Pameran

Pameran Tunggal Laila Tifah, Bicara Tangguhnya Sosok Perempuan Lewat Lukisan

Pameran tunggal Laila Tifah bertajuk ‘Sri’ di Jogja Gallery pada 7-17 Februari 2021.

Editor: Amalia Nurul F
Tribun Jogja/Hanif Suryo
Suasana pameran tunggal perupa Yogyakarta, Laila Tifah bertajuk 'Sri' di Jogja Gallery pada 7-17 Februari 2021. 

TRIBUNTRAVEL.COM – Lalila Tifah, terpantik gairah berkaryanya oleh bermacam kecemasan dan pergulatan diri serta subjektivitas atas eksistensinya sebagai perempuan.

Hal itu terpotret dalam 35 lukisan dan 20 sketsa dalam pameran tunggal Laila Tifah bertajuk ‘Sri’ di Jogja Gallery pada 7-17 Februari 2021.

Laila Tifah menjelaskan, tema dalam karya-karyanya merupakan akumulasi pikiran dan rasanya dalam kurun waktu lama.

Hal itu muncul sewaktu-waktu dan mengganggunya.

Seolah meminta digubah menjadi sebentuk karya.

Karya-karya dalam pameran tunggal ‘Sri’ yang terbaru dibuat tahun 2021 dan terlawas pada 2004.

Di tangan lulusan Desain Interior, Fakultas Seni Rupa dan Desain, ISI Yogyakarta (1992-1997) itu, lahir karya berkesan mistis, gelap, dan dalam.

Pameran ini merupakan pamaeran tunggal kedua Laila Tifah setelah ‘Malam Pertama’ di Jakarta, 2004 silam.

“Bagian menantang dalam berkarya bagiku, bukan dari segi teknik atau media apa yang akan kugunakan,” katanya.

“Tetapi, menjaga agar pikiranku selalu aktif, baik itu pikiran sadar maupun alam bawah sadarku,” lanjutnya.

“Itulah tantangan terberat, yang kuupayakan selalu ada dalam diriku,” imbuhnya.

“Saat itulah aku sudah merasa cukup mendapatkan penafsiran akan suatu benda atau peristiwa,” ungkap Laila.

Lebih lanjut, ia menerangkan, tema dalam karya-karyanya bukan berasal dari sesuatu yang dilihat selintas atau tiba-tiba.

Suasana pameran tunggal perupa Yogyakarta, Laila Tifah bertajuk 'Sri' di Jogja Gallery pada 7-17 Februari 2021
Suasana pameran tunggal perupa Yogyakarta, Laila Tifah bertajuk 'Sri' di Jogja Gallery pada 7-17 Februari 2021 (Tribun Jogja/Hanif Suryo)

Semua merupakan akumulasi dari apa yang pernah dipikirkan dan dirasakan dalam kurun waktu lama, muncul kembali, mengganggu, untuk segera dieksekusi sebagai karya.

Sementara, soal karya-karyanya yang bersifat personal, menurut dia, hal itu lantaran tidak mungkin membuat karya dengan sumber ide yang jauh dari dirinya.

“Apabila itu pun terjadi, aku akan mencari hubungan yang terdekat, antara sumber ide tersebut dengan diriku, sehingga tidak terasa berjarak lagi,” ungkapnya.

Sebab itulah, Laila Tifah menyebut karya-karyanya itu bersifat personal.

Meski mengandung pesan, dia menyerahkan sepenuhnya tafsir atas karya-karyanya itu kepada penonton.

“Karyaku adalah bercerita, dengan titik pandang humanisme, jadi selalu ada yang ingin kusampaikan,” ujarnya.

“Akan tersedia ruang untuk penafsiran lain, sebagai bantuk interaksi antara aku dan karyaku dengan penonton,” ujarnya.

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved