Kerajinan

Menyulap Karung Goni Jadi Kerajinan Bernilai Tinggi

Kerajinan tersebut merupakan hasil dari memadupadankan karung goni dengan kain batik dan kain lurik khas Kulonprogo.

Editor: Amalia Nurul F
Tribun Jogja/Sri Cahyani Putri
Pemilik Ghoniku, Tri Nur Utami sedang memamerkan produknya di rumah produksinya yang berada di Jogoyudan, Kapanewon Wates, Kabupaten Kulon Progo. 

TRIBUNTRAVEL.COM – Banyak orang mengatakan, pekerjaan yang paling menyenangkan adalah hobi yang dibayar.

Kondisi itu lah yang dialami pemilik Kerajinan Ghoniku, Tri Nur Utami.

Nur, sapaan akrabnya mengisahkan, ia merintis usaha ini karena kesukaannya dengan barang-barang etnik, khususnya yang berbahan dasar dari karung goni.

Ia menganggap barang etnik memiliki keunikan tersendiri.

Dirinya juga melihat, ketika itu karung goni hanya digunakan sebagai wadah kopi.

Dari situ ia melihat peluang, ia pun memanfaatkan bahan tersebut untuk membuat tas.

“Jadi awalnya iseng-iseng dari hobi kemudian membawa hoki,” katanya.

“Awalnya juga hanya membuat tas saja lalu ada satu dua orang yang pesan,” sambungnya.

Untuk lebih meningkatkan usahanya, ia kemudian mengikuti pelatihan dari Dinas Koperasi dan UMKM Kulonprogo.

Selain itu, ia juga sering mengikuti setiap tawaran pameran yang diberikan baik berbayar maupun tidak berbayar.

Kini produk buatan Nur ada sebanyak 50 item yang terpajang di rumah produksinya di Jogoyudan, Kapanewon Wates, Kabupaten Kulonprogo.

Produk tersebut di antaranya tas, dompet, tempat tisu, taplak meja, dan sarung bantal.

Kerajinan tersebut merupakan hasil dari memadupadankan karung goni dengan kain batik dan kain lurik khas Kulonprogo.

Meski demikian, dirinya juga melayani konsumen jika menghendaki model lain.

“Jadi model tidak harus baku dari saya. Konsumen mau minta model seperti apa selagi saya mampu dan bisa akan saya buatkan,” paparnya.

“Yang terpenting bahan untuk membuat produk itu tersedia,” ujarnya.

Sebab, ia mengaku untuk mendapatkan bahan karung goni begitu susah.

Terlebih dengan kondisi pandemi saat ini, karung goni yang semula harganya Rp1.000 bisa menjadi dua kali lipat.

Adapun produk hasil tangannya dijual seharaga Rp30.000-Rp350.000.

Selain dijual di Indonesia, produk Ghoniku juga telah diekspor hingga ke Singapura dan Malaysia.

Dengan demikian, omzet yang didapatkan Nur bisa mencapai Rp60 juta.

Namun karena kondisi panedmi covid-19 ini, omzet yang didapatkan pun terjun bebas.

Ia hanya bisa mendapat omzet sekitar Rp5 juta saja. (Tribun Jogja/Sri Cahyani Putri)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved