Kuliner

Tiwul Cake Kekinian yang ‘Eye Catching’

Di tangan Shabira Dwi Fadhilah, tiwul diolah menjadi cake dengan tampilan yang eye catching alias memikat pandangan mata.

Editor: Amalia Nurul F
Tribun Jogja/Santo Ari
Shabira Dwi Fadhilah menunjukkan cake tiwul kekinian hasil kreasinya. 

TRIBUNTRAVEL.COMTiwul merupakan makanan khas dari Gunungkidul. Makanan ini berbahan dasar gaplek.

Gaplek merupakan olahan singkong yang telah dikupas dan digeringkan menjadi tepung singkong, kemudian diolah menjadi tiwul.

Awalnya yiwul merupakan makanan pokok warga Gunungkidul sebagai pengganti sebagai pengganti nasi saat beras langka di musim kemarau.

Namun, di tangan Shabira Dwi Fadhilah, tiwul diolah menjadi cake dengan tampilan yang eye catching alias memikat pandangan mata.

Berawal dari ia sering berkunjung ke rumah neneknya di Gunungkidul, Shabira ketagihan dengan cita rasa tiwul.

Ia selalu disuguhi tiwul yang sudah mulai langka keberadaannya ini.

“Rasa tiwul enak, tapi sayangnya tidak bisa tahan lebih dari satu hari suhu ruang,” ujar Shabira.

“Sementara belum banyak orang yang tahu tiwul, terutama orang-orang dari luar Jogja,” ungkapnya.

Karena kecintaanya terhadap tiwul, Shabira pun mulai bereksperimen untuk mengolah tiwul menjadi makanan yang lebih modern.

Ia memutuskan untuk berwirausaha dan mendirikan toko cake yang khusus mengolah tiwul menjadi tiwul yang kekinian dan eye catching.

Pada Mei 2018 lalu, berdirilah Jogja Regale, tempat tiwul naik kelas dan dikenal oleh semua kalangan, baik dari DIY maupun luar DIY.

Shabira menggandeng para pelaku UMKM yang ada di Gunungkidul untuk memenuhi kebutuhan bahan dasar yakni tepung gaplek.

“Kita kerja sama dan kita angkat jadi karyawan juga. Jadi kita tidak kesulitan mendapatkan bahan baku tepung gaplek,” terangnya.

Lanjutnya, cita rasa tiwul tidak hilang di dalam cake buatannya.

Tiwul yang lembut dikombinasikan dengan kerenyahan sugar dough.

Cake ini kemudian dikemas dengan berbagai varian rasa.

Di antaranya yakni rasa original, choco oreo, double cheese cream, taro blueberry, red velvet nougat, strawberry cheese, dan pandan greentea.

Varian rasa ini pun menjadi daya tarik sendiri agar anak muda mau mengenal dan bisa menikmati tiwul.

Sementara bagi para orang tua yang sudah familiar dengan tiwul, bisa menjadi obat rindu mereka dengan penganan tradisional ini.

“Kita menarik anak muda yang melupakan makanan tradisional, karena gempuran makanan dari luar negeri,” katanya.

Cake tiwul ini salah satu solusi mengenalkan makanan tradisional ke anak muda,” sambungnya.

“Tampilannya warna-warni, eye catching tapi citarasanya tetap terjamin,” imbuhnya.

Kini, cake tiwul ini telah kondang hingga luar DIY.

Di luar pandemi, saat hari biasa ia bisa menjual puluhan cake tiwul. Sementara di akhir pekan, ratusan cake tiwul keluar dari dapurnya.

Selain dari dalam DIY, pelanggannya berasal dari Jakarta, Surabaya, Malang, Bandung, Puwokerto, Magelang.

Penikmat cake tiwul ini masih berada di lingkup Pulau Jawa. Sebab, selama pengirimannya ia memanfaatkan jasa kereta api dan travel.

“Kalau tiwul hanya bisa tahan satu hari di suhu ruang, maka cake tiwul ini bisa tahan empat hari kalau di dalam suhu ruang,” ungkapnya.

“Kalau di lemari pendingin bisa (tahan) tujuh hari),” tambahnya.

Shabira membuka tokonya di Jalan Modang No. 467 MJ III Jogkaryan, Matrijeron, Kota Yogyakarta.

Selain itu, sejak awal berdirinya Jogja Regale, ia sudah menggencarkan pemasaran melalui website di www.jogjaregale.com dan Instagral @jogjaregale.

Karena telah mengenal pemasaran online, maka dalam masa pandemi ini pun dia tetap bisa produktif dan mengirimkan cake ke luar daerah.

Kini ia berharap semakin banyak orang mengenal tiwul dan menyukai makanan tradisional dari Gunungkidul ini.

“Supaya orang dari luar DIY enggak cuma tahu bakpia saja, di sini banyak oleh-oleh lain dan saya berusaha untuk mengangkat tiwul itu sendiri,” pungkasnya. (Tribun Jogja/Santo Ari)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved