Destinasi

Museum Sandi, Lorong Waktu Melihat Sejarah Persandian Indonesia di Masa Lampau

Meskipun kalah pamor, Museum Sandi memiliki banyak hal menarik berkaitan dengan sejarah kriptografi atau sandi tanah air.

Tribun Jogja / Susilo Wahid
Bangunan Museum Sandi di Kotabaru, Yogyakarta. 

Tak perlu mengeluarkan uang sepeserpun saat masuk museum karena tidak ada tiket masuk.

Beberapa kali rombongan pelajar datang ke museum ini untuk mengetahui sejarah dunia persandian tanah air.

“Kita sedang mempersiapkan program untuk tahun 2020 ini ada kegiatan tur ke tempat-tempat yang pernah menjadi kantor persandian tanah air. Ya di sekitar Kotabaru ini,” kata Asnan.

Koleksi benda bersejarah di Museum Sandi.
Koleksi benda bersejarah di Museum Sandi. (Tribun Jogja / Susilo Wahid)

Koleksi Tertata Rapih

Seluruh koleksi benda bersejarah yang berhubungan dengan dunia sandi tersimpan dengan rapih.

Keamanan benda bersejarah tersebut juga terjaga dengan baik karena disimpan dalam sebuah kaca.

Setidaknya ada delapan ruang dalam museum tersebut.

Masing-masing ruang, memiliki tema tersendiri dan diberikan penjelasan agar pengunjung memahami.

Misalnya ruang agresi militer I, berisi peta jaringan komunikasi sandi, buku kode, tas kode, dan sejarah persandian Indonesia.

Lalu Ruang Merdeka, berisi berbagai macam mesin sandi, telegraf dan replika radio PDRI.

Yang menarik, adalah ruang maket dukuh berisi replika rumah sandi yang punya nilai estetik.

Rumah inilah yang menjadi salah satu lokasi pusat penyandian di Dusun Dukuh, Desa Purwoharjo, Samigaluh, Kulonprogo.

Maket dukuh di Museum Sandi di Kotabaru, Yogyakarta.
Maket dukuh di Museum Sandi di Kotabaru, Yogyakarta. (Tribun Jogja / Susilo Wahid)

Koleksi Mampu Bawa Pengunjung Kembali ke Masa Lampau

Salah satu visual menarik di Museum Sandi adalah sebuah diorama yang menggambarkan awal mula pembentukan dinas kode pada 4 April 1946 di Yogyakarta.

Diorama menampilkan interaksi antara Menteri Pertahanan RI kala itu, Amir Syarifudin dan dr. Roebiono Kertopati, seorang dokter (media) di Kementrian Pertahanan Bagian B (Intelegen).

Kala itu, Amir Syarifudin meminta dr. Roebiono Kertopati yang juga merupakan dokter pribadi Presiden Soekarno untuk membentuk dan memimpin dinas Kode atau Kode Kamer (Nama Badan Persandian RI pertama).

Seakan diajak kembali ke masa lampau, pengunjung bisa dengan gamblang mendapat gambaran bagaimana dinas sandi terbentuk lewat diorama ini.

Diorama Amir Syarifudin dan dr. Roebiono Kertopati di Museum Sandi, Kotabaru, Yogyakarta.
Diorama Amir Syarifudin dan dr. Roebiono Kertopati di Museum Sandi, Kotabaru, Yogyakarta. (Tribun Jogja / Susilo Wahid)

Lalu ada buku sandi kode C dan B yang merupakan karya dr. Roebiono Kertopati juga menjadi masterpiece koleksi museum ini.

Buku berisi sekitar 10 ribu sandi ini diberi nama kode C, sedangkan tas berikut rangkuman buku tersebut yang berukuran lebih kecil disebut dengan buku kode B.

Sementara itu, di ruang Nusantara tersimpan koleksi mesin Sandi yang pernah dibuat oleh dr. Roebiono Kertopati.

Di antaranya ada Mesin Sandi SR 64, SR 70-b dan brangkas mesin sandi. Kode SR bermakna Sandi Roebiono.

"Di sini juga ada sepeda dari Kurir sandi bernama Sipon. Ia bertugas sebagai pengantar sandi kepada penerima sandi. Sipon akan membawa kembali sandi yang ia antarkan ketika penerima tidak ada ditempat," terang Asnan. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved