Kesenian

Survive Garage Jadi Wadah Ekspresi Seniman Muda

Survive Garage ini dijadikan ruang kolektif. Siapa pun yang gemar dengan kesenian bisa berpartisipasi di sana.

Editor: Amalia Nurul F
Instagram Survive Garage
Kegiatan loka karya Artcycle di Survive Garage. 

TRIBUNTRAVEL.COM – Ada sebuah pemandangan mencolok di Jalan Nitiprayan.

Ada sebuah rumah dengan mural di sepanjang dindingnya.

Rumah tersebut adalah Survive Garage, sebuah komunitas seni yang dikenal di kalangan seniman Yogyakarta.

Survive Garage ini pun dijadikan ruang kolektif. Siapa pun yang gemar dengan kesenian bisa berpartisipasi di sana.

Sang penggagas Survive Garage, Bayu Widodo bersama istrinya Fitri DK menyapa hangat bagi siapa saja yang berkunjung.

Nama survive muncul saat Bayu masih di bangku kuliah, pada 2006.

Saat itu, di Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) ia dan teman-temannya berkolaborasi dalam sebuah pameran.

Lalu beberapa karya dapat dijual, seperti dompet, kaus, tato, dan berbagai macam cendera mata.

Tak disangka, banyak kolektor seni yang tertarik dengan karya yang ia tampilkan di pameran tersebut.

Akhirnya, muncullah sebuah gagasan untuk mendirikan sebuah ruang bagi seniman agar bisa berpameran.

Selepas lulus dari Jurusan Seni Lukis di Insitut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta pada 2008, ia pun mengontrak sebuah rumah di kawasan Bugisan, tak jauh dari SMSR Yogyakarta.

Di rumah kontrakan itulah Survive Garage lahir, tepatnya di ruangan garasi berukuran 3x3 meter, dibarengi dengan digelarnya pameran pertama.

“Tahun 2009 tidak banyak ruang yang mengakomodasi seniman muda untuk pameran, display karya, diskusi, berkolaborasi, lahirlah Suvive,” ungkap Bayu.

Usaha yang dibangun Bayu ini menjadi kontribusinya menampung segala kesenian anak-anak muda.

Hal ini dibuktikan dengan program-program yang digagasnya.

Mulai dari pameran seni, loka karya, diskusi, dan beberapa proyek kolaborasi dengan seniman maupun dengan warga sekitar di Yogyakarta.

Ada kolaborasi yang berkesan bagi Bayu.

Ia mengisahkan, di tahun 207, Survive bekerja sama dengan seorang seniman dari Brasil untuk melakukan pemetaan wilayah Sosrokusuman, tak jauh dari Malioboro.

Pada prosesnya, mereka melihat bahwa keresahan yang dirasakan warga Sosrokusuman waktu itu sama dengan kasus yang berada di sebuah kawasan di Brasil.

Kesamaannya yakni, ruang hidup dan ruang publik yang semakin sempit.

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved