Uniknya Bonsai Kelapa yang Digandrungi Masyarakat di Masa Pandemi

Biasanya tanaman yang dijadikan bonsai adalah pohon beringin, asam jawa, pinus, cemara udang, hingga pohon jambu, bonkla menjadi lain dari yang lain.

Editor: Amalia Nurul F
Tribun Jogja/Ahmad Syarifudin
Agung Dewanto, warga Wedomartani Ngemplak Sleman menunjukkan bonsai kelapa. 

TRIBUNTRAVEL.COM – Hobi mengoleksi dan merawat tanaman hias menjadi hal yang digemari masyarakat semenjak pandemi covid-19.

Berbagai tanaman dapat menjadi pilihan untuk menambah asri lingkungan rumah.

Namun jika ingin tanaman yang unik, bonsai kelapa (bonkla) bisa jadi pilihan.

Jika biasanya tanaman yang dijadikan bonsai adalah pohon beringin, asam jawa, pinus, cemara udang, hingga pohon jambu, bonkla menjadi lain dari yang lain.

Salah satu penggemar bonkla, Agung Dewanto warga Wedomartani, Ngemplak, Sleman.

Dirinya hingga kini memiliki 50an bonsai kelapa di rumahnya.

Agung mengisahkan, hobi membuat bonkla berawal dari adiknya yang mengoleksi banyak bonsai.

Entah mengapa, ia mengaku langsung tertarik begitu melihat ada bonsai pohon kelapa.

“Nggak tau kenapa. Saya langsung tertarik dengan bonsai kelapa,” ujarnya, tempo hari.

Bentuk bonsai kelapa terbilang unik, tempurung kelapa berada di atas permukaan pot berisi tanah.

Tempurung kelapa tersebut merupakan tunas kelapa, dengan daun yang hijau mencuat dari dalam tempurung laiknya tunas kelapa pada umumnya.

Agung mengatakan, semua jenis kelapa pada dasarnya bisa dibuat bonsai.

Bonsai kelapa yang sedang digandrungi saat pandemi.
Bonsai kelapa yang sedang digandrungi saat pandemi. (Tribun Jogja/Ahmad Syarifudin)

Namun ada jenis kelapa tertentu yang terlihat bagus saat dibuat bonsai.

Antara lain, kelapa gading yang berwarna oranye dan kuning.

Juga kelapa puyuh dan kelapa minion dengan bentuk tempurung yang panjang.

Membuat bonsai kelapa, diakuinya gampang-gampang susah.

Agung pernah mengambil tanaman kelapa yang baru bertunas dari alam, di sekitar pekarangan rumah.

Tanaman kelapa tersebut hendak dirawat untuk dijadikan bonsai.

Namun tiga bulan kemudian, tanaman tersebut justru mati.

“Jika diambil dari alam, syaratnya harus diambil beserta tanahnya itu. Itu pun belum tentu hidup,” paparnya.

Sumber: Tribun Jogja

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved