Destinasi

Berkunjung ke Tembi Rumah Budaya Tempat Koleksi Pusaka dan Benda Bersejarah Disimpan

Satu lagi destinasi wisata di Jogja yang layak untuk kamu kunjungi saat akhir pekan atau musim liburan bernama Tembi Rumah Budaya.

Tribun Jogja / Yudha Kristiawan
Sejumlah koleksi benda bersejarah yang lazim digunakan masyarakat Yogyakarta tempo dulu di Tembi Rumah Budaya. 

TRIBUNTRAVEL.COM – Satu lagi destinasi wisata di Jogja yang layak untuk kamu kunjungi saat akhir pekan atau musim liburan.

Namanya Tembi Rumah Budaya, sebuah tempat yang menyajikan paket wisata lengkap yaitu kuliner dan sejarah sembari menikmati suasana pedesaan dengan hamparan sawah.

Lokasinya berada di Jalan Parangtritis Kilometer 8,4 Tembi, Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta.

Aksesnya sangat mudah dituju, karena sudah menjadi salah satu ikon wisata terkenal di Kabupaten Bantul.

Desain arsitektur bangunan di Tembi Rumah Budaya mengambil konsep rumah jawa kuno kaum berada zaman dulu.

Ciri ini bisa dilihat sejak pertama memasuki area Tembi Rumah Budaya.

Di bagian depan, pengunjung bisa melihat adanya gapura masuk dan keluar yang terbuat dari batu bata.

Di bagian pendapa depan ini pernah difungsikan sebagai tempat menggelar pertunjukan oleh tuan rumah.

Salah satu edukator Tembi Rumah Budaya yang siang itu menyambut kedatangan Tribun Jogja adalah Kaka.

Ia bertugas mendampingi pengunjung berkeliling area Rumah Budaya Tembi yang di dalamnya dilengkapi dengan museum.

Museum ini menyimpan koleksi beragam benda bersejarah, di antaranya, topeng dan berbagai senjata masa kerajaan.

Sejumlah koleksi benda bersejarah yang lazim digunakan masyarakat Yogyakarta tempo dulu di Tembi Rumah Budaya.
Sejumlah koleksi benda bersejarah yang lazim digunakan masyarakat Yogyakarta tempo dulu di Tembi Rumah Budaya. (Tribun Jogja / Yudha Kristiawan)

Di tempat ini, juga dipamerkan koleksi pustaka yang menampilkan buku-buku dan iklan lawas berumur puluhan hingga ratusan tahun. 

"Tembi Rumah Budaya menghadirkan pengalaman menarik bagi wisatawan. Bisa mengenal arsitektur bangunan rumah tinggal khas masyarakat Yogyakarta tempo dulu dan melihat langsung beragam benda bersejarah termasuk berbagai pusaka yang dulu digunakan pada masa kerajaan," terang Kaka.

Memasuki Tembi Rumah Budaya, bila menghendaki, pengunjung bakal mendapatkan penjelasan dari edukator museum.

Mulai dari gapura depan, penjelasan patung gupolo, gebyok, hingga ruangan yang ada di bangunan inti rumah jawa.

Salah satu hal yang menarik berkunjung ke Tembi Rumah Budaya adalah wisatawan bisa melihat beragam koleksi benda bersejarah yang diletakkan di tiap sudut rumah.

Sekaligus, mendapatkan pengetahuan bagian bagian rumah jawa lengkap, yang dulu hanya dimiliki mereka kaum berada atau bangsawan.

Kaka menjelaskan, untuk ruangan inti di bangunan utama rumah yang lazim disebut joglo ini ada tiga.

Pertama, ruangan atau disebut juga sentong yang ditempatkan di tengah difungsikan untuk menghormati Dewi Sri.

Ia adalah sosok yang dipercayai kala itu sebagai pembawa kesuburan untuk lahan pertanian.

Selanjutnya sentong tengen yang difungsikan sebagai kamar tidur orang tua, sementara sentong kiwo digunakan untuk menyimpan hasil bumi, seperti padi dan hasil pertanian palawija.

Letak tiga ruangan ini lazimnya sejajar.

Biasanya batas antara satu ruang dengan ruangan lain terbuat dari kayu. 

Sembari berkeliling mengenal bagian bagian rumah joglo, pengunjung bisa melihat langsung koleksi yang dipamerkan di museum Tembi.

Diantaranya berupa pusaka seperti keris, tombak dan senjata tradisional lainnya.

Sejumlah koleksi benda bersejarah yang lazim digunakan masyarakat Yogyakarta tempo dulu di Tembi Rumah Budaya.
Sejumlah koleksi benda bersejarah yang lazim digunakan masyarakat Yogyakarta tempo dulu di Tembi Rumah Budaya. (Tribun Jogja / Yudha Kristiawan)

Selain itu juga ada berbagai perkakas rumah tangga, beragam alat permainan anak anak zaman dulu, dokumentasi berbagai acara atau upacara adat tradisional Jawa hingga puluhan karya sastra. 

Pengunjung atau wisatawan benar benar diajak kembali memasuki lorong waktu sehingga bisa ikut merasakan atmosfer kehidupan masyarakat Jawa lampau. 

"Di sini juga ada koleksi pustaka, dan barang atau benda jadul seperti sepeda kayuh sepeda motor hingga beragam iklan lawas," kata Kaka.

Bisa Melihat Pembuatan Topeng dan Wayang 

Letak Tembi Rumah Budaya ini berada di desa tembi yang dulunya menjadi salah satu tempat para abdi dalem katemben yang memiliki tugas menyususi anak anak dan kerabat keraton.

Sebutan Tembi kemudian muncul lantaran aktivitas abdi dalem katemben tersebut.

Berkunjung ke Tembi Rumah Budaya yang didirikan oleh P. Suwantoro ini, pengunjung tak hanya bisa mendapatkan pengetahuan soal arsitektur joglo dan benda benda bersejarah saja.

Namun juga bisa menyaksikan langsung bagaimana aktivitas berkesenian zaman dulu yang masih lestari hingga saat ini.

Pengelola Tembi Rumah Budaya menyajikan aktivitas berkesenian seperti melukis, pembuatan topeng dan wayang.

Menurut jadwal yang selama ini sudah berjalan, untuk hari Selasa pengunjung bisa menyaksikan perajin topeng kayu membuat topeng. 

Sedangkan untuk hari Rabu pengunjung bisa melihat bagaimana seorang perupa melukis dan di hari Kamis proses pembuatan wayang bisa disaksikan secara langsung.

"Seperti slogan yang kami usung, bahwa masa lalu selalu aktual, ada benda benda yang tidak nampak dan juga koleksi yang tampak. Kedua benda ini kita hadiran untuk memperkaya wawasan ketika berkunjung ke sini," ungkap Kaka.

Sejumlah koleksi benda bersejarah yang lazim digunakan masyarakat Yogyakarta tempo dulu di Tembi Rumah Budaya.
Sejumlah koleksi benda bersejarah yang lazim digunakan masyarakat Yogyakarta tempo dulu di Tembi Rumah Budaya. (Tribun Jogja / Yudha Kristiawan)

Di Tembi Rumah Budaya, semua fasilitas untuk mereka yang ingin menikmati liburan dengan suasana pedesaan sudah disediakan.

Pengelola menyediakan beragam paket wisata yang terjangkau.

Mulai dari homestay yang masih berada di satu kawasan Tembi Rumah Budaya, hingga wisata kuliner yang menggoda.

Kuliner yang dihadirkan di sini memang unik.

Restoran Tembi Rumah Budaya menyajikan beragam menu khusus yang diadopsi dari serat Centhini, yakni menu yang konon merupakan menu utama Raja dan keluarga Kerajaan.

Di antaranya ada masakan berbahan baku daging burung pipit atau lazim dalam masyarakat Jawa disebut manuk emprit, olahan daging tupai hingga beragam minuman khas yang susah ditemui di tempat lain. (Yudha Kristiawan)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved