Sport Tourism Jadi Peluang Wisata di Tengah Pandemi

Panduan wisata olahraga tengah disusun Kemenparekraf, jadi pondasi utama gelar sport tourism di tengah pandemi.

Editor: Amalia Nurul F
Tribun Jogja/Bramasto Adhy
Ilustrasi Paralayang - Wisatawan menikmati wisata paralayang dengan terbang di atas Pantai Parangtritis di bukit Parang Endog, Bantul. 

TRIBUNTRAVEL.COM – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) telah membuat panduan wisata olahraga (sport tourism).

Sport tourism ini digadang menjadi segmentasi dalam membangkitkan industri wisata di tengah pandemi.

Panduan tersebut fokus pada kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan kelestarian lingkungan (CHSE).

Hal ini akan menjadi patokan dalam menggelar sport event (acara olahraga).

Koordinator Pengembangan Wisata Buatan Kemenparekraf, Ni Komang Ayu menjelaskan, panduan CHSE pada sektor wisata olahraga tetap mengedepankan protokol kesehatan.

“Nantinya, peserta maupun penyelenggara acara harus memiliki surat bebas covid-19 yang masih berlaku,” ujarnya.

“Sebelum acara, protokol kesehatan harus dijalankan meliputi pemakaian masker, hand sanitizer, pengecekan suhu, dan pengaturan jarak jangan sampai terjadi kerumunan,” lanjutnya.

Sementara itu, lokasi digelarnya sport event juga dipastikan harus aman, atau termasuk wilayah zona hijau dengan tingkat penularan covid-19 tidak tinggi.

Saat ini, Kemenparekraf masih terus mengembangkan panduan CHSE untuk sektor wisata olahraga.

“Indonesia merupakan negara kedua setelah Thailand yang memiliki panduan wisata olahraga selain marathon. CHSE pun akan berlaku bagi event olahraga lain seperti paralayang, golf, hingga kegiatan diving (menyelam),” terangnya.

Kepala Dinas Pariwisata DIY, Singgih Raharjo menuturkan, pihaknya menyambut positif panduan wisata sektor olahraga ini.

“Tentunya, dengan adanya panduan CHSE pada sport event akan memudahkan para event organizer dalam menggelar acara olahraga,” ujarnya.

Ia pun melihat, tren wisata olahraga kini sangat dinikmati masyarakat selama pandemi.

Sport tourism ini kata dia, jadi peluang baru destinasi wisata di Yogyakarta.

“Selama ini kan destinasi yang ditawarkan di Yogyakarta lebih ke alam dan pemandangan,”katanya.

“Namun, selama pandemi ada perubahan polanya, masyarakat lebih menggandrungi kegiatan yang menyehatkan badan. Ini akan menjadi potensi wisata yang baru,” paparnya.

Ia menekankan, protokol kesehatan tetap harus menjadi acuan utama dalam menggelar kegiatan apapun selama pandemi berlangsung.

Dengan demikian, klaster baru di sektor wisata tidak akan terjadi.

“Tentunya dengan adanya panduan, harus diikuti dengan implementasi yang baik,” tuturnya.

“Sehingga, panduan tidak hanya berbentuk tekstual saja. Ketika aturan dipatuhi pastinya risiko terjadinya penularan akan lebih kecil,” tutupnya. (Tribun Jogja/Nanda Sagita Ginting)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved