Destinasi

Pasar Kebon Empring di Bantul Kembali Menggeliat

Pasar Kebon Empring di Piyungan, Bantul kembali dibuka untuk pengunjung. Ada pembatasan pengunjung dan penerapan protokol kesehatan.

Editor: Amalia Nurul F
Tribun Jogja / Susilo Wahid
Suasana di Pasar Kebon Empring 

TRIBUNTRAVEL.COMPasar Kebon Empring kembali dibuka setelah sempat ditutup karena pandemi covid-19.

Pasar yang berada di Padukuhan Bintaran Wetan, Desa Srimulyo, Kecamatan Piyungan ini mulai ramai dikunjungi oleh wisatawan di masa adaptasi kebiasaan baru (AKB).

Protokol kesehatan pun diterapkan destinasi wisata alam tepi sungai ini.

Pengunjung wajib mencuci tangan dan memakai masker sebelum area wisata.

Selain itu, pengunjung juga diukur suhu tubuh dan harus mengisi buku tamu beserta nomor kontak yang dapat dihubungi.

Sejumlah tanda imbauan untuk mematuhi protokol kesehatan juga terpasang di dalam area wisata.

Beberapa tempat cuci tangan juga tersedia di sejumlah sudut.

Tempat duduk tampak diberi tanda silang agar pengunjung dapat saling menjaga jarak.

Pengelola Pasar Kebon Empring, Titik menjelaskan, wisata di bantaran Sungai Gawe ini telah uji coba beroperasi sejak 12 Juli 2020.

Jumlah pengunjung yang datang pun juga dibatasi.

Kebon Empring
Sejumlah wisatawan sedang bersantai, menikmati suasana di area wisata Pasar Kebon Empring, Padukuhan Bintaran Wetan, Srimulyo, Piyungan, Bantul

“Kami batasi pengunjung di area wisata hanya boleh 300 orang saja,” kata Titik belum lama ini.

Ketika area wisata tampak padat dan kuota terpenuhi, petugas yang berjaga di bagian depan akan menghentikan pengunjung yang hendak masuk.

Pengunjung akan diminta menunggu atau dialihkan untuk mengunjungi destinasi wisata lain di sekitar.

Kata Titik, pengelola akan kembali menerima pengunjung ketika area wisata sudah longgar.

“Jadi petugas yang jaga di depan, akan melihat buku tamu dan mencermati keluar masuknya wisatawan,” paparnya.

Meski tak seramai seperti saat sebelum pandemi, pengunjung Pasar Kebon Empring kini terbilang cukup ramai.

Pada akhir pekan atau hari libur, pengunjung mencapai 1.500 hingga 2.000 orang.

Seluruhnya diatur untuk masuk secara bergantian.

Sebelum pandemi, pengunjung menyentuh angka 4.000 hingga 5.000 orang.

Titik mengaku, meski tak seramai sebelumnya, ia bersyukur karena ekonomi kembali berjalan.

Hal ini karena konsep Pasar Kebon Empring adalah pemberdayaan masyarakat.

Mayoritas warga setempat berjualan di pasar ini.

Saat wisata terpaksa ditutup karena pandemi, ada kesedihan yang mendalam bagi warga.

“Hampir semua ibu-ibu di sini menangis. Kami menangis bareng,” kenang Titik.

Tanpa Plastik

Pasar Kebon Empring menyuguhkan nuansa alam yang asri, dengan rimbun pohon bambu tepian sungai.

Gemericik air sungai dan suara ayunan dahan dan daun bambu yang tertiup angin membuat suasana tenang.

Titik mengungkapkan, selama tutup karena pandemi, dilakukan penataan ulang tempat wisata.

Sejumlah gazebo dan tempat bersantai terus diperbanyak.

Sajian kuliner juga ditambah, dari 25 jenis menjadi 31 jenis menu utama.

Mulai dari sego wader, sego lele, sego welut, sego wiwit, sego mentel, geblek, hingga dawet batok, dan seruni.

Harga untuk kuliner tersebut juga terjangkau. “Mulai dari Rp3.000 sampai paling mahal Rp17.000,” katanya.

Istimewa, seluruh kuliner yang dijual disajikan hampir tak menggunakan plastik sekali pakai.

Aturan ini diterapkan untuk menjaga kelestarian lingkungan.

Titik menambahkan, Kebon Empring sebelum dikelola menjadi destinasi, dulunya adalah tempat yang banyak sampah, terutama sampah plastik.

“Kita benar-benar ingin mengurangi itu. Kita ingin alam di sini terawatt dengan baik, tanpa plastik,” ujarnya. (Tribun Jogja/Ahmad Syarifudin)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved