Destinasi

Pasar Kebon Empring di Bantul Kembali Menggeliat

Pasar Kebon Empring di Piyungan, Bantul kembali dibuka untuk pengunjung. Ada pembatasan pengunjung dan penerapan protokol kesehatan.

Editor: Amalia Nurul F
Tribun Jogja / Susilo Wahid
Suasana di Pasar Kebon Empring 

Hal ini karena konsep Pasar Kebon Empring adalah pemberdayaan masyarakat.

Mayoritas warga setempat berjualan di pasar ini.

Saat wisata terpaksa ditutup karena pandemi, ada kesedihan yang mendalam bagi warga.

“Hampir semua ibu-ibu di sini menangis. Kami menangis bareng,” kenang Titik.

Tanpa Plastik

Pasar Kebon Empring menyuguhkan nuansa alam yang asri, dengan rimbun pohon bambu tepian sungai.

Gemericik air sungai dan suara ayunan dahan dan daun bambu yang tertiup angin membuat suasana tenang.

Titik mengungkapkan, selama tutup karena pandemi, dilakukan penataan ulang tempat wisata.

Sejumlah gazebo dan tempat bersantai terus diperbanyak.

Sajian kuliner juga ditambah, dari 25 jenis menjadi 31 jenis menu utama.

Mulai dari sego wader, sego lele, sego welut, sego wiwit, sego mentel, geblek, hingga dawet batok, dan seruni.

Harga untuk kuliner tersebut juga terjangkau. “Mulai dari Rp3.000 sampai paling mahal Rp17.000,” katanya.

Istimewa, seluruh kuliner yang dijual disajikan hampir tak menggunakan plastik sekali pakai.

Aturan ini diterapkan untuk menjaga kelestarian lingkungan.

Titik menambahkan, Kebon Empring sebelum dikelola menjadi destinasi, dulunya adalah tempat yang banyak sampah, terutama sampah plastik.

“Kita benar-benar ingin mengurangi itu. Kita ingin alam di sini terawatt dengan baik, tanpa plastik,” ujarnya. (Tribun Jogja/Ahmad Syarifudin)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved