Pameran

Pameran “Milenial Membaca Sastra Lama” Kenalkan Sejarah Sastra Indonesia

Bentara Budaya Yogyakarta pun mengajak generasi masa kini mengenal kembali buku-buku lama dalam Pameran bertajuk Milenial Membaca Sastra Lama.

Editor: Amalia Nurul F
Tribun Jogja/Yudha Kristiawan
Sejumlah cover buku yang dipamerkan di Bentara Budaya Yogyakarta dalam Pameran Cover Buku bertajuk Milenial Membaca Sastra Lama. Pameran berlangsung hingga Kamis 10 September 2020. 

TRIBUNTRAVEL.COMCover sebuah buku menjadi identitas sebuah buku dalam mengarungi zaman.

Sebuah buku bisa menjadi dikenal isi dan segala hal yang berkaitan dengan buku tersebut melalui covernya.

Cover sebuah buku bahkan menjadi sesuatu yang amat berharga baik dinilai dari segi nominal maupun asset.

Sebab, buku tersebut dianggap sangat langka.

Bentara Budaya Yogyakarta pun mengajak generasi masa kini mengenal kembali buku-buku lama yang memiliki kontribusi penting bagi perkembangan dunia sastra tanah air.

Pameran cover buku bertajuk Milenial Membaca Sastra Lama pun digelar di ruang pamer Bentara Budaya Yogyakarta hingga 10 September 2020.

Dalam pameran ini menghadirkan penampakan cover buku karya sastra lama yang sudah dikenal luas oleh para pecinta buku.

Sebut saja novel karya Merari Siregar berjudul Azab dan Sengsara, terbitan Balai Pustaka tahun 1920.

Ada pula novel Salah Asuhan karya Abdoel Moeis yang juga terbitan Balai Pustaka Jakarta tahun 1928.

Tak kalah menarik, cover novel kondang berjudul Siti Nurbaya karya M Rusli terbitan Balai Pustaka tahun 1922 juga hadir di pameran ini.

Pengelola Bentara Budaya Yogyakarta, Yunanto Sutyastomo menggambarkan sejarah sastra Indonesia ibarat air yang terus mengalir melampaui zaman.

Berganti era, berganti pula jenis karya sastra yang muncul dan diminati masyarakat.

“Sastra di Indonesia bisa dikatakan memasuki babak baru pada awal abad 20,” jelasnya.

“Ketika masih bernama Hindia Belanda kesusastraan di negeri ini mengalami perubahan dari sastra yang berkutat di tingkat tertentu menjadi sastra yang lebih modern, kalau bisa dikatakan sebagai bentuk modern dari kesusastraan kita,” terangnya.

Yunanto melanjutkan, kala itu pemerintahan Hindia Belanda melalui Penerbit Balai Pustaka menerbitkan berbagai karya sastra pilihan yang rata-rata berupa novel roman.

Novel-novel terbitan Balai Pustaka pun menjadi bacaan pilihan bagi masyarakat kala itu.

Bahkan sampai saat ini masih banyak yang membaca novel terbitan tahun 1920an.

Sekolah-sekolah juga masih menyediakan beberapa novel dari terbitan era Balai Pustaka, meski bacaan-bacaan baru selalu muncul dengan kemudahan teknologi.

Salah satu bagian penting dari era novel roman ini adalah perwajahan yang memiliki makna penting.

“Pandangan pertama saat bertemu buku adalah melihat wajahnya dulu, baru membaca isinya,” ungkapnya.

“Dan perwajahan sangat mempengaruhi kita untuk tertarik pada buku, hasrat untuk memiliki merupakan hal terakhir,” lanjutnya.

Ia menambahkan, perwajahan juga mengalami perkembangan dari waktu ke waktu.

Namun tak semua perkembangan memiliki nilai lebih dibandingkan terbitan sebelumnya.

Ketika menemukan wajah buku klasik pada terbitan awal Balai Pustaka, perwajahan yang ditampilkan seperti kunci yang membuka kisah yang seperti diduga.

Dan sebagian dari dugaan itu tidak pernah meleset, bahkan menjadi satu ingatan saat membacanya kembali di kemudian hari.

Hari ini, menurut Yunanto, akan kesulitan menemukan perwajahan yang sekilas menarik perhatian.

Ini menjadi sebuah tantangan bagi para penerbit buku.

Bentara Budaya Yogyakarta menawarkan pada kawan-kawan muda untuk ikut menafsirkan kembali perwajahan buku-buku roman klasik tadi.

Beragam karya kemudian dikirim, dan ditampilkan pada kegiatan kali ini.

“Masyarakat umum bisa menyaksikan karya kawan-kawan muda ini secara online. Hal ini menjadi pilihan kami disebabkan kondisi pandemi covid-19 yang belum mereda,” kata dia.

“Dari tampilan karya-karya tersebut, kita semua melihat berbagai perubahan yang disebabkan berbagai faktor. Dan rasanya berbagai faktor itulah yang menjadi hal menarik untuk direnungkan dan diperbincangkan,” pungkasnya. (Tribun Jogja/Yudha Kristiawan)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved