Museum

Menyaksikan Sejarah Perkembangan Batik Sambil Membatik Langsung di Museum Batik Yogyakarta

Didirikan pada 1973 dan diresmikan tahun 1979 silam, museum ini juga memuat sejarah perkembangan batik dari masa lalu hingga masa kini.

Editor: Amalia Nurul F
Tribun Jogja/Rendika Ferri Kurniawan
Pengunjung menikmati wisata sejarah batik dan membatik secara langsung di Museum Batik Yogyakarta di Jalan Dr Sutomo Nomor 13A, Kota Yogyakarta, Selasa (19/1/2021). 

“Museum ini dulu didirikan oleh Bapak Hadi Nugroho dan Ibu Dewi Sukaningsih, mereka beserta kawan-kawan delapan orang,” terangnya.

“Inisiasi sudah sejak tahun 1973. Akhirnya mereka mendirikan museum dan diresmikan oleh Dinas Kebudayaan dan Dinas Pariwisata pada tahun 1979. Saat ini sudah berarti 42 tahun berdiri,” tuturnya.

Ada sekitar 1.400 batik dan alat-alat batik yang tersimpan dalam museum ini.

Dari batik yang modern sampai batik klasik yang berusia 100 tahun lebih berasal dari tahun 1.800-an.

Di museum ini juga dipamerkan alat-alat membatik seperti canting, dan bahan membatik seperti malam.

Beberapa contoh pewarna alam dan sintetis dan alat yang digunakan untuk membuat canting, hingga proses membatik juga diperlihatkan.

Proses membatik diperlihatkan secara langsung.
Proses membatik diperlihatkan secara langsung. (Tribun Jogja/Rendika Ferri Kurniawan)

Koleksi museum merupakan koleksi dari Hadi Nugoroho dan Dewi Sukaningsih.

Koleksi berasal dari warisan, hibah, sampai koleksi pribadi.

Hadi Nugroho dan Dewi saat itu memang sangat mencintai batik.

Sehingga mereka memang menyisihkan waktu untuk berburu batik dengan kualitas baik.

Karya Sulam

Selain batik, ada juga sulam karya Dewi Sukaningsih.

Dewi memang menyenangi menyulam dari awal membuat kristik silang-silang sampai sulam acak.

Ia menyulam berbagai gambar, foto, poster dari tokoh-tokoh ternama seperti Sultan HB IX hingga Pangeran Diponegoro.

Koleksi sulam yang juga dipajang di ruang pamer Museum Batik Yogyakarta.
Koleksi sulam yang juga dipajang di ruang pamer Museum Batik Yogyakarta. (Tribun Jogja/Rendika Ferri Kurniawan)

Ada juga karya sulam raksasa dari karya Dewi dengan ukuran 4 meter x 90 sentimeter.

“Seperti itu yang menyulam gambar-gambar, foto-foto, poster-poster, itu beberapa dipajang. Sebagian lainnya ada di storage,” jelasnya.

“Termasuk yang paling besar, sampai 3,5 tahun sulaman 4 meter x 90 sentimeter. Dapat rekor MURI tahun 2000,” ungkapnya.

“Pada tahun 2001, Ibu Dewi mendapatkan rekor MURI sebagai museum sulaman pertama. Museum batik dan sulaman,” imbuhnya.

Selain dapat menikmati koleksi batik, di Museum Batik Yogyakarta, pengunjung dapat mecoba membatik sendiri secara langsung di kain selebar 45x35 sentimeter.

Pengelola telah menyiapkan sejumlah desain yang dapat dipilih.

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved