Kuliner

Scottish Marmalade Selai Jeruk dari Skotlandia Diracik Warga Sleman

Sekelompok ibu rumah tangga di Sleman bergerak membuat selain jeruk atau Scottish Marmalade.

Editor: Amalia Nurul F
Tribun Jogja/Maruti Asmaul Husna
Grannys Scottish Marmalade. 

TRIBUNTRAVEL.COM – Selai merupakan pasangan tepat untuk menikmati roti tawar.

Paling familiar di masyarakat ada selai stroberi, selai nanas, atau selai kacang.

Namun bagaimana jika selai terbuat dari jeruk? Tentu masih jarang dikenal masyarakat.

Sekelompok ibu rumah tangga di Sleman berinisiatif membuat selain jeruk atau Scottish Marmalade.

Jenis selai ini aslinya berasal dari negara Skotlandia.

Fani Listyana, warga Gunungkidul yang bersuamikan warga Skotlandia ini mewarisi resep Scottish Marmalade dari nenek moyang sang suami.

Produksi Scottish Marmalade ini dilakukan saat pandemi melanda.

Sebelumnya, wanita berusia 32 tahun ini tinggal di Bali.

Scottish Marmalade 1
Fani Listyana menunjukkan scottish marmalade buatannya yang memanfaatkan hasil kebun kelompok wanita tani (KWT) Tiara di Mangunan, Sleman.

Sejak dua tahun belakangan, ia telah menjalankan usaha Scottish Marmalade untuk di-supply ke vila dan resort di sana.

Namun, sejak pandemi, industri pariwisata di Bali terpuruk. Usaha Fani pun ikut terdampak.

Ia akhirnya mencoba peruntungan untuk pindah dan menjalankan usaha di DIY.

Sembari memastikan kondisi orang tuanya yang menetap di Yogyakarta.

Sekitar bulan Agustus 2020, Fani memberanikan diri menjalankan roda usaha Scottish Marmalade kembali di DIY.

Fani tak sendiri, ada rekannya Faida Zuhria (36) yang bekerja bersamanya.

Mereka memanfaatkan hasl kebun produk kelompok wanita tani (KWT) Tiara yang berlokasi di Mangunan, Sleman.

“Ini dibuat memang untuk support KWT, bukan semata karena bisnis,” ungkap Fani.

“Selain lemon lokal yang digunakan untuk bahan marmalade, kami berencana mengembangkan buah-buahan lain untuk produk unik lainnya,” tuturnya.

Dalam satu kali produksi Scottish Marmalade, membutuhkan bahan lemon lokal 1 kilogram dan jeruk sunkist 3 kilogram.

Hasilnya menjadi 40 wadah yang masing-masing berisi 350 gram.

“Kami menjual Rp60.000 untuk setiap 410 gram Scottish Marmalade. Bisa tahan 6 bulan hingga 1 tahun,” kata Fani.

Sebelum akhirnya diproduksi massal, Scottish Marmalade ini dibuat Fani hanya untuk konsumsi pribadi.

Saat beberapa teman mencoba Scottish Marmalade ini, mereka sangat senang dan menyarankan pada Fani untuk membuka bisnis.

Penggemar Scottish Marmalade di Bali juga sudah sangat banyak.

Terutama bagi para warga negara asing.

Saat dicoba pada konsumen di DIY, sambutan baik juga didapatkan.

“Jogja ini opportunity banget untuk produk yang unik. Sejauh kami melakukan riset, belum ada yang memproduksi Scottish Marmalade di DIY,” ungkapnya.

“Beberapa orang yang sudah mencoba tertarik. Katanya unik, mereka suka,” imbuhnya.

Cita rasa Scottish Marmalade memang berbeda dari sekadar selain jeruk.

Potongan-potongan kecil kulit jeruk di dalamnya memberi perpaduan rasa segar, manis, kecut, dan pahit sekaligus.

Jika tidak pandai mengolah Scottish Marmalade, rasa pahit dari kulit jeruk akan kentara.

“Di Skotlandia dahulu orang-orang hanya bisa menikmati buah-buahan di musim panas,” jelasnya.

“Untuk persediaan di musim dingin, mereka membuat Scottish Marmalade,” sambungnya.

“Kami sengaja homemade karena memang cita rasanya di situ. Kami mengutamakan kualitas bukan kuantitas,” imbuhnya.

Proses produksi dimulai dari memeras air jeruk dan mengiris kulitnya menjadi potongan=potongan kecil.

Lalu, direbus selama 2-3 jam. Ditambahkan pula gula pasir dan madu.

Proses keseluruhannya memakan kurang lebih 8 jam.

Scottish Marmalade ini cocok dikonsumsi bersama roti, susu, yoghurt, atau diseduh dengan air hangat.

Menurut Fani, mengonsumsi Scottish Marmale sangat cocok di kondisi pandemi.

Sebab kandungannya bisa menjadi penambah imunitas tubuh.

“Zaman sekarang orang lebih peduli kesahatan, untuk boosting. Apalagi kulit jeruk menurut penelitian sangat bagus untuk meningkatkan imunitas tubuh,” jelasnya.

Produk Scottish Marmalade ini dapat diperoleh melalui marketplace Shopee dengan nama toko Grannys Scottish Marmalade.

Dapat juga membeli langsung di dapur KWT Tiara, Mangunan, Sleman.

“Kami juga sudah mendapat PIRT,” kata Fani.

Sementara itu, Faida menambahkan, pihaknya saat ini fokus dalam pengembangan usaha Scottish Marmalade.

Namun, ke depan akan terus melakukan inovasi dan diverifikasi jeruk hasil kebun KWT Tiara lainnya.

Faida dan Fani akan melakukan riset agar Scottish Marmalade baik dikonsumsi untuk penderita diabetes dengan menggunakan alternatif pengganti gula pasir.

Mereka juga berencana membuat modifikasi Scottish Marmalade berbahan gula jawa dan rempah-rempah.

Selain itu juga akan dibuat minuman sehat air lemon dari produksi KWT Tiara.

“Stok lemon lokal sangat banyak kami akan buat botolan, bisa untuk dopping,” ucapnya.

“Pengembangan perempuan agar bisa mandiri, saling dukung satu sama lain itu yang ingin kami capai,” pungkasnya. (Tribun Jogja/Maruti Asmaul Husna)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved