Soto

Soto Batok 30 Hasil Guyub Warga Bausasran

Harga satu porsinya cukup Rp5.000 saja. Soto disajikan dalam mangkuk batok atau tempurung kelapa. Ada pilihan soto, yakni soto ayam dan soto daging.

Editor: Amalia Nurul F
Tribun Jogja/Taufiq Syarifudin
Seorang yang sedang meracik soto di Soto Batok 30, Bausasran. 

Kata Fitri, sapaan akrabnya, rata-rata warga di situ kesulitan mendapat pemasukan ekonomi.

Kemudian ada ide tercetus saat para ibu tengah berbincang-bincang bersama.

“Nah, kebiasaan yang dulu ibu-ibu kumpul suka ghibah, ngobrolin nggak jelas, sekarang ibu-ibu kalau kumpul ngobrolin lebih lagi,” ujar Fitri.

Suasana guyub dan rukun itu membawa mereka menjadi komunitas yang solid di kampung.

Mereka sering memasak bersama untuk masak sehari-hari.

Hal itu juga punya tujuan agar orang-orang yang tidak memiliki penghasilan sama sekali bisa tetap terpenuhi perutnya.

“Bagi yang punya penghasilan ikut urunan, yang punya apa di rumah, dikeluarin, beras, sayur, bumbu-bumbu,” urainya.

Lama-kelamaan muncullah ide untuk membuka usaha bersama dengan modal yang dimiliki, dan sama rata.

Warga pun mulai melobi pemilik tanah kosong sebagai bakal lapak didirikan.

“Yang punya gerobak, ngeluarin gerobak, yang punya alat-alat dapur dikeluarin, yang punya meja kursi dikeluarin. Saya punya dekor, kita keluarkan,” paparnya.

Selepas warung tutup, pembagian hasil dilakukan dengan menghitung dulu pemasukan, lalu pengeluaran.

Tak lupa menyisihkan sebagian untuk dana kas, atau sebagai dana yang nantinya diputarkan kembali untuk membeli keperluan yang dapat diinventarisasi.

Sisanya, mereka membagi rata keuntungan pada yang andil di sana. Hingga sekarang modal yang dikeluarkan sudah tertutupi.

Harapan mereka pun terus berkembang. Di kemudian hari, cita-cita menjadikan Soto Batok 30 sebagai destinasi wisata kuliner.

Hal yang tak mustahil terwujud. Penataan demi penataan dilakukan oleh gotong-royong warga.

Eri, suami Fitri pun menyampaikan harapannya. Ke depan ia ingin Soto Batok 30 bisa buka setiap hari.

“Kalau pandemi sudah berakhir, kemungkinan bisa buka di hari-hari biasa,” katanya.

Warga yang kompak menjadi kunci konsistensi Soto Batok 30.

Semangat gotong-royong untuk saling mengingatkan kesejahteraan sesame menjadi visi besar setiap orang yang bekerja di sana. (Tribun Jogja/Taufiq Syarifudin)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved