Kerajinan

Sri Rahayu Sulap Koran Bekas Jadi Kerajinan Bekelas

Ditangan Sri, prosesnya tampak sangat mudah. Jemari tangannya bergerak lincah dan telaten menyambung gulungan demi gulungan.

Editor: Amalia Nurul F
Tribun Jogja/Ahmad Syarifudin
Sri Rahayu menunjukkan hasil kreasi kerajinan dari bahan limbah kertas korban, di rumahnya Nglempong Lor RT 07 RW 22 Sariharjo, Ngaglik, Sleman. 

TRIBUNTRAVEL.COM – Jemari tangan Sri Rahayu tampak bergerak lincah menganyam gulungan kertas koran yang telah dipotong, sembari duduk santai.

Wanita 55 tahun ini tampak sangat teliti dan luwes menyilangkan satu gulungan kertas dengan gulungan lainnya.

Tangan kanan sesekali mengoleskan lem sebagai perekat.

Sementara, jari tangan kirinya menjadi titik tumpu gulungan.

Tak lama kemudian, gulungan itu menjadi sebuah konstruksi anyaman.

“Proses awalnya seperti ini,” kata Sri sambil memperlihatkan gulungan kertas koran yang sudah terangkai.

Sri kemudian melanjutkan langkah berikutnya. Gulungan kertas koran itu dianyam kembali mengikuti pola kerajinan yang akan di bentuk.

Ditangan Sri, prosesnya tampak sangat mudah. Jemari tangannya bergerak lincah dan telaten menyambung gulungan demi gulungan.

Tak lama kemudian, kuran dari satu jam, sebuah kerajinan tempat pensil dari limbah koran tercipta.

“Bentuk ini yang paling simple,” katanya.

Setelah pola anyaman terangkai, proses selanjutnya adalah finishing dengan diberi pewarna agar menarik.

Proses pewarnaan ini Sri dibantu suaminya yakni Iwan Yuzoardi yang juga seorang seniman.

Sri mengisahkan, sebelum menggeluti kerajinan limbah koran, dirinya pernah bekerja di sebuah perusahaan asing yang bergeral di bidang furniture.

Tugasnya saat itu, ia membuat desain hingga bagian kontrol produksi.

Selain pekerjaan itu, alumnus Teknik Sipil Universitas Tidar Magelang tahun 2000 itu juga sering terlibat dalam sebuah proyek konstruksi.

Namun, sebuah musiibah terjadi. Sri mengaku terkena serangan jantung pada tahun 2014 hingga memaksanya untuk resign dari kerjaan.

Tahun itu menjadi titik balik kehidupannya.

“Karena suka desain, saya mulai main kerajinan. Awalnya kerajinan flannel dan perca. Saya buat menjadi boneka,” ungkapnya.

Seiring berjalan waktu, semangat dan minat memproduksi kerajinan terus tumbuh.

Suatu ketika, dia melihat tumpukan koran bekas.

Ia berpikir, daripada kertas dijual kiloan dengan harga murah, terbesit ide untuk memanfaatkan limbah tersebut menjadi produk bernilai ekonomi.

Melalui Google dirinya belajar, dan seketika itu langsung dipraktikkan.

Siapa sangka, bakat desain dan hobinya membuat pernak-pernik mengalir dalam jarya.

Limbah koran bekas itu, mulanya dipotong dan dibuat gulungan.

Lalu dianyam menjadi macam-macam kerjaninan, mulai dari vas bunga, tempat pensil, topi, replika cangkir, tempat permen, keranjang, hingga tas dengan beragam ukuran.

Ada puluhan bentuk kerajinan yang sudah dibuat.

“Semua bahannya, kami memanfaatkan limbah,” katanya.

Kerajinan berbahan limbah kertas koran buatannya dijual secara online dan offline.

Penjualan offline dengan menitipkan barang di sebuah showroom di Jalan Kaliurang.

Jangkauan pemasarannya pun merambah hingga Bandung, Jawa Baarat.

Sementara itu, penjualan online dilakukan dengan memanfaatkan platform Instagram dan WhatsApp.

Harga jualnya bervariasi, yakni antara Rp35.000 hingga Rp250.000, tergantung pola anyaman dan tingkat kerumitan.

Kerajinan limbah koran, awalnya laris manis.

Sri Rahayu mengaku sempat memiliki dua karyawan.

Namun sejak pandemi menyerang, industri kecil menengah mengalami pukulan luar biasa.

Produksinya anjlok, dua karyawan terpasa harus dirumahkan, karena terkendala oleh penjualan.

“Mudah-mudahan, pandemi ini segera berakhir,” tuturnya. (Tribun Jogja/Ahmad Syarifudin)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved