Destinasi

Kebun Bunga Amarilis di Gunung Kidul Kembali Bermekaran

Kebun bunga Amarilis yang terletak di Desa Salam, Kecamatan Patuk, Gunung Kidul pada awal bulan Desember 2019 ini kembali bermekaran.

Tribun Jogja / Wisang Seto Pangaribowo
Kebun bunga amarilis di Gunung Kidul kembali bermekaran. 

TRIBUNTRAVEL.COM – Kebun bunga Amarilis yang terletak di Desa Salam, Kecamatan Patuk, Gunung Kidul pada awal bulan Desember 2019 ini kembali bermekaran.

Praktis, banyak orang yang kemudian datang berkunjung ke kebun ini untuk sekedar mengobati rasa penasaran dan juga berburu foto.

Sayangnya, jumlah pengunjung kebun bunga amarilis tahun ini tak sebanyak tahun-tahun sebelumnya.

Hal ini karena bunga amarilis tidak mekar sebaik tahun sebelumnya.

Salah satu penyebabnya adalah curah hujan yang masih minim.

“Kunjungan tidak seramai tahun lalu, bisa mencapai ribuan orang tiap harinya. Tahun ini perhari hanya mencapai ratusan orang,” kata Pemilik kebun amarilis, Sukadi.

Sukadi menceritakan, amarilis awalnya dianggap tumbuhan gulma oleh warga sekitar.

Oleh karena itu, bunga amarilis banyak yang dibuang oleh masyarakat.

Hingga kemudian Sukadi bersama sang istri berinisiatif memunguti umbi-umbi bunga amarilis yang dibuang tersebut.

Sukadi bersama istri biasa menanam umbi amarilis saat subuh sebelum ia berangkat untuk bekerja sebagai penjual mainan dan sayuran.

Pada tahun 2003 ia mencoba menjual bibit bunga amarilis di pinggir jalan Jogja-Wonosari.

Pada saat itu dirinya dalam satu bulan hanya mendapatkan uang dari berjualan bibit amarilis sebesar Rp 125 ribu.

Perjuangannya menyelamatkan bunga amarilis tidak berhenti di sini, pada tahun 2013 ia membulatkan tekat untuk membeli bibit amarilis dari petani sampai berhasil mengumpulkan sebanyak 2 ton bibit.

“2014 itu mulai tumbuh lalu ditahun 2015 bisa mekar bersamaan dan banyak orang yang mengetahui melalui media sosial, awalnya saya hanya ingin menyelamatkan amarilis saja tidak dan saat menanam saat itu tidak menyiapkan jalur untuk wisatawan,” ujarnya.

Menurutnya Sukadi, pada tahun 1970 sebenarnya amarilis mudah ditemui hingga pelosok-pelosok desa di Gunung Kidul tetapi oleh petani dibabat habis.

Ia pun berandai-andai, jika amarilis tidak dibabat habis mungkin jumlahnya akan mencapai milyaran tanaman dan bisa menjadi ikon wisata.

"Jika sejak tahun 70an tidak dibasmi, mungkin ada milyaran bunga amarilis di sini, mungkin sudah menjadi destinasi wisata yang menarik," ucapnya. 

Saat ini untuk masuk ke kebun bunga amarilis ditarik Rp 10 ribu perorang,

Pengunjung juga bisa membeli bibit amarilis yang dihargai dari Rp 5 ribu sampai Rp 15 ribu. 

"Sebelum memutuskan harga Rp 10.000, saya survei ke pengunjung tahun 2018 lalu, ternyata tidak banyak yang keberatan dengan harga segitu," katanya.

Istri Sukadi Wartini menambahkan, diperkirakan bunga amarilis masih akan bertahan sekitar dua minggu namun menurutnya waktu yang tepat untuk wisatawan berkunjung adalah pada seminggu pertama.

“Paling bagus seminggu pertama untuk menikmati bunga amrailis ini,” imbuhnya. (Wisang Seto Pangaribowo)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved