalan bagus, tentu tidak mungkin terjadi kekerasan," imbuhnya.

Pemuda 33 tahun menyebut pelaku klitih bukan hanya sebagai pelaku kekerasan, tetapi juga korban. Sehingga kekerasan untuk melawan kekerasan bukanlah cara untuk membasmi klitih. 

"Ajak biacara, ajak ngobrol, mereka sangat enak diajak ngobrol. Makanya kami beri ruang di sini (Galeri Lorong), ada workshop dimana dia bisa bercerita, menulis, dan lain-lain," tuturnya.

"Bukan kami mendukung klitih, bukan. Tetapi kekerasan bukan cara yang tepat untuk menyelesaikan permasalah ini (klitih)," ujarnya.

Selain mengangkat tema kekerasan, uniknya proyek kolaborasi ini adalah melibatkan pengunjung dalam pameran.

Caranya adalah membiarkan pengunjung ikut corat-coret untuk mengekspresikan diri.

Bagi pengunjung yang penasaran dengan pemeran tersebut, bisa langsung datang ke Galeri Lorong setiap pukul 11.00 hingga 17.00.

Pameran berlangsung selama satu bulan, dari 6 Maret 2021 hingga 6 April 2021. (Tribun Jogja/Christi Mahatma Wardhani)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved