Kopi

Menyeruput Kopi Magelang dengan Sensasi Rasa Sayuran Dalam Tiap Seduhannya

Kopi asal Magelang produksi petani asal Pakis kini mulai menunjukkan kualitasnya.

Editor: Amalia Nurul F
Tribun Jogja/Yosef Leon Pinsker
Petani dan barista menunjukkan serta mengolah Kopi Magelang yang mempunyai cita rasa khas beraroma sayuran yang kini perlahan-lahan mulai menembus pasar lokal. 

TRIBUNTRVAEL.COM - Pesona dan daya tarik kopi kian diminati anak muda dan masyarakat beberapa tahun belakangan.

Beragam coffee shop marak bermunculan di sudut-sudut kota.

Dari beragam kopi nusantara yang sudah beken duluan, kopi asal Magelang produksi petani asal Pakis kini mulai menunjukkan kualitasnya.

Adalah Dusun Jerukan, Desa Jambewangi, Kecamatan Pakis, Magelang yang menjadi sentra kopi di daerah Magelang.

Tumbuhan asal Afrika ini ditanam di ketinggian 1200-1400 meter dari permukaan laut (mdpl) oleh petani setempat. 

Ada dua jenis kopi Arabica yang ditaman di daerah itu sejak 2013 lalu yakni jenis lini s dan juga kartika dengan jumlah 2250 pohon yang dikelola secara tumpang sari bersamaan dengan tanaman sayuran. 

"Kami menanam kopi tidak semata-mata hanya bernilai ekonomis, tapi juga untuk memperkuat kontur tanah, konservasi, dan kesuburan tanah. Maka cita rasanya ada khas aroma dan rasa sayuran," kata Muhaimin, ketua kelompok petani kopi Mekarsari Desa Jambewangi, tempo hari.

Pihaknya memilih tanaman kopi dibanding tanaman keras lainnya untuk tanaman tumpang sari dikarenakan daya tutup daunnya yang cukup bagus.

Tingginya yang sekitar 1,5 meter dinilai cukup baik untuk penyinaran tanaman lainnya. 

Tidak hanya di Desa Jambewangi saja, tanaman kopi tersebut juga tersebar di beberapa desa lain di Kecamatan Pakis semisal Desa Gondangsari dan Desa Ketundan. Produksinya juga kian meningkat dari tahun ke tahun.

Pada saat pertama kali panen di 2016 lalu hasil panen masih sebanyak 45 kg biji kopi mentah, di tahun kedua yakni 2017 petani berhasil menghasilkan sebanyak 250 kg, dan 500 kg di tahun ketiga serta 1,5 ton di tahun keempat ini. 

"Produksinya sudah mencapai 1,5 ton biji kopi mentah per tahun dengan harga Rp85 ribu untuk biji kopi mentah dan Rp200 ribu untuk kopi yang sudah disangrai," jelasnya. 

Saat ini, kopi Arabica Magelang masih menyasar beberapa kafe dan juga coffee shop daerah sekitar dan juga Magelang.

Sebelum pandemi lalu, bahkan kopi Arabica Magelang telah dipasarkan sampai ke Jakarta. 

Alhasil, ekonomi petani setempat juga terangkat berkat produksi kopi tersebut.

Saat ini jumlah tanaman kopi di daerah setempat bahkan mencapai 50.000 pohon tanaman baru lainnya dan menjadi tanaman pilihan bagi para petani. 

Maya, salah satu sensory skill kopi Magelang menyebutkan, potensi kopi Magelang sebenarnya bisa bersaing dengan kopi nusantara lain yang telah lebih dulu dikenal.

Namun, karena keterbatasan sosialisasi, kopi Magelang belum dikenal oleh masyarakat. 

Minimnya perhatian dari pemerintah dan juga tes pasar yang kurang di wilayah Magelang disebut menjadi salah satu kendala.

Padahal, sebagai salah satu tempat wisata, Magelang mampu mengenalkan kopi asli asal daerahnya sendiri kepada wisatawan. 

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved