Pameran

‘The Wanderlust’ Perjalanan Pengkaryaan Seniman di Tengah Pandemi

Berlokasi di Galeri Kohesi Initiatives, Tirtodipuran link, Galih memamerkan 19 karya terbarunya. Pameran ini digelar mual 15 Februari hingga 28 Maret

Editor: Amalia Nurul F
Tribun Jogja/Hanif Suryo
Pameran tunggal seniman kontemporer, Galih Reza Suseno bertajuk "The Wanderlust" di Galeri Kohesi Initiatives, Tirtodipuran Link. 

Ekspresi Galih bergaya surealis dekoratif, mencerminkan kegelisahannya pada tema spiritual, alam semesta dan pengalaman hidupnya sendiri.

Eksplorasi teknik artistik yang sering digunakan dalam karyanya adalah Pretotan (memeras cat langsung di atas kanvas), hingga membentuk karya tekstur yang hampor mirip dengan karya tiga dimensi.

Mencermati karya-karya Galih dalam The Wanderlust, emosi dan perasaan kita terbawa dalam ruang perjalanan di belantara panjang sarat imajinasi.

Segala peristiwa yang menginspirasi Galih, telah diolahnya sedemikian rupa sehingga menjadi karya-karya atraktif dan menarik.

Pameran ini juga menjadi kali pertama Galih memamerkan karya tiga dimensi dengan menggunakan material-material yang asing baginya seperti resin dan epoclay.

Instalasi pertamanya ini tetap memakai warna-warna yang cerah dan ceria.

Warna=-warna ceria dominan pada instalasi yang dipamerkan.
Warna=-warna ceria dominan pada instalasi yang dipamerkan. (Tribun Jogja/Hanif Suryo)

Berbentuk semacam virus, karya yang diberi judul “The Symptom” merupakan representasi virus corona.

Karya ini dibuat oleh Galih sebagai perwujudan keterserakan manusia dalam memahami fenomena pandemi covid-19 yang tak terlihat, terselubung, dan samar.

Karya instalasi ini juga dibuat sebagai symptoms, yakni gejala atau tanda harapan dalam masa pandemi ini supaya virus-virus kembali menemukan inang atau rumah yang sesungguhnya.

Roby Dwi Antono Kumpulkan dan Rangkai Memori Masa Kecil dalam “Lucid Fragments”

Bersamaan pameran tunggal Galih Suseno, Galeri Srisasanti Syndicate juga menggelar pameran tunggal lainnya oleh Roby Dwi Antono bertajuk “Lucid Fragments” yang merupakan narasi kenangan personal yang ia kumpukan dan rangkai dari ingatannya.

Hal yang menarik dari pameran tunggal keduanya bersama Galei Srisasanti Syndicate ini, Roby menggunakan medium besi galvanis di beberapa karya.

Ia belum pernah menggunakan media ini sebelumnya.

Dalam 62 karya baru yang belum pernah dipamerkan ini, Roby akan menerjemahkan kenangan sentimentalnya dalam bentuk karya pop surealis.

Ia memang sangat dikenal dengan lukisan bergaya lowbrow.

Roby mencoba mengingat kembali kenangan masa kecilnya dalam campuran momen-momen kecil tak terlupakan tentang keluarganya sendiri,orang-orang yang tumbuh bersamanya, dan tempat yang ia sebut sebagai rumah.

Dengan berbagai macam kenangan baik maupun buruk, pameran ini merupakan representasi dari nostalgia dan kehidupan, akumulasi masa lalu dan pengejaran masa depan yang tak terduga.

“Dalam rangkaian lukisan dan gamar-gambar ini, saya menggabungkan teknik dan referensi visual baru bersama dengan simbolisme yang sudah dikenal dan idiom pribadi, Lucid Fragments menjadi upaya yang disengaja untuk menceritakan masa lalu saya sendiri,” kata Roby.

“Tidak secara faktual, maupun dengan urutan krinilogis, tetapi dalam campuran momen-momen kecil yang terlupakan tentang keluarga saya, orang-orang yang tumbuh bersama saya, dan tempat yang saya sebut rumah,” papar seniman yang dikenal dengan gaya pop surealis ini.

Roby kerap mewakili Indonesia dalam pameran maupun festival seni di berbagai negara di antaranya New York, Los Angeles, Tokyo, Melbourne, dan Manila.

Pameran tunggal Galih Suseno dan Roby Dwi antono dibuka mulai pukul 12.00-18.00 WIB setiap Selasa-Minggu, 15 Februari-28 Maret 2021 di Tirtodipuran Link.

Pengunjung tidak dipungut biaya, tapi harus menjalankan protokol pencegahan covid 19 seperti memakai masker, mencuci tangan atau memakai hand sanitizer, dan menjaga jarak. (Tribun Jogja/Hanif Suryo)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved