Pameran

‘The Wanderlust’ Perjalanan Pengkaryaan Seniman di Tengah Pandemi

Berlokasi di Galeri Kohesi Initiatives, Tirtodipuran link, Galih memamerkan 19 karya terbarunya. Pameran ini digelar mual 15 Februari hingga 28 Maret

Editor: Amalia Nurul F
Tribun Jogja/Hanif Suryo
Pameran tunggal seniman kontemporer, Galih Reza Suseno bertajuk "The Wanderlust" di Galeri Kohesi Initiatives, Tirtodipuran Link. 

TRIBUNTRAVEL.COM – Galih Reza Suseno mentranslasikan kemuakan akibat krisis yang melanda dunia sejak awal 2020.

Seniman kontemporer ini pun terpantik untuk menghasilkan karya-karya terbarunya yang dipamerkan di pameran tunggal bertajuk “The Wanderlust”.

Berlokasi di Galeri Kohesi Initiatives, Tirtodipuran link, Galih memamerkan 19 karya terbarunya.

Pameran ini digelar mual 15 Februari hingga 28 Maret 2021.

Dalam rangkaian karya-karya terbarunya, tampilan visual karya Galih memiliki bentuk-bentuk tekstur yang menyerupai organisme hidup.

The Wanderlust menunjukkan bagaimana perasaan Galih saat bekerja di era pandemi, dalam ketidakpastian dan kerapuhan.

Apapun penderitaan dan perjuangan yang diderita manusia, Galih percaya bahwa saat ini adalah ruang untuk terus melihat dan merasakan cinta, kebaikan, dan persatuan global.

Kebaikan ini mendorong Galih untk merealisasikan keyakinan kecilnya melalui karya yang diciptakan untuk pameran tunggal The Wanderlust, yang merupakan masa yang tidak pasti.

“Ini merupakan pameran pertama Galih Suseno di galeri kami. Adapun The Wanderlust dalam bahasa Indonesia bisa artinya keinginan untuk menjelajah,” papar Public Relation & Supervisor Program Tirtodipuran Link, Georgius Amadeo belum lama ini.

Karya-karya Galih yang ditampilkan dalam pameran bertajuk The Wanderlust.
Karya-karya Galih yang ditampilkan dalam pameran bertajuk The Wanderlust. (Tribun Jogja/Hanif Suryo)

“Ketika di masa pandemi ini tidak bisa bepergian ke mana-mana, tapi dia (Galih Suseno) sebagai seniman tentunya sudah biasa bekerja di rumah,” sambungnya.

“Dia berusaha berpikir keras di mana asal-usul keburukan di dunia ini. dia ingin menjelajah dan mencari jawaban dari seluruh keburukan di dunia ini,” lanjutnya.

“Karya-karya baru ini adalah kontemplasi dan harapannya (Galih Suseno) bagi dunia,” imbuhnya.

Bagi Galih Suseno, The Wanderlust mewakili rasa penasarannya terhadap alam semesta.

“The Wanderlust adalah sebuah pengembaraan dan upaya mengingat kembali persentuhan saya dengan alam, meskipun di masa pandemi dalam mempersiapkan pameran ini saya lebih sering berkarya di studio karena takut ke mana-mana,” ungkap Galih.

“Tapi pikiran saya ke mana-mana. Saya jadi banyak membaca, menonton film, mendengarkan orang ngomong, seminar online, diskusi Zoom,” tambahnya.

“Bagi saya, benar, tidak ada sesuatu yang muncul dari ketiadaan. Apa yang ada dalam alam mimpi saya memang terwujud dalam karya saya yang surreal, namun itu disebabkan oleh stimulus dari ingatan akan film-film yang saya gemari,” tuturnya.

“Bagi saya, meskipun mengejutkan, pandemi bukanlah tiba-tiba. Ia ada meski tak kasat mata pasti karena sesuatu terlebih dahulu ada,” katanya.

“Sebagai upaya saya menjawab rasa penasaran terhadap penyebabnya, imajinasi saya tergugah ketika melihat video mikroorganisme kecil yang dilihat dalam mikroskop,” ujarnya.

“Seakan ada jagat lain yang renik dan unik. Saya tertarik dengan mikroorganisme, sehingga objek tersebut seringkali muncul di karya-karya saya kali ini,” imbuhnya.

Pengunjung menikmati karya-karya Galih yang ditampilkan dalam pameran.
Pengunjung menikmati karya-karya Galih yang ditampilkan dalam pameran. (Tribun Jogja/Hanif Suryo)

Dalam proses pengkaryaannya, Galih mengeksplorasi berbagai teknik dan material, menemukan subject matter, dan ideologi baru sebagai respon aktifnya dalam membaca fenomena yang terjadi.

Ekspresi Galih bergaya surealis dekoratif, mencerminkan kegelisahannya pada tema spiritual, alam semesta dan pengalaman hidupnya sendiri.

Eksplorasi teknik artistik yang sering digunakan dalam karyanya adalah Pretotan (memeras cat langsung di atas kanvas), hingga membentuk karya tekstur yang hampor mirip dengan karya tiga dimensi.

Mencermati karya-karya Galih dalam The Wanderlust, emosi dan perasaan kita terbawa dalam ruang perjalanan di belantara panjang sarat imajinasi.

Segala peristiwa yang menginspirasi Galih, telah diolahnya sedemikian rupa sehingga menjadi karya-karya atraktif dan menarik.

Pameran ini juga menjadi kali pertama Galih memamerkan karya tiga dimensi dengan menggunakan material-material yang asing baginya seperti resin dan epoclay.

Instalasi pertamanya ini tetap memakai warna-warna yang cerah dan ceria.

Warna=-warna ceria dominan pada instalasi yang dipamerkan.
Warna=-warna ceria dominan pada instalasi yang dipamerkan. (Tribun Jogja/Hanif Suryo)

Berbentuk semacam virus, karya yang diberi judul “The Symptom” merupakan representasi virus corona.

Karya ini dibuat oleh Galih sebagai perwujudan keterserakan manusia dalam memahami fenomena pandemi covid-19 yang tak terlihat, terselubung, dan samar.

Karya instalasi ini juga dibuat sebagai symptoms, yakni gejala atau tanda harapan dalam masa pandemi ini supaya virus-virus kembali menemukan inang atau rumah yang sesungguhnya.

Roby Dwi Antono Kumpulkan dan Rangkai Memori Masa Kecil dalam “Lucid Fragments”

Bersamaan pameran tunggal Galih Suseno, Galeri Srisasanti Syndicate juga menggelar pameran tunggal lainnya oleh Roby Dwi Antono bertajuk “Lucid Fragments” yang merupakan narasi kenangan personal yang ia kumpukan dan rangkai dari ingatannya.

Hal yang menarik dari pameran tunggal keduanya bersama Galei Srisasanti Syndicate ini, Roby menggunakan medium besi galvanis di beberapa karya.

Ia belum pernah menggunakan media ini sebelumnya.

Dalam 62 karya baru yang belum pernah dipamerkan ini, Roby akan menerjemahkan kenangan sentimentalnya dalam bentuk karya pop surealis.

Ia memang sangat dikenal dengan lukisan bergaya lowbrow.

Roby mencoba mengingat kembali kenangan masa kecilnya dalam campuran momen-momen kecil tak terlupakan tentang keluarganya sendiri,orang-orang yang tumbuh bersamanya, dan tempat yang ia sebut sebagai rumah.

Dengan berbagai macam kenangan baik maupun buruk, pameran ini merupakan representasi dari nostalgia dan kehidupan, akumulasi masa lalu dan pengejaran masa depan yang tak terduga.

“Dalam rangkaian lukisan dan gamar-gambar ini, saya menggabungkan teknik dan referensi visual baru bersama dengan simbolisme yang sudah dikenal dan idiom pribadi, Lucid Fragments menjadi upaya yang disengaja untuk menceritakan masa lalu saya sendiri,” kata Roby.

“Tidak secara faktual, maupun dengan urutan krinilogis, tetapi dalam campuran momen-momen kecil yang terlupakan tentang keluarga saya, orang-orang yang tumbuh bersama saya, dan tempat yang saya sebut rumah,” papar seniman yang dikenal dengan gaya pop surealis ini.

Roby kerap mewakili Indonesia dalam pameran maupun festival seni di berbagai negara di antaranya New York, Los Angeles, Tokyo, Melbourne, dan Manila.

Pameran tunggal Galih Suseno dan Roby Dwi antono dibuka mulai pukul 12.00-18.00 WIB setiap Selasa-Minggu, 15 Februari-28 Maret 2021 di Tirtodipuran Link.

Pengunjung tidak dipungut biaya, tapi harus menjalankan protokol pencegahan covid 19 seperti memakai masker, mencuci tangan atau memakai hand sanitizer, dan menjaga jarak. (Tribun Jogja/Hanif Suryo)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved