Tempat Wisata di Magelang: Pesona Air Terjun Sumuran yang Menawan

Tempat wisata di Magelang, ada air terjun di Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, yang masih asri dengan pemandangan yang indah.

Editor: ribut_raharjo
Tribun Jogja/Rendika Ferri
BASUH - Seorang pengunjung membasuk muka di destinasi wisata Air Terjun Sumuran, Ngablak, Kabupaten Magelang 

TRIBUNJOGJATRAVEL.COM, MAGELANG - Tempat wisata di Magelang, ada air terjun di Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, yang masih asri dengan pemandangan yang indah.

Air terjun ini masih asri karena letaknya tersembunyi di kaki perbukitan dan rimbunnya pepohonan dan hutan di sana.

Airnya tak pernah surut meski kemarau. Sumbernya dari mata air, sehingga air segar dan jernih. Karena keindahannya itu, Sumuran ini menjadi destinasi rujukan bagi penyuka wisata alam dan olahraga tracking.

Lokasinya di Desa Seloprojo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang.

Jaraknya kurang lebih 30 kilometer atau satu jam perjalanan dari pusat Kota Magelang dengan menumpang kendaraan bermotor.

Rute jalannya naik turun, sehingga pengunjung harap berhati-hati saat berkendara.

Namun, lamanya perjalanan tidak akan terasa, karena sepanjang perjalanan disuguhi pemandangan alam, pegunungan, hutan pinus yang indah.

Sesampainya di tempat wisata, wisatawan bisa memarkirkan kendaraan di tempat parkir. Tempat parkirnya juga cukup luas.

Pengelola akan memeriksa suhu tubuh pengunjung dengan thermo gun.

Pengunjung juga wajib memakai masker dan mencuci tangan. Mereka membeli tiket masuk harga Rp4.000, sebelum memasuki objek wisata.

Perjalanan pertama dengan berjalan melalui jalan setapak dan jalan pematang sawah. Jarak air terjun dari tempat parkir sekitar 200 meter.

Kanan kiri, pepohonan rimbun, tak terkecuali pohon pinus yang banyak tumbuh di sana. Persiapkan fisik, karena rutenya agak menanjak.

Setelah sedikit menanjak dan jalan ke atas bukit, gemuruh air terdengar keras. Air terjun tersibak di antara dedaunan.

Undakan kecil turun ke bawah, melewati gazebo, dan papan tulisan Air Terjun Sumuran. Tampaklah secara utuh, keindahan air terjun yang masih asri itu.

Tinggi air sekitar 40 meter, melewati bebatuan yang sudah berlumut menunjam ke kolam. Ada tiga tingkatan kolam.

Kolam pertama, kedua, dan ketiga, air mengalir melalui pancuran yang berbentuk kepala naga menyerupai petirtaan yang ada di Bali.

Airnya berasal dari mata air langsung. Sehingga meskipun kemarau, air di air terjun ini tidak pernah surut dan dapat mengairi embung, sawah dan pertanian warga.

"Sepanjang tahun air terjun ini mengalir terus dan bisa dimanfaatkan warga Desa Seloprojo. Selain itu, di Pagergunung untuk pengisian embung. Air berasal dari sumber mata air. Jadi di sini, walaupun hujan deras atau bagaimanapun air terjun masih bersih, seperti semula,” kata Sunar, salah satu pengelola Air Terjun Sumuran saat ditemui di lokasi, Selasa (20/10).

Setelah puas menikmati air terjun, sekadar berswafoto maupun mandi di sana, wisatawan dapat beristirahat di gazebo-gazebo yang disediakan.

Ke belakang, pemandangan alam terbentang luas. Pengunjung bisa melihat Gunung Andong, Telomoyo, dan perbukitan di sana.

Petik sayur

Puas menikmati keindahan Air Terjun Sumuran, sembari kembali pulang, wisatawan juga bisa memetik sendiri sayuran dan membeli langsung kepada petani.

Sayurannya segar dan langsung dipetik dari ladang, sehingga menjadi oleh-oleh yang pas.

"Bukan hanya air terjunnya saja, tapi di kawasan ada tanaman palawija di sepanjang jalan ini. Siapa yang suka kan beli petik sendiri. Jadi senangnya pengunjung itu, setelah lihat di situ pulangnya buat oleh-oleh,” tutur Sunar.

Sementara itu, Kepala Bappeda dan Litbangda Kabupaten Magelang, Sugiyono mengatakan, destinasi wisata yang ada akan dilakukan penguatan, melalui kegiatan penguatan perencanaan pengembangan pariwisata di Kabupaten Magelang.

Metode yang dilakukan dengan dokumenter dan yang kedua observasi di lapangan, sehingga dapat tercapai target peningkatan kunjungan wisata dan lama tinggal wisatawan, baik Nusantara maupun mancanegara di Kabupaten Magelang.

“Untuk bisa mencapai dua hal itu, maka harus ada pengembangan pariwisata yang sifatnya adalah komprehensif, integratif, dan partisipatif," katanya. (Rendika Ferri)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved