Candi

Candi Selogriyo, Candi Indah di Kaki Gunung Sumbing Magelang

Di kaki Gunung Sumbing, Magelang, Jawa Tengah, berdiri sebuah candi kuno nan amat indah yang telah berusia ratusan tahun.

Tribun Jogja / Rendika Ferri Kurniawan
Keindahan Candi Selogriyo yang terletak di Dusun Campurejo, Desa Kembangkuning, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang. 

TRIBUNTRAVEL.COM - Siapa yang menyangka, di kaki Gunung Sumbing, Magelang, Jawa Tengah, berdiri sebuah candi kuno nan amat indah.

Candi telah berusia ratusan tahun dan tersembunyi di lereng bukit kecil, terlindungi rimbunnya pepohonan tinggi di antara Bukit Condong, Bukit Gili dan Gunung Giyanti.

Perjalanan mencapainya melewati rerimbunan pepohonan pinus dan hamparan sawah tadah hujan yang menghampar.

Keindahan Candi Selogriyo yang terletak di Dusun Campurejo, Desa Kembangkuning, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang.
Keindahan Candi Selogriyo yang terletak di Dusun Campurejo, Desa Kembangkuning, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang. (Tribun Jogja / Rendika Ferri Kurniawan)

Adalah Candi Selogriyo, Candi hindu yang diperkirakan peninggalan abad ke delapan masehi ini terletak di sebuah pelosok pedusunan di Magelang, tepatnya di Dusun Campurejo, Desa Kembangkuning, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang.

Candi berdiri di kaki bukit kecil yang berada di lereng Gunung Giyanti dan Gunung Sumbing, 600 meter di atas permukaan laut.

Mencapai lokasi candi menjadi tantangan yang mengasyikkan layaknya berpetualang dan menjelajah ke tempat baru.

Pertama memasuki loket wisata, ada jalan setapak yang dapat dilalui kendaraan bermotor atau juga dapat ditempuh dengan berjalan kaki.

Dari loket hingga gerbang wisata, perlu waktu sekitar 25 menit perjalanan berjalan kaki.

Sepanjang perjalanan dari loket menuju gerbang, hamparan sawah tadah hujan menghampar.

Sawah disusun berundak bak terasering, mengingatkan pada sawah terasering di Ubud, Bali.

Sementara di ujung utara, gunung Giyanti menyambut dengan gagahnya.

Kesejukan, udara yang dingin, dan angin yang sepoi begitu terasa, karena pepohonan yang rindang, tumbuh lebat di sepanjang perjalanan.

Sejenak perjalanan, tibalah di gerbang candi.

Gerbang candi merupakan bangunan baru yang dibuat pengelola, terbuat dari batu hitam dan diukir dengan gambar makara dan ornamen tanaman.

Gerbang ini menjadi titik awal dari 164 anak tangga yang harus dilewati sebelum sampai ke candi utama.

Tampak ada gazebo dan taman untuk beristirahat ketika capai menapaki tangga saat perjalanan.

Sepuluh tangga terakhir dan tampaklah bangunan Candi Selogriyo yang berdiri dengan gagah.

Tidak lupa mengisi buku tamu dan meminta izin penjaga di pos samping, lalu dapat leluasa berkeliling kompleks candi.

Satu candi utama dengan luas sekitar lima kali lima meter, dan tinggi sekitar sembilan meter berdiri pas di tengah kompleks yang memiliki luas 2.528 meter persegi.

Keindahan Candi Selogriyo yang terletak di Dusun Campurejo, Desa Kembangkuning, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang.
Keindahan Candi Selogriyo yang terletak di Dusun Campurejo, Desa Kembangkuning, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang. (Tribun Jogja / Rendika Ferri Kurniawan)

Candi Selogriyo secara harfiah diartikan sebagai rumah batu.

Rumah yang berarti griyo dalam bahasa Jawa, dan selo yang berarti batu.

Sumber informasi dari papan informasi menyebutkan bahwa, candi ditemukan pertama kali pada tahun 1835 oleh Hartman, Residen Magelang di era kolonial Belanda.

"Menurut cerita, dulu saat ditemukan, ada semacam gua, dengan lubang dan banyak kelelawar, gua itu tertutup rumput dan pohon,” tutur Juru Pelihara Candi Selogriyo, Joko Edi Mulyono.

“Sementara, batunya tidak kelihatan, sampai akhirnya ditemukan dan tersingkap seluruh badan candi,” lanjut Edi.

Keempat sisi candi memiliki relung yang berisikan arca.

Sisi utara terdapat arca Durga Mahisasuramardini.

Sisi barat terdapat arca Ganesa.

Selatan terdapat arca Rsi Agastya, dan timur terdapat dua arca di kanan dan kiri mengapit pintu masuk candi yakni, arca Nandishwara dan Mahakal.

Kepala arca sebagian besar telah hilang, menyisakan satu kepala arca yang juga tak utuh di sisi selatan.

Bagian dalam candi Hindu biasanya terdapat Lingga ataupun Yoni, tetapi di bagian dalam candi ini berupa ruangan kosong.

Bagian atap ada dua tingkatan dengan bagian paling atas berbentuk lingga.

Bebatuan candi lain dibariskan rapi di pelataran belakang candi.

Ada juga batu yang menyerupai arca yang belum selesai dipahat di samping pos jaga.

Berdasarkan sketsa yang digambar oleh Franz Wilhelm Junghuhn tahun 1840, ada tangga batu menuju candi, tetapi sekarang tangga batu tersebut tidak terlihat.

"Dulu di sketsa yang digambar tahun 1840, terdapat situs tangga yang naik menuju candi. Kanan dan kiri terdapat patung ataupun makara, tetapi sekarang sudah tak terlihat," tutur Edi.

Pemugaran sendiri pertama dilakukan pada tahun 1955-1957.

Pada tahun 1998, candi rusak tertimbun oleh longsor.

Longsor tersebut menerjang 80 persen bebatuan candi, membawa batu-batu candi bersama material longsor ke bawah.

Hingga pada tahun 2003-2005, batu-batu candi dikembalikan ke tempat semula.

Pada tahun 2014, bangunan candi diikat menggunakan sabuk di sekelilngnya kemudian menyusul ditemukan titik kemiringan.

"Rehabilitasi kembali dilakukan. Candi dipugar tahun 2018. Tahap pertama pemugaran total dan pemasangan ulang,” kata Edi.

Pemugaran dilanjutkan pada tahun 2019 hingga selesai pada 10 November 2019 lalu dan memakan waktu dua tahun.

Selepas pemugaran terakhir, pengembangan dilakukan di bagian candi.

Bagian taman ditanami bunga untuk mempercantik kompleks candi.

Ada juga dua buah lampu bertenaga surya dipasang pada tahun 2014 lalu.

Di sebelah bawah, gazebo dan taman bermain sedang dibangun.

Diminati Wisatawan Mancanegara

Pengunjung candi banyak dari mancanegara, ada juga wisatawan lokal yang datang berkunjung ke candi.

Selain sebagai situs bersejarah, Candi Selogriyo memang dijadikan obyek wisata, khususnya wisata alam.

Bagaimana tidak, pemandangan alam yang mengelilingi candi teramat indah.

Mulai dari sawah terasering pada awal perjalanan masuk, hingga hutan, bukit dan gunung yang masih hijau dan asri.

"Wisata candi Selogriyo berkarakter alam. Dari karakteristik pemandangan terasering, boleh dikatakan Ubud-nya Magelang,” ujar Miftahudin, Sekretaris Pengelola Wisata Candi Selogriyo.

Sedangkan di kanan dan kiri candi, ada bukit yang menghimpit, serta aliran sungai.

Di Candi Selogriyo juga mengalir sendang yang tak pernah kering meski kemarau.

Candi Selogriyo sendiri sudah sejak lama ada, tetapi pengelolaan wisata baru serius dijajaki pada tahun 2004 lalu.

Dinas Pariwisata dan kecamatan membentuk Kelompok Sadar Wisata yang bertugas mengelola wisata yang ada di Candi Selogriyo.

Sempat vakum beberapa tahun, tahun 2009 Pokdarwis berjalan lagi hingga sekarang.

Harga tiket masuk sendiri untuk domestik dipatok Rp 7 ribu per orang.

Untuk mancanegara dikenakan biaya Rp 25 ribu termasuk asuransi.

Berdasarkan data yang ada, dari bulan Januari hingga September 2019 jumlah total pengunjung sebanyak 4.158 orang terdiri turis domestik 3.102 dan turis mancanegara 1.056 orang.  

Wisatawan manca yang berkunjung di Candi Selogriyo dari Amerika Serikat, Perancis, Australia, Belanda, India, Jepang, Kanada dan negara lain.

Wisatawan domestik berasal dari kota-kota besar di Indonesia.

"Hari Sabtu atau Minggu, candi ramai didatangi wisatawan. Untuk bulan Juni dan Juli, Agustus, wisatawan mancanegara yang berduyun-duyun datang ke sini. Wisatawan asing memang suka dengan wisata dengan trekking dan pemandangan alam yang asri," ujarnya.

Semenjak dikelola masyarakat, pengembangan pun dilakukan di semua sisi.

Dari jalan dari loket menuju gerbang candi yang kini telah dilapis paving seluruhnya sampai gerbang candi, dan anak tangga menuju candi dibangun.

Spot swafoto yang ada di atas terasering, dan tulisan berukuran besar, Selogriyo yang dibangun di sisi bukit, membuat daya tarik tersendiri dari wisata candi.

"Kami berharap wisata Candi Selogriyo dapat terus berkembang, sehingga dapat membawa manfaat bagi masyarakat sekitar, begitu juga candi yang mesti terus dijaga kelestariannya," pungkas Miftah. (Rendika Ferri Kurniawan)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved