Olahraga

Menguji Adrenalin dengan Waterline, Menyeberangi Air di Atas Seutas Tali

Dalam olahraga ini, sesorang harus berjalan di atas tali webbing dari ujung ke ujung, dengan ketinggian antara tali dan tanah yang cukup tinggi.

Editor: Amalia Nurul F
Tribun Jogja/Taufiq Syarifudin
Olahraga waterline di Embung Tambakboyo. 

TRIBUNTRAVEL.COM – Ada satu olahraga yang cukup unik. Slackline namanya.

Olahraga ini mengombinasikan kekuatan tangan, fokus, keseimbangan, dan nyali.

Dalam olahraga ini, sesorang harus berjalan di atas tali webbing dari ujung ke ujung, dengan ketinggian antara tali dan tanah yang cukup tinggi.

Biasanya, olahraga ini dilakukan di atas tanah lapangan.

Namun yang satu ini disebut waterline karena dilakukan di atas air.

Juga ada yang dilakukan di atas ketinggian atau gunung yang disebut highline.

Di Yogyakarta, olahraga memiliki komunitas bernama Slackline Jogja Community, yang diprakarsai oleh Andi Ardi (45).

Andi telah menjajal 26 tempat berbeda untuk melakukan olahraga highline.

Tempat yang paling ekstrem dan berkesan bagi Andi adalah Gunung Api Purba Ngalnggeran.

Di sana Andi dan rekannya membentangkan webbing sepanjang 60 meter lebih, dan jarak permukaan tanah dengan webbing sekitar 150 meter.

Ketinggian yang cukup mengerikan bagi kebanyakan orang.

“Kalau ada yang bilang ini hanya soal keseimbangan, saya sangkal,” ujarnya.

“Ini olahraga yang lebih banyak mengandalkan fokus dari otak, belum tentu nyali bagus, balance bagus, bisa olahraga ini,” ujar Andi, sapaan akrabnya.

Mereka biasa melakukan latihan di Embung Tambakboyo, Condong Catur, Sleman.

Andi bersama delapan rekannya bersiap untuk berjalan di atas tali.

Tali webbing dibentangkan sejauh sekitar 30 meter.

Kemudian diikatkan ke carabiner yang dipasang di ujung jembatan sebelah selattan, dengan pohon di seberangnya.

Rekan Andi, Amri Pristiawan menjadi yang pertama menjajal meniti tali.

Menantang adrenalin dengan meniti tali dalam olahraga waterline.
Menantang adrenalin dengan meniti tali dalam olahraga waterline. (Tribun Jogja/Taufiq Syarifudin)

Ia memasangkan web lock di tali yang telah dipasangnya di bagian pinggang.

Setelah dirasa kuat, Amri menguncikan web lock tersebut ke webbing yang akan digunakannyaa berjalan.

Perlahan, ia turun dengan menggantung seperti sedang bermain flying fox menuju ke tengah.

“Kita selalu utamakan keselamatan, cek semua kelengkapan, perisksa duku sudah aman apa belum ketika akan bermain, kalau belum aman jangan terburu-buru, kita pastikan betul,” ujar Andi.

Amri pun tampak fokus untuk menjaga keseimbangan di atas tali.

Langkah pertama dipijaknya, badan Amri berusaha menyeimbangkan tali dan kakinya.

“Semua kekuatan itu diberikan pada kaki kalau sudah mulai berjalan,” kata Andi.

Pada beberapa langkah ke depan, tubuh Amri jatuh kehilangan keseimbangan.

Posisi kepalanya di bawah, menggantung bak Spiderman.

Tangan Amri pun menarik tali dan menumpukan kaki agar tubuhnya kembali ke atas webbing.

Usahanya berhasil posisi duduk kembali diambilnya.

Amri pun berhasil berjalan cukup lama, langkah demi langkah dengan seksama.

Beberapa kali Amri terguling di sepertiga tengah, tapi ia tetap menyelesaikan permainnya dengan sepurna di sepertiga akhir.

Andi dan Amri telah menekuni olahraga ini sejak 2016 silam.

Awalnya, Andi mengikuti olahraga panjat tebing dan tidak tertarik dengan slackline.

Selang beberapa lama, Andi mencoba olahraga ini, ia cukup merasa kesulitan.

Dari sana lah muncul rasa penasaran untuk terus mencoba, hingga kini ia merasa ketagihan.

“Awalnya ternyata kok susah, tak pelajari seharian itu selama tiga jam dan bisa,” ungkapnya.

Ia mengatakan, untuk dapat menguasai olahraga ini, diperlukan ketekunan.

Tak bisa dihitung kapan waktu untuk menguasainya.

Sebab, cara belajar setiap orang berbeda, juga membutuhkan waktu yang berbeda pula.

Andi mengaku, ia pernah merasakan cedera serius karena jatuh saat melakukan slackline.

Saat itu keseimbangannya hilang dan tanah di bawahnya cukup tinggi.

Ketika terjatuh, kakinya mendarat dengan posisi yang salah.

Sehingga kecelakaan pun tak bisa terhidarkan.

Andi libur berlatih slackline selama dua bulan.

“Padahal pas awal-awal dulu, hampir setiap hari highline sama teman-teman,” kata Andi.

Kini Andi dan komunitasnya masih terus berlatih meski tak tentu kapan waktu latihannya.

Jika siapa pun terarik dengan olahraga ini, cukup datang langsung ke tempat berlatih.

Atau bisa juga mengubungi Andi lewat Instagramnya @andi.ardi. (Tribun Jogja/Taufiq Syarifudin)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved