Candi

Candi Selogriyo, Candi Indah di Kaki Gunung Sumbing Magelang

Di kaki Gunung Sumbing, Magelang, Jawa Tengah, berdiri sebuah candi kuno nan amat indah yang telah berusia ratusan tahun.

Tribun Jogja / Rendika Ferri Kurniawan
Keindahan Candi Selogriyo yang terletak di Dusun Campurejo, Desa Kembangkuning, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang. 

Rumah yang berarti griyo dalam bahasa Jawa, dan selo yang berarti batu.

Sumber informasi dari papan informasi menyebutkan bahwa, candi ditemukan pertama kali pada tahun 1835 oleh Hartman, Residen Magelang di era kolonial Belanda.

"Menurut cerita, dulu saat ditemukan, ada semacam gua, dengan lubang dan banyak kelelawar, gua itu tertutup rumput dan pohon,” tutur Juru Pelihara Candi Selogriyo, Joko Edi Mulyono.

“Sementara, batunya tidak kelihatan, sampai akhirnya ditemukan dan tersingkap seluruh badan candi,” lanjut Edi.

Keempat sisi candi memiliki relung yang berisikan arca.

Sisi utara terdapat arca Durga Mahisasuramardini.

Sisi barat terdapat arca Ganesa.

Selatan terdapat arca Rsi Agastya, dan timur terdapat dua arca di kanan dan kiri mengapit pintu masuk candi yakni, arca Nandishwara dan Mahakal.

Kepala arca sebagian besar telah hilang, menyisakan satu kepala arca yang juga tak utuh di sisi selatan.

Bagian dalam candi Hindu biasanya terdapat Lingga ataupun Yoni, tetapi di bagian dalam candi ini berupa ruangan kosong.

Bagian atap ada dua tingkatan dengan bagian paling atas berbentuk lingga.

Bebatuan candi lain dibariskan rapi di pelataran belakang candi.

Ada juga batu yang menyerupai arca yang belum selesai dipahat di samping pos jaga.

Berdasarkan sketsa yang digambar oleh Franz Wilhelm Junghuhn tahun 1840, ada tangga batu menuju candi, tetapi sekarang tangga batu tersebut tidak terlihat.

"Dulu di sketsa yang digambar tahun 1840, terdapat situs tangga yang naik menuju candi. Kanan dan kiri terdapat patung ataupun makara, tetapi sekarang sudah tak terlihat," tutur Edi.

Pemugaran sendiri pertama dilakukan pada tahun 1955-1957.

Pada tahun 1998, candi rusak tertimbun oleh longsor.

Longsor tersebut menerjang 80 persen bebatuan candi, membawa batu-batu candi bersama material longsor ke bawah.

Hingga pada tahun 2003-2005, batu-batu candi dikembalikan ke tempat semula.

Pada tahun 2014, bangunan candi diikat menggunakan sabuk di sekelilngnya kemudian menyusul ditemukan titik kemiringan.

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved