Batik

Buatan Warga Bantul, Pisau Batik Bisa Jadi Pilihan Souvenir Unik!

Pisau batik buatan Sudiman bisa jadi souvenir unik. Merambah pasar Malaysia hingga Prancis.

Editor: Amalia Nurul F
Tribun Jogja/Sri Cahyani Putri
Pisau batik logam buatan Sudiman. 

TRIBUNTRAVEL.COMBatik menjadi salah satu cinderamata atau souvenir khas dari Yogyakarta.

Motif batik ternyata tak hanya diaplikasikan pada pakaian atau kain.

Di tangan Sudiman, membatik ia lakukan pada pisau. Bukan pada batang pisaunya, tapi pada bilah logamnya.

Membuat pisau batik ini merupakan kegiatan yang diwariskan orang tua Sudiman.

“Orang tua saya sebelum tahun 1945 sudah membuat pisau tradisional atau pisau dapur, kemudian saya lanjutkan menjadi pisau modern yaitu pisau batik logam,” ujar Sudiman yang tinggal di Bantul, Yogyakarta, Sabtu (20/6/2020).

Sudiman sengaja menonjolkan motif batik pada bilah logam pisau bukan pada batangnya.

“Jadi betul-betul yan saya tonjolkan pada batik yang terdapat di logamnya, bukan pada tangkainya,” ungkapnya.

“Kalau yang dibatik tangkainya namanya pisau tangkai batik. Saya tidak mau dibilang itu karena kalau batik pada kayu itu lebih mudah daripada batik pada logam,” jelasnya.

Lanjutnya, bahan yang digunakan untuk membuat pisau batik logam yakni stainless steel karena full baja.

Selain itu, kata Sudiman, bahan ini tidak mudah berkarat.

Menurutnya keunggulan bahan ini tak akan mengecewakan konsumen meski harganya sedikit mahal.

“Harga Rp35.000 itu sudah lengkap dengan motif batiknya. Pemberian nama sesuai dengan permintaan konsumen,” kata dia.

Ada dua jenis pisau yang diproduksi Sudiman, yakni pisau carving dan pisau batik logam.

Pisau batik logam bikinan Sudiman tidak hanya dipasarkan di dalam negeri, tapi juga sudah merambah pasar luar negeri.

“Kalau pisau dapur dan carving di Indonesia sudah menyeluruh (pemasarannya). Setiap seminggu, 4 sampai 5 kali pengiriman ke Surabaya, Bali, Nusa Tenggara, dan Sumatera,” ungkapnya.

“Kalau di luar negeri sudah ke Prancis dan Malaysia. Kalau di Malaysia permintaan 1 bulan sekali, saya tidak sanggup, bisanya 3 bulan sekali,” sambungnya.

Ia mengaku permintaan dari Malaysia bisa mencapai antara 250 kodi hingga 300 kodi.

“Bukannya saya tidak sanggup untuk membuatnya dan membayar karyawan. Namun takut tidak depat waktu saat pengiriman,” terangnya.

Sudiman dibantu oleh 6 orang karyawannya dalam membuat pisau batik ini.

Dalam sehari, ia bisa membuat 50 lebih pisau batik. Sedangkan pisau carving masih terbatas produksinya.

“Pisau carving yang membuat hanya orang tertentu. Tidak semua karyawan bisa membuat karena rumit,” ujarnya.

Pembuatan pisau carving diakui Sudiman membutuhkan ketelitian dan kejelian tinggi.

“Hanya 1 atau 2 orang yang saya ijinkan. Karena kalau pisau carving salah membuatnya bisa fatal tidak bisa diubah. Jadi harus teliti dan jeli. Sedangkan pisau dapur jika salah pembuatan masih bisa diubah,” jelasnya.

Selain pisau, Sudiman mengaku pernah membuat pesanan samurai.

“Kemarin juga ada yang memesan samurai dengan panjang dua seperempat meter. Harganya mahal, sampai Rp2.500.000,” katanya. (Tribun Jogja/Sri Cahyani Putri)

Sumber: Tribun Jogja

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved