Kuliner

Blusukan ke Dapur Tempo Gelato di Tamansiswa, Ada Bahan Perasa Es Krim Unik

Sejak awal tahun 2015, Tempo Gelato berupaya untuk menghadirkan bahan-bahan alami di setiap racikan es krimnya.

Editor: Amalia Nurul F
Tribun Jogja/Ardhike Indah
Pemilik Tempo Gelato, Ema Susmiyarti memperlihatkan dapur yang berisi bahan baku pembuatan gelato. 

TRIBUNTRAVEL.COM - Lumrahnya, cabai merah digunakan sebagai pelengkap di suatu masakan. 

Namun, apakah Anda pernah berpikir bahwa cabai merah menjadi salah satu bahan yang digunakan untuk membuat es krim gelato?

Ternyata, cabai sebagai perasa es krim bukan barang baru di Tempo Gelato.

Rasa pedas cabai merah itu memang sengaja diolah untuk es krim dan disajikan untuk konsumen.

“Iya, untuk rasa choco spicy itu kami menggunakan cabai merah. Jadi, cabai merah itu kami olah agar rasanya menyatu dengan cokelat,” ungkap Latifa, koki Tempo Gelato, beberapa waktu lalu.

Ia serius dengan pernyataan tersebut. Sebab, sejak awal tahun 2015, Tempo Gelato berupaya untuk menghadirkan bahan-bahan alami di setiap racikan es krimnya.

Penggunaan cabai merah sebagai perasa di setiap cone atau cup gelato itu memang cukup asing di telinga.

Akan tetapi, jika ditelusuri lebih lanjut, ternyata Tempo Gelato telah memadukan rasa sayuran di beberapa varian sebelumnya.

Contohnya, rasa jahe dan kemangi yang mereka dapatkan dari hasil olahan kedua sayuran tersebut.

Kedengarannya memang aneh, tapi ternyata kedua rasa itu tidak kalah enak dengan rasa lainnya yang kekinian.

“Untuk rasa mint, itu kami pakai daun mint asli, enggak rasa-rasa yang sudah bubuk. Kami mengolah daun mint itu dengan racikan gelato khas Tempo Gelato,” ucapnya lagi.

Selain rasa dari sayuran, Tempo Gelato juga menyediakan rasa buah-buahan dan kekinian, seperti kiwi, stroberi, rum raisin, green tea, oreo dan masih banyak lainnya.

Latifa meyakinkan, rasa di Tempo Gelato ini selalu terjaga. 

Ia juga menjawab pertanyaan banyak orang mengenai gelato yang tidak laku akan dibawa kemana.

“Banyak orang penasaran kali ya, gelato ini dibuang apa gimana sih kalau tidak laku? Jawabannya, kami taruh di bawah pancuran air,” katanya sambil tertawa.

Setiap hari dan setiap pagi, tim akan mencicipi gelato yang sempat dipajang di etalase. Ini dilakukan untuk mengetahui kualitas gelato yang akan dijual kepada pengunjung.

“Nah, setiap hari, kami cicipi dan lihat dulu satu-satu.

Gelato akan kami taruh di pancuran air tadi kalau tekstur sudah terlihat rusak atau lebih dari lima harian setelah dipajang,” beber Latifa.

Dari situ, Latifa yakin gelato yang dijual Tempo Gelato aman untuk disantap dan tanpa bahan berbahaya.

Setiap kulkas yang ada di dapur juga terlihat penuh terisi dengan susu, es batu, krimer dan bahan-bahan lain untuk menyajikan rasa gelato yang original.

Dapur Tempo Gelato memiliki beberapa ruangan yang digunakan untuk proses pembuatan gelato. 

Bahkan, ada salah satu tempat dengan dua unit AC sebagai tempat produksi sekaligus menaruh cone dengan cokelat yang butuh hawa dingin.

“Kami memasak gelato itu mulai jam 7-12 siang, sekarang ini. Kalau pas tidak pandemi ya jam 7-15,” pungkas Latifa.

Bangunan Unik

Jika dilihat dari depan, fasad Tempo Gelato atau Il Tempo Del Gelato itu memang cukup unik. Nuansa batu bata terlihat mendominasi dengan warnanya yang merah.

Masuk ke dalam, pengunjung akan diperlihatkan jam dinding besar dengan angka romawi.

Rangka fasadnya cukup tinggi, membuat siapapun yang duduk di situ merasa seperti di kastil Italia.

“Kalau bangunan ini memang yang ide semua Pak Pascal, salah satu pemilik usaha ini juga, mulai dari jamnya yang besar, bangunannya, bentuk lampu-lampunya, cagaknya,” ungkap Ema Susmiyarti, pemilik Tempo Gelato.

Dinding yang didominasi dengan kaca turut memudahkan sinar matahari masuk sehingga pencahayaan di dalam cukup terang dengan tambahan lampu-lampu kuning.

Kursi yang disediakan cocok untuk diisi dua atau empat orang bersamaan.

Warna ornamen senada, cokelat kemerahan dengan paduan hitam yang membuat mata adem melihatnya.

“Originalitas ini selalu kami pertahankan di beberapa outlet yang ada. Sehingga, kalau dilihat kan hampir sama semua bentuk bangunannya. Ini ciri khas kami,” tandas Ema. (Tribun Jogja/Ardhike Indah)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved