Destinasi

Museum Sandi, Lorong Waktu Melihat Sejarah Persandian Indonesia di Masa Lampau

Meskipun kalah pamor, Museum Sandi memiliki banyak hal menarik berkaitan dengan sejarah kriptografi atau sandi tanah air.

Tribun Jogja / Susilo Wahid
Bangunan Museum Sandi di Kotabaru, Yogyakarta. 

TRIBUNTRAVEL.COM – Museum Sandi yang berada di Jogja mungkin kurang populer sebagai objek wisata edukasi.

Pamornya kalah dengan wisata edukasi lainnya, sebut saja Taman Pintar atau Monumen Jogja Kembali.

Tapi di Museum Sandi ini sebenarnya terdapat banyak hal menarik tentang kriptografi atau sandi.

Sekaligus, bisa menambah pengetahuan kita tentang sejarah perjuangan Indonesia.

Yang lebih membuatnya istimewa, museum ini adalah satu-satunya museum sandi di Indonesia bahkan di Asia.

Penasaran? Berikut ulasan Tribun Travel ketika beberapa waktu lalu datang ke Museum Sandi.

Koleksi benda bersejarah di Museum Sandi di Kotabaru, Yogyakarta.
Koleksi benda bersejarah di Museum Sandi di Kotabaru, Yogyakarta. (Tribun Jogja / Susilo Wahid)

Lokasi di Tengah Kota

Museum Sandi beralamat di Jl. Faridan M Noto No.21, Kotabaru, Kec. Gondokusuman, Kota Yogyakarta.

Akses menuju museum cukup mudah karena lokasinya berada di tengah Kota Yogyakarta.

Dari arah timur, kamu bisa melintas di Jl Solo lalu menuju Jl Jendral Sudirman.

Sebelum Jembatan Gondolayu arah Tugu Jogja, belok ke arah kiri melewati deretan ruko penjual ban dan velg mobil.

Museum Sandi berada di sudut simpang tiga di ujung deretan toko ban dan velg mobil tersebut.

Kurator Museum Sandi, Asnan Arifin mengatakan, dunia persandian tanah air memiliki sejarah yang panjang di era perjuangan.

Sedangkan beberapa bangunan di Kotabaru, Kota Jogja ini pernah menjadi markas sandi era lampau.

Dulu gedung pusat persandian pindah-pindah, bahkan sempat pindah ke Kulon Progo ketika situasi Jogja sedang tidak kondusif.

“Sekarang kantor sandi ada di Jakarta bernama badan siber dan sandi Negara,” kata Asnan.

Tak Ada Tiket Masuk

Masuk ke pintu utama museum, kamu akan disambut dengan petugas museum lalu diminta mengisi buku tamu.

Petugas museum biasanya akan mengantar setiap pengunjung untuk masuk ke setiap ruangan museum.

Para petugas inilah yang nantinya akan menjelaskan setiap detil koleksi dan sejarahnya.

Tak perlu mengeluarkan uang sepeserpun saat masuk museum karena tidak ada tiket masuk.

Beberapa kali rombongan pelajar datang ke museum ini untuk mengetahui sejarah dunia persandian tanah air.

“Kita sedang mempersiapkan program untuk tahun 2020 ini ada kegiatan tur ke tempat-tempat yang pernah menjadi kantor persandian tanah air. Ya di sekitar Kotabaru ini,” kata Asnan.

Koleksi benda bersejarah di Museum Sandi.
Koleksi benda bersejarah di Museum Sandi. (Tribun Jogja / Susilo Wahid)

Koleksi Tertata Rapih

Seluruh koleksi benda bersejarah yang berhubungan dengan dunia sandi tersimpan dengan rapih.

Keamanan benda bersejarah tersebut juga terjaga dengan baik karena disimpan dalam sebuah kaca.

Setidaknya ada delapan ruang dalam museum tersebut.

Masing-masing ruang, memiliki tema tersendiri dan diberikan penjelasan agar pengunjung memahami.

Misalnya ruang agresi militer I, berisi peta jaringan komunikasi sandi, buku kode, tas kode, dan sejarah persandian Indonesia.

Lalu Ruang Merdeka, berisi berbagai macam mesin sandi, telegraf dan replika radio PDRI.

Yang menarik, adalah ruang maket dukuh berisi replika rumah sandi yang punya nilai estetik.

Rumah inilah yang menjadi salah satu lokasi pusat penyandian di Dusun Dukuh, Desa Purwoharjo, Samigaluh, Kulonprogo.

Maket dukuh di Museum Sandi di Kotabaru, Yogyakarta.
Maket dukuh di Museum Sandi di Kotabaru, Yogyakarta. (Tribun Jogja / Susilo Wahid)

Koleksi Mampu Bawa Pengunjung Kembali ke Masa Lampau

Salah satu visual menarik di Museum Sandi adalah sebuah diorama yang menggambarkan awal mula pembentukan dinas kode pada 4 April 1946 di Yogyakarta.

Diorama menampilkan interaksi antara Menteri Pertahanan RI kala itu, Amir Syarifudin dan dr. Roebiono Kertopati, seorang dokter (media) di Kementrian Pertahanan Bagian B (Intelegen).

Kala itu, Amir Syarifudin meminta dr. Roebiono Kertopati yang juga merupakan dokter pribadi Presiden Soekarno untuk membentuk dan memimpin dinas Kode atau Kode Kamer (Nama Badan Persandian RI pertama).

Seakan diajak kembali ke masa lampau, pengunjung bisa dengan gamblang mendapat gambaran bagaimana dinas sandi terbentuk lewat diorama ini.

Diorama Amir Syarifudin dan dr. Roebiono Kertopati di Museum Sandi, Kotabaru, Yogyakarta.
Diorama Amir Syarifudin dan dr. Roebiono Kertopati di Museum Sandi, Kotabaru, Yogyakarta. (Tribun Jogja / Susilo Wahid)

Lalu ada buku sandi kode C dan B yang merupakan karya dr. Roebiono Kertopati juga menjadi masterpiece koleksi museum ini.

Buku berisi sekitar 10 ribu sandi ini diberi nama kode C, sedangkan tas berikut rangkuman buku tersebut yang berukuran lebih kecil disebut dengan buku kode B.

Sementara itu, di ruang Nusantara tersimpan koleksi mesin Sandi yang pernah dibuat oleh dr. Roebiono Kertopati.

Di antaranya ada Mesin Sandi SR 64, SR 70-b dan brangkas mesin sandi. Kode SR bermakna Sandi Roebiono.

"Di sini juga ada sepeda dari Kurir sandi bernama Sipon. Ia bertugas sebagai pengantar sandi kepada penerima sandi. Sipon akan membawa kembali sandi yang ia antarkan ketika penerima tidak ada ditempat," terang Asnan. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved