Malioboro

Paguyuban Kawasan Malioboro Upayakan Pengelolaan Sampah Lebih Efektif Melalui Bank Sampah

Paguyuban Kawasan Malioboro mewacanakan pengelolaan sampah di kawasan tersebut agar lebih efektif lewat bank sampah.

Tribun Jogja / Hasan Sakri Ghozali
Suasana Kawasan Malioboro di Jogja. 

TRIBUNTRAVEL.COM – Pengelolaan sampah di kawasan wisata Malioboro Yogyakarta hingga saat ini masih terus mendapat perhatian serius.

Tidak hanya oleh pemerintah daerah setempat namun juga pihak-pihak yang merasa ‘memiliki’ Malioboro.

Salah satunya Paguyuban Kawasan Malioboro yang belakangan ini mewacanakan pengelolaan sampah di kawasan tersebut agar lebih efektif.

Mereka, berencana bakal mengolah sampah di Malioboro secara mandiri dengan memanfaatkan bank sampah. 

Presidium Paguyuban Kawasan Malioboro, Sujarwo Putra mengatakan akan ada beberapa kelompok yang menjadi percontohan.

"Kami masih desain untuk bank sampah, nanti mau dimana saja. Akan ada kelompok percontohan,” kata Sujarwo belum lama ini.

Dengan sistem ini, para pedagang di Malioboro diharapkan bisa lebih mudah mempelajari cara memilah sampah secara lebih mudah tapi juga efektif

Dengan mengetahui jika sampah bisa dikelola dengan mudah dan efektif, maka pedagang dapat dengan mudah menduplikasi dari kelompok percontohan. 

Menurut Sujarwo, Paguyuban Kawasan Malioboro sebenarnya telah berupa untuk membatasi penggunaan plastik.

Hal itu agar tidak menambah jumlah sampah plastik sampah jenis ini sulit untuk terurai dan pengolahannya kompleks.

"Semua jenis sampah plastik termasuk sedotan terus kita kurangi. Dengan adanya bank sampah, semoga sampah yang masuk ke Piyungan yang benar-benar residu,"ujarnya.

Suasana di Malioboro
Suasana di Malioboro (Tribun Jogja / Hendra Krisdianto)

Sementara itu, Sekretaris Paguyuban Bank Sampah DIY, Erwan Widiarto sangat mengapresiasi keinginan pedagang Malioboro mengelola sampah.

Ia pun sangat mendukung, mengingat kondisi TPST Piyungan di Bantul yang sudah tidak mampu lagi menampung sampah.

"Komitmen mereka (PKL Malioboro) untuk mengelola sampah, ini harus kita apresiasi," katanya. 

Menurut Erwan, kita semua adalah produsen sampah, dimana produsen sampah harus mengelola sampahnya,

Termasuk para PKL yang juga memproduksi sampah sudah seharunya bertanggungjawab mengolah sampahnya.

Ia menambahkan, selama ini memang sudah ada pedagang Malioboro yang bergabung dengan bank sampah di Kota Yogyakarta, namun belum terorganisir dengan baik.

Dengan adanya bank sampah di Malioboro, pihaknya ingin agar sampah di Malioboro bisa dipilah dan bermanfaat bagi pedagang .

Pihaknya juga siap memberikan pelatihan-pelatihan, misalnya pelatihan ketrampilan membuat kerajinan dari sampah. 

Pelatihan ini juga untuk mengolah sampah dengan jenis organik maupun anorganik.

"Pelatihan organik misalnya membuat kompos dengan teknik ember berlapis lalu membuat pelet. Kalau anorganik bisa membuat bunga dari plastik, badut dari tutup botol, dan lain-lain," tambahnya. (Christi Mahatma)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved