Pameran

Pameran Temporer “Harmoni Cina-Jawa dalam Seni Pertunjukan” digelar di Museum Sonobudoyo

Pameran ini digelar mulai 26 Februari hingga 27 Maret 2021, mulai pukul 09.00-21.00 WIB, dan tidak dipungut biaya masuk

Editor: Amalia Nurul F
Tribun Jogja/Hanif Suryo
Pameran Temporer "Harmoni Cina-Jawa dalam Seni Pertunjukan" di Gedung Pameran Temporer Museum Sonobudoyo, Jl. Pangurakan No. 4 Yogyakarta. 

Koleksi wayang ini dibelinya dari Dr. F. Seltmann seorang indolog dari Universitas Tubingen, yang pada tahun 1960 membeli satu set Wacinwa dari Yogyakarta.

“Museum Sonobudoyo bermaksud memproduksi ulang (membuat replika) koleksi yang terdapat di Yale University agar dapat melengkapi jalan cerita Wacinwa yang ada,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Koleksi, Konservasi dan Dokumentasi Museum Sonobudoyo, Ery Sustiyadi menjelaskan, koleksi Wacinwa di Museum Sonobudoyo mulanya diperoleh pada masa Java Institute, yang merupakan embrio Museum Sonobudoyo.

“Pada tahun 1933-1934, Java Institute membeli satu set kotak wayang khas Cina dari Liem Kie Tjwan, seorang kapitan Cina di Yogyakarta,” katanya.

“Bersama kotak tersebut, Java Institute juga membeli naskah wayang yang disusun sebagai pelengkap wayang. Isi naskah ini seperti halnya Serat Kandha Wayang Thithi lakon Tig Jing," urai Ery.

Koleksi-koleksi yang dipamerkan juga tak hanya koleksi milik Museum Sonobudoyo, tapi juga koleksi yang dipinjam dari beberapa institusi lain.

Pameran Temporer “Harmoni Cina-Jawa dalam Seni Pertunjukan” di Museum Sonobudoyo.
Pameran Temporer “Harmoni Cina-Jawa dalam Seni Pertunjukan” di Museum Sonobudoyo. (Tribun Jogja/Hanif Suryo)

Di antaranya busana Tari Srimpi Muncar dan Beksan Menak koleksi Keraton Yogyakarta, Busana Kethoprak koleksi Gubug Art, Barongsai atau Samsi dan Liong dari Perkumpulan Budi Abadi.

Serta Wayang Potehi koleksi Wayang Potehi Gudo Jombang, dan Kaset Sudiro Ngumboro koleksi RRi Yogyakarta.

Enam seni pertunjukan turut ditampilkan dalam pameran ini.

Pertunjukan tersebut yakni Srimpi Muncar dan Beksan Golek Menak yang keduanya adalah tari klasik Keraton Yogyakarta Hadiningrat.

Serta empat kesenian di luar keraton seperti kethoprak, samsi/barongsai, potehi, dan wacinwa.

Dengan caranya masing-masing, keenam kesenian tersebut menunjukkan bagaimana pengampu kesenian Jawa dan Cina yang hidup berdampingan di Yogyakarta mengembangkan sikap terbuka, untuk saling berbagi, memberi dan menerima unsur budaya masing-masing.

Seni pertunjukan menjadi peretas sekat-sekat sektarian.

Gan Thwan Sing, Tokoh Jenius di Bidang Pewayangan

Berbicara Wacinwa, tak bisa dilepaskan dari seorang jenius di bidang pewayangan, Gan Thwan Sing, seorang Tionghoa dari Jatinom kelahiran 1885.

Gan Thwan Sing merupakan sosok pengagum tontonan wayang kulit.

Di samping itu, ia juga menyukai cerita-cerita klasik Tiongkok, baik yang bergambar maupun yang dikisahkan kakeknya.

Pada awal abad ke-20, ia datang ke Yogyakarta.

Kebetulan di kota ini berkembang seni pertunjukan tradisional Jawa, wayang dan kethoprak.

Dari pergaulannya dengan para seniman Jawa, Gan Thwang Sing menggagas untuk memadukan antara seni pertunjukan wayang kulit Jawa dengan cerita klasik Tiongkok.

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved